Skip to main content
Back

Global Intelligence 1H 2023: Krisis pangan dan energi

31 Oktober, 2022

Krisis pangan dan energi: melihat risiko kedaulatan ESG di tengah konflik Rusia-Ukraina

Konflik di Ukraina pertama-tama akan dikenang karena korban jiwa yang ditimbulkannya. Konflik ini juga akan dikenang karena menyebabkan kelangkaan hasil pertanian yang parah serta volatilitas yang tinggi di pasar energi, di mana kedua hal tersebut turut mengikis stabilitas geopolitik serta menjadi hambatan terhadap upaya global untuk mengatasi perubahan iklim. Delapan bulan setelah Rusia melancarkan invasinya, kami melakukan perhitungan atas risiko ESG yang menyertainya serta memberikan pandangan singkat mengenai rekonstruksi Ukraina.

Catatan penting

  • Invasi Rusia di Ukraina serta dampaknya terhadap komoditas energi dan pertanian telah menyebabkan disrupsi yang signifikan terhadap perekonomian global, yang kemungkinan besar dampaknya akan terus kita rasakan selama beberapa waktu ke depan. Pada akhirnya, akan perlu ada upaya bantuan rekonstruksi dan pemulihan besar-besaran untuk membantu Ukraina serta peluang bagi pasar keuangan yang dirancang dengan baik untuk memperkuat dukungan ini.
  • Mengenai risiko sosial, lambannya Rusia dalam pemberian izin penjualan komoditas pertanian Ukraina di pasar telah turut menyebabkan terjadinya kelangkaan pangan yang meluas, di mana harga pangan yang tinggi telah memperlebar kesenjangan kesejahteraan serta memperburuk ketidaksetaraan sosial, bukan hanya di Ukraina dan negara-negara Eropa Timur lainnya, namun juga di Timur Tengah dan Afrika Utara.
  • Yang terutama, kami meyakini bahwa kondisi ini akan dapat menambah risiko sosial dan geopolitik, yang mendorong pada ketidakstabilan politik lebih lanjut serta menyebabkan terjadinya migrasi massal yang dapat memicu dislokasi ekonomi dan sosial politik tingkat kedua di Eropa.
  • Dalam jangka pendek, konflik ini menghalangi kemajuan yang hendak dicapai dunia dalam upaya mengurangi emisi karbon; namun dalam jangka yang lebih panjang kami pikir hal ini justru dapat membantu mempercepat transisi rendah karbon – terutama karena negara-negara Eropa tengah berusaha untuk mengurangi ketergantungannya pada ekspor energi Rusia.

Melihat di balik konflik menuju pemulihan

Selama apapun konflik di Ukraina akan berlangsung, kami meyakini bahwa gaungnya akan terus dirasakan oleh pasar komoditas global, rezim politik, dan infrastruktur sosial selama bertahun-tahun ke depan. Saat ini kota-kota yang telah hancur di Ukraina mulai kembali hidup bersamaan dengan dilakukannya perbaikan-perbaikan darurat untuk menghadapi musim dingin yang akan segera datang. Bantuan dari negara-negara Barat, termasuk janji dari negara-negara lain untuk mendukung rekonstruksi infrastruktur ekonomi yang komprehensif di Ukraina, pada akhirnya – dan semoga dalam waktu yang tidak lama lagi – akan menjadi rencana yang terperinci mengenai pendanaan bagi pemulihan yang berkelanjutan (financing a sustainable recovery).

Meski saat ini sudah ada estimasi biaya rekonstruksi Ukraina, yaitu sebesar $350 miliar, kita tentu saja belum dapat tahu angka finalnya – terutama karena kita tidak tahu selama apa perang tersebut akan berlangsung serta seberapa banyak infrastruktur sipil lagi yang akan mengalami kerusakan. Kami meyakini bahwa rekonstruksi ini akan didanai oleh pinjaman jangka panjang, jaminan, dan hibah yang didapat dari cadangan dana global dengan dukungan dari negara-negara G7 dan organisasi-organisasi supranasional.

