Skip to main content
Back

Melampaui pandangan “Jeda” hawkish The Fed: Tiga elemen makro untuk dipertimbangkan

23 Juni, 2023

 

Frances Donald, Global Chief Economist and Strategist, Tim Multi-Asset Solutions

 

U.S Federal Reserve memutuskan untuk menahan besaran suku bunga pada rapat mereka di bulan Juni ini. Base case kami adalah The Fed memang akan menaikkan suku bunga pada bulan Juli, dengan kemungkinan mereka akan kembali menahan suku bunga pada rapat berikutnya karena adanya penurunan inflasi dan data ketenagakerjaan. Frances Donald, Global Chief Economist and Strategist, tim Multi-Asset Solutions, akan membahas tiga implikasi utama di dalam market note kali ini.

 

 

Setelah dengan agresif menaikkan suku bunga hingga mencapai besaran kumulatif 500 basis poin (bps) sejak Maret tahun lalu, U.S Federal Reserve (The Fed) memutuskan untuk menahan suku bunga mereka di level 5,2% pada rapat di bulan Juni ini. Pernyataan yang menyertainya menyebutkan bahwa tindakan tersebut diambil agar Federal Open Market Committee (FOMC) memiliki kesempatan untuk mengumpulkan “Lebih banyak informasi” untuk memutuskan apakah perlu dilakukan tambahan pengetatan moneter. Meski begitu, para anggota FOMC juga memberikan sinyal mengenai keinginan mereka untuk menaikkan suku bunga dua kali lagi hingga akhir tahun ini. Secara keseluruhan, pesan mendasar yang ingin disampaikan melalui keputusan ini pada intinya dapat disimpulkan sebagai: “Lebih baik, namun lebih tinggi dan lebih lama”.


Perekonomian yang lebih baik, di mana ringkasan dari proyeksi-proyeksi mengenai perekonomian menunjukkan outlook perekonomian yang membaik: Pertumbuhan ekonomi di 2023 yang lebih kuat, walau masih tetap lemah, dengan sedikit rebound di 2024, kenaikan angka pengangguran yang lebih kecil dari perkiraan, menjadi 4,5% di akhir 2024, serta inflasi inti yang lebih persisten.

Suku bunga yang lebih tinggi, seperti yang ditunjukkan oleh “Dot plot” FOMC yang terkenal itu, di mana ada risiko materiil kenaikan suku bunga yang dapat terjadi paling cepat pada bulan Juli, serta kemungkinan satu kali kenaikan lagi di tahun ini.  Base case kami adalah The Fed memang akan menaikkan suku bunga pada bulan Juli, dengan kemungkinan mereka akan kembali menahan suku bunga pada rapat berikutnya karena adanya penurunan inflasi dan data ketenagakerjaan.


Namun yang terpenting adalah suku bunga yang lebih tinggi untuk waktu yang lebih lama. Dalam konferensi persnya, Ketua The Fed Jerome Powell menyebutkan kemungkinan mengenai risiko kenaikan inflasi, dan bahwa pemangkasan suku bunga mungkin “Masih beberapa tahun lagi”. Dengan kata lain, Powell menyanggah pricing pasar mengenai kemungkinan pemangkasan suku bunga yang lebih dini.


Dilihat dari sudut pandang global, ini bukanlah hal baru. Selama tahun lalu, kita melihat bagaimana bank-bank sentral menunjukkan dua bias yang substansial. Yang pertama, bergerak lebih dulu dan lebih cepat kala terjadi inflasi adalah lebih baik daripada bergerak lamban dan terlambat (di mana kenaikan suku bunga front loaded lebih dipilih). Kedua, kita sekarang dapat melihat adanya perbedaan yang jelas antara melakukan jeda (pause) dengan melakukan pivot. Sebagai contoh, Reserve Bank of Australia (RBA) serta yang lebih baru lagi yaitu Bank of Canada (BoC) yang meneruskan kenaikan suku bunganya setelah memberikan indikasi akan mengambil jeda.


Konteks makro yang melingkupi keputusan RBA dan BoC untuk menaikkan suku bunga menjadi kunci di sini: Tingkat inflasi yang tetap bertahan di level yang tinggi, seperti yang dapat kita lihat pada perekonomian AS serta banyak negara-negara lainnya.


Namun, yang menjadi pertanyaan yang terpenting bagi para forecaster perekonomian tidaklah berhubungan dengan kenaikan suku bunga maupun setinggi apa suku bunga akan naik, namun seperti apa bentuk dari siklus pelonggaran suku bunga berikutnya. Sekalipun narasi mainstream kemungkinan besar akan tetap terfokus pada apakah The Fed akan menaikkan suku bunga kembali pada rapat mereka berikutnya di tanggal 28 Juli, tapi menurut kami pertanyaan yang lebih penting bagi para investor adalah bagaimana dan kapan bank-bank sentral akan merespons perlambatan pertumbuhan AS yang telah diperkirakan akan terjadi.


Melihat ke belakang, kita telah mengetahui bahwa The Fed merespons tiga resesi yang telah terjadi sebelumnya dengan mengumumkan pemangkasan suku bunga segera setelah tanda-tanda masalah ekonomi terlihat. Keadaannya mungkin saja berbeda kali ini. Sekalipun kami tetap memperkirakan The Fed akan mulai memangkas suku bunga di 2024, menurut kami kemungkinan dilakukannya pelonggaran akan lebih kecil bila dibandingkan dengan siklus sebelumnya, terutama dalam 6 hingga 12 bulan ke depan. Menurut pandangan kami, bagaimana bentuk siklus pelonggaran berikutnya – serta sejauh mana tingkat penurunannya – akan bergantung pada tiga karakteristik kondisi resesi yang akan datang.
 

