Skip to main content
Back

Monthly Market Review Desember 2022

10 Januari 2023

Hanya untuk investor profesional PT Manulife Aset Manajemen Indonesia. Bukan untuk umum.

 

ULASAN MAKROEKONOMI

Makroekonomi Indonesia terus menunjukkan pemulihan. Laporan awal fiskal negara mencatat defisit 2.38% dari PDB, lebih rendah dari target 4.5%, sehingga Indonesia berhasil mencapai target menurunkan defisit <3% setahun lebih cepat dari ekspektasi. Penerimaan negara menguat didukung penerimaan pajak yang tumbuh 31% YoY, seiring dengan harga komoditas yang kuat dan pemulihan ekonomi. Namun belanja negara hanya naik 11% YoY, di mana anggaran Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) hanya terserap 87% dari target.

Inflasi Desember 2022 naik 0.66% MoM, karena kenaikan harga pangan dan tempat tinggal. Secara keseluruhan di 2022 terjadi inflasi 5.51% YoY, dan inflasi inti pada level 3.36% YoY. Inflasi 2022 lebih rendah dari ekspektasi karena harga pangan bergejolak turun ke level 5.6% di Desember dari puncaknya 11.5% di Juli 2022, didukung oleh subsidi negara untuk harga logistik. Kami memperkirakan inflasi turun di 2023 karena berkurangnya dampak dari kenaikan harga BBM dan perubahan PPN, dan berlanjutnya subsidi logistik serta harga pangan yang lebih stabil. Bank Indonesia menaikkan suku bunga 25bps di Desember, lebih rendah dari kenaikan 50bps di tiga bulan sebelumnya. 

Neraca perdagangan mencatat surplus USD5.2 miliar di November, sehingga surplus tahun berjalan mencapai USD50.6 miliar. Ekspor tumbuh 5.6% YoY di November (dari 12.3% di Oktober) karena turunnya harga dan volume ekspor migas dan batu bara. Di sisi lain impor turun -1.9% YoY karena penurunan -7.3% di impor migas, sementara impor barang modal tumbuh 7.3% di November dari 28.5% di bulan sebelumnya.



PASAR SAHAM

The Fed menaikkan Fed funds rate 50bps di Desember dan menekankan bahwa pengetatan moneter belum akan mereda dalam jangka pendek serta suku bunga dapat naik lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya karena inflasi yang persisten dan sektor tenaga kerja yang kuat. Pernyataan tersebut menjadi kejutan bagi pasar. IHSG melemah -3.26%, unggul dari pasar saham global yang turun -4.34%, namun kalah unggul dari MSCI Asia Pacific ex-Japan (-0.67%) dan MSCI Emerging Market (-1.64%). Sektor energi mencatat kinerja terbaik +9.66%, sementara sektor teknologi melemah terdalam -12.45%. Rupiah menguat +1.01% ditutup di IDR15,573 per USD.


Fed funds rate diperkirakan terus naik hingga mencapai titik puncaknya si paruh pertama 2023. Bank Indonesia diperkirakan turut ikut menaikkan suku bunga untuk menjaga daya tarik Rupiah dan aset finansial Indonesia. Suku bunga acuan Indonesia diperkirakan mencapai puncaknya di paruh pertama 2023. Pembukaan kembali ekonomi merupakan faktor suportif bagi pasar saham Indonesia. Setelah mencapai puncak suku bunga, kami memandang pasar dapat lebih stabil dan minat investor dapat pulih. Kami memandang eksposur pada Indonesia akan tetap positif dan optimis memandang potensi investasi jangka panjang di Indonesia..


PASAR OBLIGASI

Pasar obligasi melanjutkan penguatan, terlihat dari indeks acuan BINDO yang menguat +1.24% MoM dan +3.47% YTD. Imbal hasil obligasi tenor 10-tahun sempat turun dari 6.91% ke 6.84% di Desember sebelum kembali naik ke 6.92%, kontras dengan pergerakan US Treasury yang naik dari 3.61% ke 3.88%. Pasar AS yang bearish dipengaruhi oleh data ekonomi yang variatif, di mana terdapat sentimen positif dari inflasi yang melandai ke 7.10% YoY (konsensus: 7.30%) dan data ISM manufaktur yang mengalami kontraksi, diimbangi oleh data tenaga kerja yang kuat dan ISM jasa yang lebih baik dari ekspektasi. Walau demikian, imbal hasil UST berhasil menembus turun 3.50% ke posisi terendah di 3.42%. Pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell yang mengindikasikan besaran kenaikan suku bunga dapat lebih kecil dari sebelumnya menjadi sentimen positif yang mengangkat pasar. Kemudian, pernyataan China untuk melonggarkan kebijakan Covid zero juga menjadi sentimen positif bagi pasar. Namun, UST kembali naik ke 3.88%, walau tidak menembus 4.0%, karena naiknya kasus Covid China, data ekonomi AS yang variatif, dan inflasi Jepang yang naik ke level tertinggi dalam 30 tahun memaksa BoJ menaikkan suku bunga 25bps.

Di pasar domestik, pasokan obligasi tetap terjaga, karena target penerbitan 2022 telah mencapai target sehingga pemerintah membatalkan sisa lelang sukuk. Bank Indonesia (BI) menaikan suku bunga acuan 25bps ke 5.50% (konsensus: 5.50%) di tengah kondisi nilai tukar yang stabil dan inflasi yang terjaga. Tingkat inflasi lebih rendah dari ekspektasi pasar di 5.42% YoY (konsensus: 5.50%) dan inflasi inti di 3.30% YoY (konsensus: 3.42%). BI mengumumkan instrumen moneter baru untuk menarik devisa hasil ekspor tetap di pasar finansial domestik sehingga positif bagi nilai tukar. BI juga menyatakan akan mendukung pasar obligasi untuk menjaga daya tarik aset finansial Indonesia. 

Investor asing mencatat pembelian bersih IDR25.26 triliun di Desember, sehingaa kepemilikan asing naik menjadi 14.36% dari total obligasi yang diperdagangkan dari 14.27% di bulan sebelumnya. Namun perbankan komersial kembali turun IDR8.07 triliun sehingga kepemilikan turun menjadi 23.80%. Bank Indonesia meningkatkan kepemilikan secara signifikan sebesar IDR128.49 triliun sehingga kepemilikan naik menjadi 27.38% dari sebelumnya 25.67%. Asuransi dan dana pensiun mencatat pembelian bersih di Desember, namun kepemilikannya turun menjadi 16.44% dari 16.86%. Reksadana membukukan penjualan besih IDR1.17 triliun dan kepemilikan turun menjadi 2.75%. Individu dan investor lain mencatat penjualan bersih sehingga kepemilikan turun menjadi 15.27% dari 15.71%.  

Kurva imbal hasil membentuk pola bullish steepening di Desember, dengan tenor 2-tahun memimpin penurunan imbal hasil sebesar 34bps. Tenor pendek lain, 5-tahun juga turun 17bps. Obligasi tenor menengah, 10-tahun naik 1bps,sementara tenor 15-tahun turun 8bps. Obligasi tenor panjang bergerak variatif di mana tenor 20-tahun naik 2bps, sementara tenor 30-tahun turun 6bps.

 

Unduh Dokumen



  • Investment note: Tensi geopolitik Timur Tengah terkini

    Baca selengkapnya
  • IDB: Eskalasi konflik geopolitik & data ekonomi AS yang kuat membayangi pasar finansial global

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
  • IDB: Kekhawatiran suku bunga & konflik geopolitik membayangi pasar saham global

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
Lihat semua
Confirm