Pertemuan-pertemuan yang akan segera dilakukan mengenai pemulihan, rekonstruksi, dan modernisasi Ukraina akan memberikan kejelasan lebih lanjut mengenai bagaimana pendanaan tersebut akan dilakukan. Organisasi-organisasi supranasional seperti Bank Dunia, European Investment Bank (EIB), serta European Bank for Reconstruction and Development (EBRD) diperkirakan juga akan turut teterlibat. Dan terakhir, keterlibatan sektor swasta akan memberikan dukungan tambahan dalam penyaluran pendanaan yang diperlukan untuk Ukraina yang lebih baik dan resilien. Hal ini akan memberikan peluang bagi para investor pendapatan tetap untuk menempatkan alokasi modal di mana paling dibutuhkan.

Perubahan besar menuntut adanya penilaian yang signifikan dan aktif

Peristiwa yang sangat disruptif seperti konflik Ukraina menjadi tantangan yang sulit bagi analisis kredit, bahkan lebih dari itu. Adanya perubahan pasar signifikan di sektor ekonomi, pertanian, dan energi, perang yang terjadi saat ini membawa perubahan sistematis, mengacu pada salah satu data tentang ESG (Environmental, Social, dan Governance) model—terakhir, menunjukkan, data keseluruhan pada setiap indikator dan pada akhirnya kami dapat menilai ulang dampak dari konflik tersebut. Meski demikian, dari data terkait ESG yang kami miliki seiring dengan terus bertambahnya dampak sosiopolitis dan lingkungan, kami merasa cukup yakin untuk dapat membuat dua prediksi berikut ini – pertama mengenai dampak kelangkaan produksi pertanian, dan yang kedua mengenai dampak krisis bahan bakar fosil.

Ukraina terkenal sebagai breadbasket atau lumbung bagi dunia. Rusia juga adalah salah satu pengekspor biji-bijian utama. Namun blokade Rusia atas pelabuhan-pelabuhan Ukraina menghentikan ekspor biji-bijian selama berbulan-bulan, sampai Rusia dan Ukraina, dengan Turki sebagai penengah, sepakat di musim panas yang lalu untuk secara bertahap membuka blokade tersebut agar Ukraina dapat kembali mengekspor hasil pertanian ke seluruh dunia. Selain itu, Rusia – dan juga dalam hal ini Belarusia – adalah pengekspor terbesar pupuk dunia, sehingga hal ini akan berdampak bagi sektor pertanian selain disrupsi-disrupsi global yang telah ada.

Ketidakstabilan pasokan biji-bijian telah menyebabkan – dan kemungkinan besar akan makin memperburuk – kelangkaan dan kerawanan pangan yang mempengaruhi hidup jutaan orang di dunia, yang pada gilirannya dapat memperparah krisis pengungsian dan risiko geopolitis lainnya. Kondisi cuaca ekstrim yang disebabkan oleh perubahan iklim juga akan memperburuk kondisi sektor pertanian yang sudah suram.

Selain itu, konflik Rusia-Ukraina entah akan menjadi pendorong atau penghambat untuk pengadopsian bahan bakar alternatif rendah karbon yang diperlukan dalam mengatasi perubahan iklim dalam skala global. Hal ini menjadi sangatlah penting, terutama bagi puluhan juta orang yang harus mengungsi dan menghadapi risiko yang ekstrim karena dampak dari perang tersebut. Kondisi yang penuh gejolak seperti ini tentu saja juga membawa signifikansi besar bagi para penyelenggara negara terutama dalam hal yang berhubungan dengan outlook pertumbuhan di tengan kerawanan energi, tren demografis, serta keseluruhan likuiditas dan investabilitas pasar utang mereka.

1. Risiko sosial yang ditimbulkan oleh konflik Rusia-Ukraina akan mengubah peta geopolitik

Krisis migrasi terburuk sejak Perang Dunia II

Hingga awal Agustus 2022, lebih dari 12 juta orang di Ukraina, yang adalah hampir sepertiga populasi negara tersebut, terpaksa harus mengungsi. Hal ini merupakan krisis migrasi terburuk sejak Perang Dunia II. Lebih dari 6 juta orang – yang sebagian besar adalah wanita dan anak-anak – mengungsi ke negara-negara tetangga, terutama ke Polandia, namun juga ke Latvia, Moldova, Rumania, Slowakia, Hongaria, Belarusia, dan Rusia. Tentu saja biaya untuk perumahan, makanan, dan kesehatan bagi para pengungsi ini yang harus ditanggung oleh negara-negara tersebut sangatlah besar. Menurut sebuah estimasi, yang dibuat baru-baru ini, biaya yang harus dikeluarkan dapat melebihi $30 miliar untuk tahun pertama saja.

