Skip to main content
Back

Komentar The Fed menekan euforia pasar

13 Februari, 2023

Pekan lalu

 

Pasar saham Amerika Serikat melemah pekan lalu dibayangi keraguan seberapa cepat The Fed dapat menjauh dari kebijakan moneter ketatnya karena pasar tenaga kerja yang masih panas, mempersulit upaya melawan inflasi. Ketua The Fed Jerome Powell mengatakan bahwa tekanan inflasi telah mereda dan proses disinflasi dimulai. Namun Powell juga mengindikasikan proses disinflasi membutuhkan waktu sehingga suku bunga dapat bertahan di zona restriktif, dan puncak suku bunga dapat lebih tinggi dari perkiraan apabila sektor tenaga kerja tetap kuat. Tidak hanya Powell saja, Presiden The Fed New York dan Atlanta juga berkomentar senada dengan Powell. Indeks S&P 500 melemah 1.11% pekan lalu dan indeks Dow Jones melemah 0.17%. Imbal hasil UST 10Y naik dari 3.52% ke 3.73% pekan lalu. 

Pasar saham kawasan Asia bergerak fluktuatif pekan lalu dan ditutup melemah. Kekhawatiran geopolitik meningkat setelah AS menembak jatuh balon yang diduga adalah alat intelijen China, meningkatkan kekhawatiran risiko pembalasan dari Beijing. Selain itu pasar juga dibayangi oleh komentar dari pejabat The Fed yang mengindikasikan kebijakan suku bunga diperkirakan tetap restriktif. Data ekonomi yang dirilis inflasi China (Jan) tumbuh sesuai estimasi sebesar 2.1% YoY dan PPI (Jan) kontraksi lebih dalam dibandingkan estimasi -0.8% YoY. Cadangan devisa China (Jan) naik ke USD3.18 triliun dari sebelumnya USD3.13 triliun. Indeks MSCI Asia Pacific melemah 1.32% pekan lalu.

Data ekonomi Indonesia yang dirilis pekan lalu relatif positif. PDB Indonesia (Q4) tumbuh di atas ekspektasi sebesar 0.36% QoQ dan 5.01% YoY. Secara tahunan PDB 2022 tumbuh sebesar 5.31% YoY, lebih tinggi dari tahun sebelumnya 3.69% YoY. Indeks Keyakinan Konsumen (Jan) naik ke level 123.0 dari bulan sebelumnya 119.9, dan cadangan devisa (Jan) yang naik ke USD139.4 miliar dari sebelumnya USD137.2 miliar. Namun kinerja pasar tertekan oleh sentimen terkait kebijakan The Fed sehingga IHSG melemah 0.45% dan indeks BINDO ditutup flat. Nilai tukar Rupiah melemah 1.61% terhadap USD ke level 15134. Positifnya, investor asing mencatat pembelian bersih IDR3.3 triliun di pasar saham. Imbal hasil obligasi pemerintah 10Y naik pekan lalu dari 6.54% ke 6.67%.

 

Pekan Ini


Pekan ini pasar akan memperhatikan data inflasi AS setelah sebelumnya data tenaga kerja lebih kuat dari ekspektasi pasar. Inflasi AS Januari diperkirakan turun ke 6.2% YoY dari sebelumnya 6.5%. Tidak hanya inflasi harga konsumer saja, pasar juga akan memperhatikan inflasi harga produser (PPI) yang diperkirakan turun ke 5.4% dari sebelumnya 6.2%.

Di domestik, rapat BI akan menjadi perhatian, di mana konsensus memperkirakan suku bunga acuan tetap di 5.75% setelah sebelumnya Gubernur BI memberi sinyal kenaikan suku bunga sudah memadai. Sementara itu neraca perdagangan diperkirakan mencatat surplus USD3.25 miliar. 

 

 

Unduh Dokumen

 

 

  • Investment note: Tensi geopolitik Timur Tengah terkini

    Baca selengkapnya
  • IDB: Eskalasi konflik geopolitik & data ekonomi AS yang kuat membayangi pasar finansial global

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
  • IDB: Kekhawatiran suku bunga & konflik geopolitik membayangi pasar saham global

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
Lihat semua


Pekan ini

Pekan ini pasar akan memperhatikan data inflasi AS setelah sebelumnya data tenaga kerja lebih kuat dari ekspektasi pasar. Inflasi AS Januari diperkirakan turun ke 6.2% YoY dari sebelumnya 6.5%. Tidak hanya inflasi harga konsumer saja, pasar juga akan memperhatikan inflasi harga produser (PPI) yang diperkirakan turun ke 5.4% dari sebelumnya 6.2%.

Di domestik, rapat BI akan menjadi perhatian, di mana konsensus memperkirakan suku bunga acuan tetap di 5.75% setelah sebelumnya Gubernur BI memberi sinyal kenaikan suku bunga sudah memadai. Sementara itu neraca perdagangan diperkirakan mencatat surplus USD3.25 miliar.   

 

 

 

Unduh Dokumen

 

 

Confirm