Skip to main content
Back

Menerapkan perspektif ESG pada analisis makroekonomi – Titik awal (bagian 1)

17 Agustus, 2021

Frances Donald, Global Chief Economist & Head of Macro Strategy

Faktor-faktor environmental, social dan governance (ESG) memainkan peranan yang semakin penting dalam perumusan pandangan (outlook) investasi – menerapkan perspektif keberlanjutan pada setiap elemen analisis makroekonomi saat ini, dalam pandangan kami, merupakan misi yang sangat penting.

 

Poin penting

  • Mengintegrasikan faktor ESG ke dalam analisis makroekonomi membantu investor untuk memahami bagaimana isu-isu pelestarian lingkungan dapat memengaruhi cara pasar keuangan merespons perkembangan ekonomi tradisional dan titik-titik data.
  • Upaya-upaya untuk memitigasi dampak perubahan iklim telah memberikan dampak yang nyata terhadap prospek pertumbuhan global, setidaknya dalam satu hal mendasar: Bagaimana bank-bank sentral menilai risiko transisi, yang secara bertahap akan menginformasikan pendekatan mereka terhadap kebijakan moneter.
  • Dalam pandangan kami, mengintegrasikan faktor ESG ke dalam analisis makroekonomi bukanlah pilihan tapi sebuah kewajiban, dan ketidakmampuan untuk melakukannya dapat berisiko membuat keputusan investasi yang salah.

 


Mengembangkan topik ESG
 

Berinvestasi di sektor yang berbasis lingkungan, sosial, dan tata kelola atau yang lazim disebut ESG sering kali dianggap sebagai pendekatan investasi dari bawah ke atas (bottom-up), dengan fokus pada pemilihan perusahaan yang tepat dan mencapai profil risiko atau imbal hasil ESG yang dapat diterima untuk portofolio secara keseluruhan. Hal ini juga terkait erat dengan peluang dalam infrastruktur, teknologi, atau inisiatif penting di masa depan yang akan mempercepat transisi dunia menuju masa depan yang lebih bersih, lebih berkelanjutan, dan lebih adil. Namun dalam pandangan kami, saat ini ada kebutuhan mendesak untuk mengembangkan topik ini lebih jauh dan memperluas wacana dengan memasukkan perdebatan tentang cara terbaik untuk memasukkan faktor ESG ke dalam analisis ekonomi makro.
 

Tentunya, hal ini melibatkan lebih dari sekadar menyesuaikan atau mengutak-atik perkiraan pertumbuhan jangka panjang dan inflasi. Hal ini adalah tentang melihat peristiwa makro melalui perspektif ESG secara konsisten, yang memungkinkan investor untuk lebih memahami bagaimana isu-isu keberlanjutan dapat mengubah cara pasar merespons perkembangan ekonomi tradisional dan titik-titik data. Dalam pandangan kami, masa depan investasi makro terkait dengan kemampuan industri untuk menemukan cara-cara mengintegrasikan faktor ESG ke dalam analisis ekonomi makro. Jika tidak, maka kita akan menghadapi risiko yang sangat nyata, yaitu membuat keputusan investasi yang keliru – baik secara taktis maupun strategis.

 

Proses yang tidak terlalu mudah
 

Menerapkan perspektif ESG pada pandangan makro tidak selalu mudah. Tentu saja, ada cara-cara yang dapat diukur untuk mengintegrasikan pergeseran narasi seperti pajak karbon dan pengeluaran pemerintah untuk infrastruktur hijau, yang telah diumumkan ke dalam prakiraan ekonomi makro melalui pemodelan, tetapi penilaian kualitatif juga sama pentingnya – Mampu mengalibrasi perspektif bank-bank sentral global yang terus berkembang tentang bagaimana risiko lingkungan dan sosial dapat memengaruhi keputusan dan cara pikir mereka tentang pertumbuhan akan menghasilkan perbedaan yang signifikan terhadap perekonomian.
 

Apalagi dorongan untuk memasukkan faktor ESG dan analisis ekonomi makro masih berada pada tahap perkembangan yang baru saja dimulai. Kita masih berada di awal perjalanan, dan seiring dengan semakin canggihnya data, kebijakan, dan teknologi yang tersedia, maka semakin canggih pula kemampuan kita untuk menanamkan faktor tersebut ke dalam pandangan kita.
 

Dalam konteks ini, kami menyoroti tiga cara faktor ESG telah mengubah perspektif makro kami dan tiga tema makro yang semakin sering kami lihat melalui perspektif ESG.
 

Perubahan iklim dan proses prediksinya
Perubahan iklim mengubah cara kita menilai perekonomian global

 

Sumber: Manulife Investment Management, 1 Juli 2021.