Lebih mengkhawatirkan lagi, angka 12 juta ini hanyalah awal dari gelombang migrasi yang diciptakan oleh krisis tersebut. Dampak konflik ini terhadap pasar ekspor biji-bijian dan pupuk dari Ukraina dan Rusia, meski dirasakan secara global, namun dampaknya yang terparah dirasakan di Timur Tengah dan Afrika Utara (MENA / Middle East and North Africa), di mana ketergantungan pada produk pertanian tersebut sangat tinggi. Bahkan setelah adanya perjanjian untuk melanjutkan ekspor komoditas penting tersebut, puluhan juta orang yang telah menghadapi krisis pangan sejak sebelum invasi Rusia ke Ukraina di bulan Februari akan harus mengalami kekurangan gizi akibat disrupsi besar yang ditimbulkan oleh perang Rusia-Ukraina terhadap rantai pasokan produk pertanian.

Kami melihat krisis dan rawan pangan sebagai pemicu potensial meningkatnya pengungsian di kawasan MENA dan juga ke Eropa. Hal ini akan berdampak negatif bagi kawasan MENA, terutama sehubungan dengan akan berkurangnya tenaga kerja terampil di negara-negara tertentu serta implikasi Hak Asasi Manusia yang dapat menimpa populasi pengungsi intraregional. Sedangkan untuk Eropa, walau dampak jangka pendeknya mungkin akan negatif, namun dalam jangka panjang ada kemungkinan perpindahan human capital ini akan memberikan dampak positif, seiring dengan terintegrasinya para migran ini ke dalam masyarakat dan mulai berkontribusi pada pertumbuhan pasar tenaga kerja. Hal ini mengasumsikan bahwa kebijakan imigrasi Eropa akan tetap terfokus pada penerimaan migran sementara maupun pemukim permanen daripada penolakan masuk yang didasari pada sentimen anti imigran.

Asumsi mengenai kebijakan imigrasi Eropa ini menjadi inti dari analisa kami, namun kami tetap berhati-hati dalam mempergunakannya. Sebagai contoh kasus yang harus diperhatikan, beberapa partai politik pemenang pemilu di Eropa belakangan ini memiliki akar neofasis dan mereka menawarkan rencana kebijakan anti-imigran sebagai inisiatif kontrol perbatasan, yang meningkatkan risiko kejutan sosial ekonomi yang negatif.

Lebih jauh lagi, secara historis dapat dilihat bahwa kemungkinan diterimanya populasi pengungsi secara terus menerus oleh negara tujuan, terutama dengan besarnya angka pengungsi dari Ukraina, tampaknya tidak akan mungkin dapat terjadi.

Ketika instabilitas berkuasa: Arab Spring dan krisis pengungsi Eropa

Contoh hisoris yang dapat dipelajari mengenai hal ini adalah sebuah kondisi yang dikenal sebagai Arab Spring, pemberontakan di Afrika Utara melawan rezim otokratik yang dimulai pada 2011 di Tunisia dan kemudian menyebar ke Libya, Mesir, Suriah, dan Yaman. Setelah diambilnya tindakan politis yang keras oleh penguasa di kebanyakan negara-negara tersebut, otokrasi malah menguat dan demokrasi semakin dibatasi, sementara negara-negara sisanya terperosok ke jurang peperangan (contohnya Suriah dan Yaman). Karenanya tentu saja melakukan investasi di kawasan tersebut hanya akan mendatangkan kerugian; bahkan di negara-negara dengan kondisi yang cukup solid seperti Mesir, penelitian kami menunjukkan adanya risiko tata kelola yang substansial di dalam kebijakan dan manajemen utang pemerintahnya.

Represi politis yang dipilih sebahai cara untuk menghadapi Arab Spring menjadi pemicu terjadinya krisis pengungsi Eropa di 2015, di mana 1,3 juta orang melarikan diri ke Eropa. Konflik bersenjata menjadi penyebab utama terjadinya eksodus massal tersebut. Sebagian besar pengungsi tersebut melarikan diri ke Jerman, yang oleh pemerintahan Kanselir Angela Merkel diizikan masuk, sementara yang lainnya menuju Hongaria, Prancis, Swedia, dan negara-negara lain di Uni Eropa.