1. Harga-harga akan tetap berjatuhan, namun tingkat inflasi 2% akan tetap sulit tercapai


Kami memiliki keyakinan bahwa tingkat inflasi utama AS akan turun hingga 3% pada akhir tahun ini, namun untuk menyentuh level 2% atau lebih rendah dalam jangka pendek tampaknya kemungkinannya lebih kecil dibandingkan di masa lalu. Memang kami masih meyakini bahwa masalah-masalah di sisi pasokan serta faktor-faktor global seperti deglobalisasi, konflik-konflik politik, serta peristiwa-peristiwa iklim yang semakin sering terjadi dengan tingkat keparahan yang semakin tinggi menjadikan harapan agar inflasi AS kembali ke level 2% menemui banyak tantangan. Hal ini menjadi relevan, tidak hanya bagi The Fed, namun juga untuk bank-bank sentral lainnya secara global, di mana banyak di antaranya harus membuat pilihan yang sulit:

  • Menerima kenyataan bahwa ada keterbatasan dalam kemampuan kebijakan moneter – terutama suku bunga – untuk memengaruhi level harga serta mengakui bahwa target inflasi yang lebih tinggi memang diperlukan, atau
  • Terus secara aktif mengejar target inflasi masing-masing dengan mengorbankan pertumbuhan, dengan menyadari bahwa pilihan kebijakan semacam itu berpotensi menyebabkan resesi yang lebih sering serta profil pertumbuhan yang lebih rendah secara struktural.
     

2. Kembalinya two-speed economy


Two-speed economy
, kondisi di mana segmen perekonomian manufaktur/barang berjalan dalam ruang kontraksi yang lebih dalam daripada perekonomian jasa dan tenaga kerja, tampaknya akan kembali ke dalam lanskap perekonomian Amerika Serikat. Krusialnya, sementara kami memperkirakan bahwa tingkat pengangguran di AS akan mengalami peningkatan di tahun yang akan datang, kemungkinan besar peningkatannya akan lebih rendah daripada yang terjadi pada resesi-resesi sebelumnya. Menurut pandangan kami, masalah pasokan tenaga kerja akan terus menjadi persoalan – sebuah fungsi dari perubahan struktural di dalam perekonomian – dan sektor jasa akan menjadi yang paling terdampak olehnya.


Meski begitu, walau kami memperkirakan bahwa angka pengangguran akan tetap relatif rendah, kami melihat adanya tantangan-tantangan lain di dalam bursa tenaga kerja (misalnya penerapan jam kerja yang lemah serta pertumbuhan upah yang di bawah tren). Hal ini dapat menjadi alasan bagi The Fed dan bank-bank sentral lainnya untuk mempertahankan pendekatan yang kurang akomodatif mengenai kebijakan moneter dibandingkan yang telah mereka lakukan di periode-periode resesi sebelumnya. Ini adalah salah satu alasan mengapa kami percaya bahwa siklus penurunan suku bunga The Fed berikutnya mungkin tidak sebesar siklus pelonggaran sebelumnya.  
 

3. Resesi mungkin akan segera terjadi, namun kami masih melihat tanda-tanda ekses harga aset


Kekhawatiran mengenai terjadinya resesi mungkin semakin meningkat, namun indeks-indeks saham utama di AS tampaknya menunjukkan kenyataan yang lain, berkat optimisme yang dibawa oleh kemajuan yang terjadi di bidang artificial intelligence. Namun, bila diamati lebih jauh, masalah akan mulai terlihat. Masih terlalu dini untuk mengesampingkan krisis perbankan regional yang terjadi di AS, yang masih terus menjadi masalah di bawah permukaan – seberapa besar dampaknya terhadap sektor real estate masih belum dapat dimengerti sepenuhnya.


Tidak seperti pada siklus perekonomian di masa lalu di mana tanda-tanda permasalahan pada sistem perbankan serta turunnya harga-harga pada bursa saham akan mendorong The Fed untuk mengubah kebijakan pengetatannya serta melakukan Fed put, yang terjadi saat ini mungkin akan berbeda. Setingan default-nya kemungkinan besar sudah tidak lagi dapat diaplikasikan, dan pasar mungkin akan harus mengkalibrasi ulang ekspektasinya.


Seperti telah kami kemukakan sebelumnya, pendekatan bank-bank sentral terhadap pembuatan kebijakan telah berevolusi, dan jatuhnya harga aset kemungkinan besar telah menjadi sebuah fitur di dalam proses berpikir bank-bank sentral, bukan lagi sebagai bug. Karenanya, kami meyakini bahwa The Fed mungkin tidak akan terlalu termotivasi untuk menerapkan kebijakan pelonggaran besar-besaran di tengah bermacam peristiwa yang terjadi di pasar bila dibandingkan dengan yang mereka lakukan di masa lalu. Latar belakang makro saat ini tengah berproses untuk menjadi semakin rumit, dan karenanya sikap waspada akan sangat kita perlukan.   

 

 

Unduh Dokumen



  • Investment note: Tensi geopolitik Timur Tengah terkini

    Baca selengkapnya
  • IDB: Eskalasi konflik geopolitik & data ekonomi AS yang kuat membayangi pasar finansial global

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
  • IDB: Kekhawatiran suku bunga & konflik geopolitik membayangi pasar saham global

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
Lihat semua
Confirm