Skip to main content
Back

Monthly Market Review Agustus 2023

8 September 2023

Hanya untuk investor profesional PT Manulife Aset Manajemen Indonesia. Bukan untuk umum.

 

ULASAN MAKROEKONOMI

 

Indikator makro Indonesia masih terus menunjukkan pemulihan. Tingkat inflasi umum tercatat sebesar 3.27% YoY, naik dari 3.08% di bulan Juli, namun turun -0.02% secara bulanan. Inflasi pangan meningkat jadi 3.5% YoY dari bulan sebelumnya 1.9%, kemungkinan karena terdampak El Nino. Inflasi inti turun lebih besar dari perkiraan ke 2.18% YoY dibandingkan bulan Juli 2.43%, seiring inflasi pendidikan yang naik lebih kecil dari perkiraan. Kami melihat inflasi umum akan turun secara signifikan di bulan September akibat pudarnya dampak kenaikan harga BBM bersubsidi di bulan September 2022 lalu. 

 

Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan selama 7 bulan berturut-turut setelah kenaikan terakhir. Seiring fokus pada stabilitas Rupiah, Bank Indonesia mengimplementasikan inisiatif untuk mewajibkan eksportir menempatkan dana hasil ekspor ke dalam sistem keuangan domestik. Setelah beberapa bulan inisiatif ini diluncurkan, jumlah penempatan di deposito valas atas hasil ekspor ini terus menunjukkan perkembangan baik. Hasil lelang menunjukkan peningkatan, di mana lelang terakhir di bulan Agustus kemarin menghasilkan USD191.5 juta, dibandingkan lelang pekan terakhir Juli yang hanya menyerap dana sebesar USD15.5 juta. Jumlah eksportir yang berpartisipasi pun meningkat dua kali lipat dari 34 menjadi 68. 

 

Lonjakan imbal hasil UST dan gagal bayarnya pengembang properti besar di China membuat pasar global melemah. Di lain pihak, data pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat yang tercatat lebih rendah membuat spekulasi bahwa siklus kenaikan suku bunga The Fed sudah mendekati akhir. Kondisi ini berdampak baik pada pasar Amerika Serikat, memperkecil penurunan kinerja banyak pasar saham kawasan lainnya.

 

PASAR SAHAM

IHSG naik +0.32% mengungguli pasar global dan kawasan (MSCI World -255%, MSCI ApxJ -6.37%). Setelah arus masuk di bulan sebelumnya, di bulan Agustus investor asing mencatatkan arus keluar sebesar USD1.3 miliar. Secara sektor, material dasar (+9.81%) dan infrastruktur (+6.24%) menjadi yang terunggul, sementara teknologi (-5.81%) serta transportasi & logistik (-4.02%) adalah yang paling terpuruk. 

 

Fundamental Indonesia yang kuat (seperti posisi fiskal, nilai tukar dan inflasi yang terjaga, pertumbuhan PDB yang stabil, serta rasio utang yang sehat), dan suku bunga acuan The Fed yang sudah mendekati puncak, serta pemulihan China yang tidak sesuai harapan diperkirakan dapat menopang selera investor asing untuk memilih Indonesia. Pasar saham Indonesia diperdagangkan pada valuasi yang atraktif, lebih rendah dari rata-rata 10 tahun terakhir. Kami terus percaya bahwa perekonomian Indonesia akan tetap positif dan juga tetap optimis akan daya tarik investasi jangka panjang Indonesia.

 

​PASAR OBLIGASI​

Pasar Volatilitas pasar obligasi meningkat di Agustus dengan imbal hasil obligasi 10Y sempat naik ke 6.67% dari posisi awal bulan di 6.23%, dipengaruhi oleh lonjakan imbal hasil US Treasury ke 4.35%. Obligasi 10Y Indonesia tutup di 6.38% di akhir bulan seiring dengan imbal hasil UST 10Y yang turun ke 4.11%. Indeks BINDO mencatat kinerja -0.16% MoM di Agustus, dan secara tahun berjalan +7.26%. Volatilitas UST disebabkan oleh sikap The Fed dari konferensi Jackson Hole yang membuka potensi kenaikan suku bunga lebih lanjut dan tingkat suku bunga tinggi dapat bertahan lebih lama. Selain itu melonjaknya imbal hasil UST juga dipicu oleh turunnya permintaan di lelang UST. Berlawanan dengan kondisi di AS, imbal hasil obligasi di negara maju lain terutama di Eurozone justru turun, seiring dengan inflasi Eurozone yang menyentuh level terendah sejak Januari 2022. Fitch Ratings menurunkan peringkat kredit AS dari AAA ke AA+, karena menurunnya tata Kelola pemerintahan dan konflik berkelanjutan terkait pagu utang. Namun tidak terdapat dampak ke pasar dari penurunan peringkat kredit tersebut.

 

Di pasar domestik, Bank Indonesia mempertahankan tingkat suku bunga acuan di bulan Agustus sesuai dengan ekspektasi pasar. Ini merupakan pertemuan tujuh bulan berturut-turut di mana BI tidak mengubah tingkat suku bunga. BI memandang tingkat suku bunga saat ini memadai untuk menjaga inflasi dalam targetnya untuk tahun ini dan tahun depan. Suku bunga acuan, 7DRR, tidak berubah di 5.75% sejak Januari 2023. Tingkat bunga fasilitas deposit dan pinjaman harian juga dipertahankan masing-masing di 5.00% dan 6.50%. BI menyatakan akan meluncurkan instrumen baru yaitu Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan mengakhiri operation twist. SRBI diharapkan dapat menarik investasi asing dan mendukung stabilitas IDR di tengah penguatan USD.

 

Investor asing mencatat penjualan bersih IDR8.89 triliun di Agustus, sehingga kepemilikan asing di obligasi Indonesia turun menjadi 15.37% dari 15.56% di bulan sebelumnya. Bank Indonesia terus mengurangi kepemilikan sebesar IDR9.45 triliun (lebih rendah dari bulan lalu), sehingga kepemilikan turun menjadi 24.72% dari sebelumnya 24.93%. Perbankan kembali mencatat jual bersih sebesar IDR7.34 triliun sehingga kepemilikan turun menjadi 22.51%. Investor individu dan lainnya merupakan pembeli terbesar, dengan kepemilikan naik menjadi 16.20% dari sebelumnya 15.91%. Asuransi dan dana pensiun terus menjadi pembeli, sehingga kepemilikan naik menjadi 17.92% dari sebelumnya 17.67%. Reksa dana juga mencatat beli bersih IDR1.71 triliun dengan kepemilikan naik menjadi 3.28%.

 

Kurva imbal hasil bergerak dalam pola bearish flattening, di mana tenor pendek – 2Y dan 5Y – naik tertinggi, masing-masing 28bps dan 23bps. Tenor menengah-panjang 10Y, 15Y, 20Y masing-masing naik 15bps, 8bps, dan 16bps. Sementara itu tenor panjang mencatat kinerja terbaik, hanya naik 4bps karena likuiditas yang terbatas dan tidak banyak transaksi pada tenor tersebut.

 

 

Unduh Dokumen



  • IDB: Fed memberi sinyal penundaan penurunan suku bunga

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
  • Investment note: Tensi geopolitik Timur Tengah terkini

    Baca selengkapnya
  • IDB: Eskalasi konflik geopolitik & data ekonomi AS yang kuat membayangi pasar finansial global

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
Lihat semua

Waspada modus penipuan mengatasnamakan MAMI. Selengkapnya

View more

Waspada modus penipuan mengatasnamakan MAMI. Selengkapnya

View more
Confirm