Arab Spring memicu lonjakan pengungsi ke Eropa pada 2015, dan angkanya masih terus bertambah

Angka tahunan permohonan suaka yang diterima di negara-negara EEA dan Inggris Raya, 2010–2021

Sumber: Eurostat, September 2022. European Economic Area (EEA) mencakup negara-negara EU-27, Islandia, Liechtenstein, dan Norwegia. Data juga mencakup pemohon suaka ke Inggris Raya, 2010–2019. Pemohon suaka mengacu pada seseorang yang telah mengajukan permohonan perlindungan internasional atau telah dimasukkan dalam permohonan tersebut sebagai anggota keluarga selama periode tertentu.

Situasi ini memantik reaksi politis di Eropa yang hampir membuat munculnya pemimpin-pemimpin proteksionis yang mewacanakan penutupan perbatasan serta mengubah kebijakan mengenai iklim yang pada gilirannya dapat menghambat transisi menuju kondisi rendah karbon yang tengah berlangsung di kawasan tersebut.

Sayangnya, kami meyakini bahwa sebuah krisis pengungsi dan politis yang sama ekstrimnya berisiko untuk terjadi di tahun-tahun ke depan sebagai dampak langsung dari perang di Ukraina. Beberapa negara yang paling rentan di dunia di tengah kurangnya pasokan gandum Rusia-Ukraina berada di Afrika Utara. Mesir, Sudan, dan Republik Demokratik Kongo mengimpor 82%, 75%, dan 69% kebutuhan gandumnya dari Rusia dan Ukraina, sementara Somaila dan Benin mengimpor 100% kebutuhan gandumnya dari salah satu maupun kedua negara yang tengah berperang tersebut. Kelangkaan pangan yang terjadi di kawasan MENA – serta kerusuhan yang mungkin akan menyertainya – merupakan bagian dari siklus risiko sosial dan tata kelola yang timbul sebagai akibat dari perang Rusia-Ukraina.

Dan mengingat dampak-dampak yang dialami negara-negara MENA ini, yang adalah kawasan dengan pertumbuhan tercepat di dunia, situs utama pertumbuhan populasi global ini akan harus mengalami kelangkaan pangan, kemiskinan, dan kesenjangan sosial yang terus meningkat dengan pesat. Dengan kondisi kekurangan gizi di Afrika yang memang sejak lama sudah lebih buruk daripada kawasan-kawasan lain, kami meyakini bahwa perang Rusia-Ukraina hanya akan meperburuk krisis kemanusiaan di Afrika. Menurut pandangan kami, kondisi ini akan menjadikan kawasan MENA sebagai sumber terbesar migrasi massal di sisa dekade ini.

Prevalensi kekurangan gizi di Afrika adalah yang terburuk

Sumber: Food and Agriculture Association (Organisasi Pangan dan Pertanian) Perserikatan Bangsa-Bangsa, per 31 Desember 2021. Nilai didasarkan pada kisaran tengah yang diproyeksikan.

Kerentanan di Mesir, Ghana, dan Kenya

Mengambil salah satu dari dua kelompok pasar negara berkembang di dalam model kami sebagai contoh, Mesir memperlihatkan kerentanan-kerentanan yang unik. Berdasarkan volumenya, Mesir adalah importir gandum terbesar di dunia. Ini artinya, harga impor yang lebih tinggi untuk produk pertanian lunak, seperti gandum dan biji-bijian lainnya, kemungkinan besar akan menjadi tekanan fiskal yang harus dihadapi oleh pemerintah dan masyarakat Mesir.

Seperti banyak partner dagang Rusia lainnya di segenap spektrum komoditas, Mesir akan berusaha mendiversifikasi dirinya dari ketergantungan pada Rusia, namun hal ini tidak akan dapat diwujudkan dalam waktu singkat. Musim panen domestik di Mesir, yang dimulai pada pertengahan April, telah membantu mengamankan akumulasi cadangan gandum negara tersebut dengan memanfaatkan pasokan dari petani lokal, namun hal ini tetap tidak dapat mencegah kenaikan harga pangan. Secara tradisional, masalah harga pangan di Mesir adalah sesuatu yang tabu yang dapat memicu terjadinya kerusuhan publik – seperti yang terjadi saat Arab Spring serta banyak krisis lainnya di masa lalu. Dengan adanya gejolak yang cukup, faktor sosial dan tata kelola yang kami ukur cenderung menunjukkan kelemahan yang semakin dalam.

