Skip to main content
Back

Kekhawatiran kenaikan suku bunga membayangi pasar

26 Juni, 2023

​Pekan lalu​

 

Bursa saham Amerika Serikat melemah di tengah kekhawatiran kenaikan suku bunga lebih lanjut, Jerome Powell dalam pidato setengah tahun kepada House Financial Services Committee dan Senate Banking panel mengindikasikan kenaikan suku bunga masih dibutuhkan untuk menahan laju inflasi. Selama sepekan S&P 500 turun 1.39%, Dow Jones turun 1.67% dan Nasdaq turun 1.44%. Pasar memperkirakan probabilitas 70% The Fed akan menaikkan suku bunga 25bps di bulan Juli. Klaim pengangguran menunjukkan pasar tenaga kerja masih kuat di mana tunjangan pengangguran (Jan 17) tidak berubah dari minggu sebelumnya sebesar 264 ribu. Data di sektor perumahan secara tidak terduga melonjak di bulan Mei, Housing Starts naik 1.63 juta dan Building Permits naik 1.49 juta. Sektor manufaktur dan jasa (Jun P) lebih rendah dibandingkan dengan periode sebelumnya, masing-masing sebesar 46.3 dan 54.1. Imbal hasil UST 10 tahun turun menjadi 3.73%. 

 

Kekecewaan pasar atas stimulus China yang lebih rendah dibandingkan perkiraan serta sinyal hawkish The Fed membebani selera risiko, dalam sepekan MSCI Asia Pacific turun 3.94%. Pasar kecewa setelah pertemuan Dewan Negara China tidak memenuhi ekspektasi terkait pengumuman stimulus. Penurunan suku bunga pinjaman perbankan China yang lebih kecil dari perkiraan turut memicu kekhawatiran baru tentang ekonomi di sana, 5-Year Loan Prime Rate turun 10 bps menjadi 4.20% di mana angka tersebut lebih tinggi dari ekspektasi 4.15%. 

 

Sentimen di pasar global turut menekan pasar saham Indonesia, IHSG melemah 0.88% di mana investor asing membukukan penjualan bersih mingguan senilai IDR1.74 triliun. Sementara pasar obligasi ditutup flat. Imbal hasil obligasi pemerintah IDR tenor 10 tahun naik menjadi 6.30%. Keputusan Bank Indonesia untuk mempertahankan suku bunga pada level 5.75% guna memastikan inflasi tetap terkendali dalam kisaran 2-4% hingga akhir tahun. BI mengungkapkan fokus kebijakan saat ini diarahkan pada penguatan stabilitas Rupiah guna mengendalikan imported inflation dan memitigasi dampak ketidakpastian pasar keuangan global.

 

Pekan Ini

PCE Deflator yang menjadi indikator bagi The Fed untuk mengukur tekanan inflasi diperkirakan akan mengalami perlambatan di bulan Mei menjadi 0.1% MoM dari periode sebelumnya 0.4% MoM, laju tahunan melambat menjadi 3.8% YoY dari periode sebelumnya 4.4% YoY.

 

 

 

Unduh Dokumen

 

 

  • Investment note: Tensi geopolitik Timur Tengah terkini

    Baca selengkapnya
  • IDB: Eskalasi konflik geopolitik & data ekonomi AS yang kuat membayangi pasar finansial global

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
  • IDB: Kekhawatiran suku bunga & konflik geopolitik membayangi pasar saham global

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
Lihat semua


Pekan ini

PCE Deflator yang menjadi indikator bagi The Fed untuk mengukur tekanan inflasi diperkirakan akan mengalami perlambatan di bulan Mei menjadi 0.1% MoM dari periode sebelumnya 0.4% MoM, laju tahunan melambat menjadi 3.8% YoY dari periode sebelumnya 4.4% YoY.

 

 

 

Unduh Dokumen

 

 

Confirm