1 Dampak perubahan iklim berbeda dari satu wilayah ke wilayah lain
 

The Paris Agreement memiliki tujuan untuk membatasi pemanasan global hingga 2˚C relatif terhadap tingkat pra-industri¹; oleh karena itu, banyak peramal ekonomi, termasuk kami, telah memasukkan kenaikan suhu global sebesar 2˚ pada tahun 2050 ke dalam model kami.² Hal ini memungkinkan kami untuk membuat skenario yang menggabungkan berbagai tingkat intensitas karbon dan perubahan suhu global yang kemudian menjadi bagian dari prakiraan ekonomi kami. Secara garis besar, kegiatan ini memungkinkan kami untuk mengamati hubungan non linier antara produktivitas dan perubahan suhu global. Sebagai contoh, kami telah mempelajari bahwa wilayah yang lebih dingin seperti Eropa dan Amerika Utara cenderung mengalami peningkatan produktivitas, yang sebagian besar disebabkan oleh peningkatan produktivitas pertanian dan aktivitas konstruksi, sementara hal sebaliknya cenderung terjadi di wilayah yang lebih hangat seperti Amerika Latin dan Asia.

 

2 Meningkatnya frekuensi dan tingkat keparahan cuaca ekstrem
 

Peningkatan frekuensi dan tingkat keparahan cuaca ekstrem juga dapat menimbulkan tantangan yang sedikit berbeda dalam proses prakiraan yang biasanya tidak dihadapi oleh para ekonom: Meskipun kita dapat mengukur perubahan cuaca yang diperkirakan akan terjadi secara bertahap, akan jauh lebih sulit untuk menangkap peristiwa cuaca ekstrem seperti topan, gempa bumi, dan kekeringan – peristiwa-peristiwa yang dapat meningkatkan risiko pasar, kredit, dan likuiditas serta menimbulkan potensi gangguan rantai pasokan dan juga guncangan dari sisi permintaan. Risiko-risiko terkait iklim ini juga secara luas diperkirakan akan mendorong pola imigrasi dan menciptakan aset-aset yang terlantar. Dalam pandangan kami, peningkatan frekuensi dan tingkat keparahan peristiwa cuaca mengharuskan penerapan confidence band yang lebih luas di sekitar perkiraan ekonomi dasar.

 

3 Risiko transisi
 

Transisi menuju masa depan yang ramah lingkungan juga berkemungkinan besar akan menciptakan bentuk-bentuk risiko baru pada pandangan kasus dasar kita, baik yang positif maupun negatif. Misalnya, penurunan harga energi bersih-sebagai hasil dari kemajuan teknologi-dapat menyebabkan penurunan permintaan bahan bakar fosil, sebuah perkembangan yang dapat memengaruhi kesehatan keuangan perusahaan energi tradisional serta bank dan perusahaan asuransi yang menanggung pinjaman untuk perusahaan-perusahaan ini. Dari perspektif makroekonomi, kejadian seperti ini dapat berimplikasi pada produktivitas, capital expenditure, dan arah aliran investasi. Bisa dibilang, roda-roda sudah mulai berputar: Biaya produksi tenaga surya dan energi angin terus menurun, sementara terobosan dalam teknologi penangkapan dan penyerapan karbon dapat menandai perubahan penting di masa depan.³ Penting juga untuk mempertimbangkan risiko transisi yang terkait dengan perubahan kebijakan publik. Perlu diingat bahwa keputusan-keputusan kebijakan ini dapat memberikan dampak langsung terhadap pertumbuhan dan harus dimasukkan ke dalam analisis makro juga; misalnya, pendapatan resmi yang diperoleh dari inisiatif-inisiatif ini yang mengalir kembali ke dalam perekonomian melalui upah dan investasi modal yang terkait.
 

Perlu diketahui bahwa beberapa risiko transisi akan terus masuk ke dalam kategori hal yang diketahui namun tidak diketahui seluruh informasinya – perubahan dalam sentimen sektor swasta dan preferensi konsumen atau munculnya model bisnis yang mengganggu, yang mengancam norma-norma industri yang telah lama dipegang. Artinya, para analis makro perlu memperhatikan perubahan sentimen dan teknologi. Kebetulan, sifat dasar dari hal-hal yang tidak diketahui menyiratkan bahwa diperlukan rentang kepercayaan yang lebih besar di sekitar perkiraan kasus dasar, terutama yang memiliki jangka waktu lebih panjang.
 

Akan tetapi penting untuk dicatat bahwa tiga area yang kami tekankan tidak lebih dari sekadar titik awal – daftarnya masih panjang dan akan terus bertambah. Seiring dengan semakin canggihnya industri ini dalam menangkap dan mengukur faktor keberlanjutan, kita semua akan menjadi lebih baik dalam memasukkan isu-isu seperti banjir di pesisir, kelangkaan air, dan migrasi ke dalam analisis kita.

 

Referensi

 

1 The Paris Agreement | UNFCCC

2 The assumption that global temperature will rise by 2C by 2050 reflects the mitigation policies that have already been announced but does not take into account additional mitigation policies.

3 Renewable Power Generation Costs in 2020 (irena.org)

 


 

  • Investment note: Tensi geopolitik Timur Tengah terkini

    Baca selengkapnya
  • IDB: Eskalasi konflik geopolitik & data ekonomi AS yang kuat membayangi pasar finansial global

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
  • IDB: Kekhawatiran suku bunga & konflik geopolitik membayangi pasar saham global

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
Lihat semua
Confirm