Downgrade mungkin terjadi lebih cepat

Ghana dan Kenya juga merupakan konsumen gandum utama, karena gandum menyumbang sepertiga dari keseluruhan konsumsi serealia oleh populasi mereka, dan kebanyakan kebutuhan gandum mereka dipenuhi melalui impor. Ghana saat ini tengah mengalami kesulitan fiskal sehubungan dengan defisit yang terjadi, yang mendorong Moody's untuk menurunkan peringkat kredit negara tersebut pada bulan Maret dari B3 menjadi Caa1 dengan outlook stabil. Standard & Poor’s serta Fitch kemudian juga menurunkan peringkat utang Ghana di bulan Agustus masing-masing dari B–/B (S&P) dan B– (Fitch) menjadi CCC+/C dan CCC, yang didorong oleh asesmen buruk terhadap profil keuangan negara tersebut serta berbagai tekanan eksternal – termasuk dampak perang Rusia-Ukraina.

Dari perspektif ekonomi dan pasar, mengingat ketidakpastian yang muncul karena masalah-masalah yang berkaitan dengan ketersediaan produk pertanian serta integritas sosiopolitik, peringkat kredit negara-negara di atas, serta negara-negara lain di kawasan tersebut, menghadapi risiko untuk terus mengalami downgrade. Hal ini semakin membatasi akses mereka ke pasar utang serta kemampuan mereka nantinya untuk mendanai berbagai hal mulai dari infrastruktur, perawatan kesehatan, dan program sosial, hingga menyediakan subsidi untuk menghadapi kenaikan harga pangan, program-program pertanian baru, dan strategi-strategi adaptasi terhadap iklim.

2. Perubahan di sektor energi yang terjadi saat ini pada akhirnya mungkin akan mendorong percepatan transisi rendah karbon

Selain potensi terjadinya krisis kemanusiaan yang berkepanjangan, krisis Rusia-Ukraina juga telah menyebabkan dislokasi yang besar di pasar energi yang ikut memperparah masalah inflasi global saat ini serta menghambat transisi dari bahan bakar fosil untuk memerangi perubahan iklim. Namun sementara sebagian besar negara Eropa menanggung beban langsung dari pembatasan pasokan energi oleh Rusia, dan negara-negara yang menentang agresi Rusia berjuang keras untuk mengamankan cadangan bahan bakar fosil mereka demi terjaminnya keamanan energi dalam jangka pendek, saat ini telah ada beberapa rencana yang tengah dijalankan – termasuk di Eropa – yang akan mempercepat transisi jangka panjang dunia dari ketergantungan pada bahan bakar fosil. Menurut pandangan kami, solusi jangka panjang untuk menghadapi tantangan energi maupun tantangan iklim masih berjalan dengan selaras.

Tentu saja tidak semua negara memberikan respon positif terhadap krisis tersebut. Harga energi yang tinggi mendorong beberapa negara untuk meningkatkan eksplorasi migas. Pemerintah Meksiko, misalnya, telah mengumumkan bahwa masa depan mereka bergantung pada bahan bakar fosil dan secara aktif mengambil langkah-langkah untuk mendukung pembangunan pembangkit-pembangkit listrik berbahan bakar fosil dengan mengorbankan proyek energi terbarukan. Yang lebih parah lagi, Republik Demokratik Kongo mengumumkan pada musim panas lalu bahwa mereka akan melelang izin penambangan minyak dan gas di area hutan hujan dan lahan gambutnya. Langkah ini dapat memicu bencana emisi gas rumah kaca karena akan merusak salah satu penyerap karbon dan sumber keanekaragaman hayati terpenting di dunia.

Meski begitu, urgensi di balik ketahanan energi saat ini juga mendorong perusahaan-perusahaan dan para pembuat kebijakan supaya mengambil langkah yang lebih cepat dan berani untuk mempertimbangkan kembali opsi-opsi energi yang tadinya tidak banyak mendapatkan perhatian sebelum krisis terjadi.

