Skip to main content
Back

IWH: Ketidakpastian Regulasi China & Kasus COVID-19 Bayangi Sentimen Pasar Global

2 Agustus, 2021

Pekan lalu.

Pasar global bergerak fluktuatif pekan lalu di tengah berbagai sentimen yang mempengaruhi pasar. Di Amerika Serikat, laporan keuangan beberapa emiten besar seperti Apple dan Facebook mencatatkan kinerja yang melebihi ekspektasi di Q2-2021, namun memberikan arahan bahwa pertumuhan di Q3-2021 akan mengalami moderasi. Sementara itu The Fed mempertahankan kebijakan akomodatif dan menekankan bahwa pengurangan stimulus (tapering) masih akan menunggu hingga ada kemajuan substansial lebih lanjut pada tenaga kerja dan inflasi. The Fed menyatakan akan banyak peringatan terlebih dahulu sebelum akhirnya memutuskan untuk mengurangi stimulus. Di sisi lain, kekhawatiran pasar di AS terkait COVID-19 meningkat setelah CDC menyatakan bahwa orang yang telah divaksinasi masih dapat menularkan COVID-19 varian Delta sehingga memicu diwajibkannya pemakaian masker kembali. Indeks S&P 500 ditutup turun 0.37% pekan lalu dan imbal hasil UST 10Y turun dari 1.27% ke 1.22%.

Pasar saham kawasan Asia mengalami tekanan pekan lalu di tengah ketidakpastian pengetatan regulasi di berbagai sektor di China. Pemerintah China mengumumkan aturan baru di sektor education tech yang melarang perusahaan pendidikan swasta yang mengajarkan kurikulum sekolah untuk menghasilkan profit, meningkatkan modal atau go public. Sebelumnya pemerintah China juga melakukan pengetatan regulasi di sektor e-commerce dan online food delivery. Selain itu pasar Asia juga dibayangi oleh meningkatnya kasus COVID-19, di mana Jepang dan Filipina memperketat restriksi sosial merespon peningkatan kasus. Indeks MSCI Asia Pacific ditutup turun 1.80% pekan lalu. Data ekonomi yang dirilis adalah PMI manufaktur China yang turun ke 50.4 di Juli dari sebelumnya 50.9, dan PMI non-manufaktur yang turun dari 53.5 ke 53.3.

IHSG melemah 0.52% pekan lalu dengan investor asing mencatat penjualan bersih IDR1.04 triliun. Sementara itu pasar obligasi menguat 0.47% dengan imbal hasil obligasi pemerintah 10Y relatif stabil pada kisaran 6.30%. Nilai tukar Rupiah relatif terjaga, mengalami apresiasi 0.21% terhadap USD ke level IDR14,463 per USD.

 

Pekan ini.

Pekan ini pasar menantikan data PDB Indonesia Q2-2021, di mana konsensus pasar memperkirakan pada level 6.72% YoY, membaik dari Q1-2021 di -0.74%. Perkiraan tersebut selaras dengan proyeksi Bank Indonesia pada 6% - 7%, namun lebih konservatif dari proyeksi Kementerian Keuangan pada 7.1% - 7.5%.

Sementara itu di pasar global, data ketenagakerjaan AS akan menjadi fokus pasar, karena dapat menjadi faktor pertimbangan The Fed dalam keputusan arah kebijakan, terutama terkait pengurangan stimulus (tapering). Konsensus memperkirakan terdapat 900 ribu pekerja baru di data nonfarm payroll mendatang.

 

Unduh Dokumen

  • IDB: Deflasi AS memperkuat harapan pemangkasan suku bunga

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
  • IDB: Sektor teknologi menjadi pendorong pasar saham global

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
  • IDB: Pandangan Ketua The Fed Powell yang seimbang terhadap ekonomi

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
Lihat semua

Waspada modus penipuan mengatasnamakan MAMI. Selengkapnya

View more

Pastikan untuk membeli Reksa Dana Manulife melalui MAMI atau mitra distribusi kami. 

View more

Waspada modus penipuan mengatasnamakan MAMI. Selengkapnya

View more

Pastikan untuk membeli Reksa Dana Manulife melalui MAMI atau mitra distribusi kami. 

View more