Energi terbarukan dan energi nuklir: menemukan fusi yang tepat untuk ketahanan energi global

Dari mulai 100TWh hingga maksimal 200TWh, sebagian besar pasokan listrik berbasis gas alam di Eropa disediakan oleh Rusia. Namun angka tersebut saat ini sebenarnya dapat disediakan pasokannya oleh pembangkit energi yang lain seperti tenaga surya dan angin. Menurut International Energy Agency (IEA), telah diantisipasi dengan ekspansi kapasitas energi terbarukan kemungkinan besar akan dapat mengurangi ketergantungan Eropa pada ekspor gas Rusia secara signifikan pada 2023.

Pembangkit listrik berbahan bakar gas alam Uni Eropa untuk 2011–2021 dan pertumbuhan pembangkit listrik terbarukan untuk 2021–2023

Sumber: “Renewable Energy Market Update: Outlook for 2022 and 2023,” IEA, Mei 2022. TWh mengacu pada terawatt jam. PV mengacu pada photovoltaic.

Ekspansi kapasitas tenaga surya dan angin berskala utilitas bertumbuh dengan sangat cepat, dan IEA mengakui bahwa implementasi kebijakan yang cepat akan menjadi kunci bagi Eropa untuk memenuhi target yang telah diumumkan dalam rencana REPowerEU.

Namun, walau terdengar sangat ambisius, sumber energi terbarukan yang ada saat ini – yang juga termasuk tenaga air, biofuel, dan tenaga panas bumi – kemungkinan besar tidak akan cukup untuk membawa transisi global menuju skenario zero emission yang sukses bila melihat pendekatan-pendekatan yang dilakukan oleh pemerintah di Eropa. Melihat realitas teknologi serta persyaratan beban listrik dasar saat ini, pengembangan kembali tenaga nuklir pada akhirnya juga memegang peranan penting dalam transisi menuju masa depan yang rendah karbon.

Proyek reaktor nuklir baik yang baru maupun yang sudah ada saat ini telah diterima dengan lebih baik di seluruh dunia, termasuk di Asia Pasifik dan Eropa. Seperti dicatat oleh Reuters, UK yang selama berdekade-dekade tidak memiliki proyek nuklir, saat ini tengah mendanai untuk dua proyek nuklir baru. Hal yang sama juga dilakukan oleh Jepang, yang tidak lagi menggunakan energi nuklir sejak bencana Fukushima pada 2011, di mana pemerintahnya mengumumkan niatnya untuk mengaktifkan kembali pembangkit nuklir lama, serta tengah mempertimbangkan pembangunan pembangkit nukliryang lebih modern. Meski pembangkit baru menghasilkan lebih sedikit energi daripada pembangkit yang lama, namun memiliki kelebihan berupa ukurannya yang lebih kecil, modular, serta relatif lebih aman.

dilaporkan oleh IEA: “Menurut tren dan target kebijakan saat ini, kapasitas nuklir di 2040 akan mencapai 582 GW – jauh di bawah level 730 GW yang dibutuhkan Net Zero Emission by 2050 Scenario (Skenario Nol Emisi 2050)”.

Kapasitas tenaga nuklir global di dalam skenario nol bersih, 2005-2050

The bar chart shows changes in global nuclear power capacity over time, with data included for 2005, 2020, 2035 (projected), and 2050 (projected). Projected capacity includes data for planned construction of new nuclear capacity as well as declines in the existing fleet of reactors, which can remain in operation for approximately 60 years. Both 2035 and 2050 show a (widening) gap to the net zero scenario analyzed by the International Energy Agency.

Sumber: “Nuclear Electricity: More efforts needed,” IEA, 2021. GW mengacu pada gigawatts.

Menurut kami para pemangku kekuasaan perlu berpikir dalam kerangka mosaik total mengenai sumber energi – dan saling ketergantungan antara produsen dan konsumen komoditas yang berbeda – jika mereka ingin bersama-sama mengatasi masalah ketahanan energi dan perubahan iklim dengan cara yang berkelanjutan.

menimbun bahan bakar fosil, mengaktifkan kembali pembangkit listrik tenaga batu bara, serta membangun kapasitas impor gas alam cair di Eropa. Akibatnya, dunia kembali pada penggunaan sumber energi dengan emisi yang lebih tinggi, namun kami memperkirakan hal ini hanya akan berlangsung sementara: para pemimpin negara telah menyaksikan bahwa ketergantungan pada bahan bakar fosil dapat menyebabkan ketidakstabilan harga serta kerawanan energi, dan solusi yang sesungguhnya adalah dengan mendukung sumber energi alternatif yang rendah karbon untuk mendorong lebih banyak investasi, dukungan kebijakan yang lebih baik, serta investasi yang terus menerus pada infrastruktur listrik.

Strategi ESG kami memadukan pengambilan keputusan yang aktif

Strategi menjaga kedaulatan ESG kami menggabungkan data historis dari berbagai sumber nasional, non-pemerintah, dan supranasional. Strategu ini adalah seperangkat data yang inovatif dan dinamis yang memberikan landasan yang kuat bagi kami untuk membangun pandangan ESG kami,1 termasuk pandangan kami mengenai bagaimana konflik di Ukraina secara drastis mengubah bentuk risiko material di level global. Pandangan kami selalu memasukkan outlook yang aktif, di mana kami berusaha menilai bagaimana sinyal model kami berubah dari waktu ke waktu, menggunakan penilaian investasi real-time yang dibentuk oleh pengalaman yang panjang.

Kami meyakini bahwa kebijakan yang terarah adalah merupakan hasil dari stabilitas pemerintahan serta kualitas dari program dan kebijakan fiskal yang didukung. Dalam pandangan strategi kami, hal ini berarti bahwa langkah-langkah yang diambil untuk mengurangi risiko sosial dan mengurangi maupun beradaptasi terhadap risiko lingkungan, juga memberikan arahan mengenai kecenderungan pemerintah untuk mengelola risiko-risiko tersebut, dan karenanya memberikan ketahanan serta membuka diri bagi peluang transformatif secara ekonomi. Faktor sosial dan lingkungan seringkali menunjukkan adanya risiko sistemik – dan karenanya tidaklah dianjurkan untuk mengabaikan faktor-faktor tersebut di dalam proses investasi yang sadar risiko. Kami meyakini bahwa hal ini akan semakin penting seiring dengan waktu, terutama di saat terjadi krisis.

Untuk alasan ini, kami menyesuaikan analisis data ESG kami dengan penilaian yang real-time. Kami, para manajer portofolio, analis pendapatan tetap, serta anggota sustainability team kami, melakukan analisa kolektif terhadap perubahan-perubahan material baik eksternal maupun internal yang mempengaruhi stabilitas sebuah pemerintahan. Dan ini juga didukung oleh temuan kami dari keterlibatan bilateral dengan perwakilan dari emiten berdaulat. Sifat riset kami yang aktif dan multifaset inilah yang membuat asesmen ESG kami tidak terlalu bergantung pada data historis.

Strategi kami ini berkembang seiring dengan perubahan lanskap geopolitik, menelurusi pergerakan sovereign, serta tetap selaras dengan kondisi di sekitar sovereign ESG yang berubah dengan sangat cepat. Secara keseluruhan, model ini memberi kami sebuah perangkat yang ampuh dalam melakukan analisa risiko kredit, valuasi mata uang, serta formasi strategi utang negara.

Mengukur efektifitas and kerentanan: analisis faktor lingkungan dalam strategi kedaulatan ESG kami

Seperti halnya mengenai faktor sosial (social) dan tata kelola (governance), kerangka kerja model kami dalam memahami kekuatan dan kelemahan pemerintah dalam faktor lingkungan (environment) bergantung pada input data dari berbagai sumber independen. Hal ini juga bergantung pada proses kami yang terstruktur untuk mengkombinasikan input-input tersebut dengan penilaian independen kami – terutama ketika perubahan yang terjadi memberikan kejutan serius pada strategi secara sistematis namun pendekatannya terhadap data ESG yang tersedia.

Input dan perubahan di dalam penilaian kami mengenai faktor lingkungan

The chart lists key aspects of the team's sovereign model, particularly how it evaluates the environmental factor. This includes environmental elements in sovereign management control, proprietary adjustments to the environmental data, and how the model's quantitative scores fall into quintiles of relative strength.

Sumber: Manulife Investment Management, September 2022. GHC mengacu pada greenhouse gas.

Data yang mendasari model tersebut menangkap berbagai elemen lingkungan yang berada di dalam kendali pemerintah, mulai dari pengelolaan sumber daya air dan intensitas energi di dalam negara secara keseluruhan hingga seberapa baik pemerintah mengatasi polusi serta menjaga sumber daya alam dan aset riil seperti lahan hutan. Bersamaan dengan itu, penyesuaian kepemilikan yang kami lakukan memungkinkan kami untuk mengubah ataupun melengkapi apa yang disampaikan oleh data kepada kami – maupun ketika data tidak mampu memberi tahu kami karena adanya kesenjangan data material. Hingga data berhasil dimasukkan, profesional investasi dan pakar ESG kami melacak situasi secara real time dan bekerja sama untuk mengantisipasi dampak di masa depan.

Analisis kami berfokus pada pengukuran keterpaparan dan kerentanan terhadap bahaya lingkungan dan risiko transisi. Apakah suatu negara berhasil atau gagal dalam mempersiapkan infrastruktur masyarakatnya dalam menghadapi badai, kebakaran hutan, dan kekeringan yang frekuensi maupun intensitasnya diperkirakan akan meningkat? Apakah negara tersebut berusaha untuk bertransisi menuju konsumsi energi yang lebih berkelanjutan, atau apakah ia menerapkan pendekatan yang sekedarnya saja dalam penanganan emisi berintensitas tinggi? Strategi kami membantu kami untuk mengevaluasi keputusan yang diambil oleh pemerintah, kebijakan yang mereka adopsi, serta hasil dari usaha mereka untuk menjadi lebih resilien terhadap risiko-risiko yang berhubungan dengan iklim – atau sebaliknya malah tidak mengacuhkannya.

Kami berharap strategi kami akan dapat memperlihatkan perbedaan yang jelas dari respon pemerintah yang satu dengan yang lainnya terhadap krisis energi yang ditimbulkan oleh konflik Rusia-Ukraina. Hal ini pada gilirannya akan memberikan petunjuk lebih banyak mengenai kesiapan pemerintah dalam menghadapi masalah ketahanan energi jangka panjang sembari beradaptasi dengan perubahan iklim. Bersamaan dengan masuknya data ke dalam model, kami akan mencari perubahan paling besar pada skor Environment, Social, dan Governance, lalu memetakan hasil ini dengan spread dan peringkat kredit negara yang bersangkutan. Dalam prakteknya, hal ini akan memperlihatkan tidak adanya hubungan antara skor ESG dengan peringkat kredit tradisional, dan juga memperlihatkan pencilan (outlier) dari sudut pandang kekuatan/undervaluasi ESG maupun kelemahan/overvaluasi ESG.

Risiko ESG memberi dampak satu sama lain

Dengan terus berlangsungnya konflik di Ukraina, negara mana yang paling resilien dan mampu mengatasi kondisi kelangkaan komoditas, dan mana yang lebih rentan dalam menghadapi situasi yang menantang ini? Negara mana yang bergantung pada rantai pasokan global untuk memenuhi kebutuhan komoditas dasar seperti pangan dan energi, dan mana yang lebih tidak bergantung pada jaringan ekonomi tersebut?

Mempertahankan harga bahan bakar fosil jangka panjang mungkin menjadi bagian dari tujuan Rusia dalam perangnya dengan Ukraina, namun efek dari agresi ini dirasakan di seluruh dunia dalam bentuk hiperinflasi harga energi dan pangan, menjadikan tujuan tercapainya independensi komoditas sebagai sesuatu yang sangat penting secara global

Sebagai investor obligasi multi sektor, kami meyakini pentingnya untuk memahami secara aktif risiko-risiko ESG – untuk mengantisipasi dinamika perubahannya di saat terjadi gap antara peristiwa-peristiwa geopolitik ataupun kontroversi-kontroversi besar dan terhambatnya data. Di sinilah sebuah model yang fleksibel dan aktif akan dapat membantu menilai potensi masa depan dari profil risiko kredit negara yang berubah dengan cepat.

 

1 Input risiko lingkungan pilihat termasuk di dalamnya World Development Indicators (WDI) dari Bank Dunia; data dari International Renewable Energy Agency, sebuah organisasi antar pemerintah yang mendukung negara-negara dalam transisi mereka menuju masa depan energi yang berkelanjutan; dan Emissions Database for Global Atmospheric Research, basis data global komprehensif yang disponsori oleh European Commission. Input risiko sosial mencakup WDI, Global Gender Gap Index dari World Economic Forum, dan Global Innovation Index dari the World Intellectual Property Organization. Input tata kelola mencakup data WDI, serta Human Development Reportsdan data dari Revenue Watch InstituteInternational Budget Partnership, dan dari United Nations Conference on Trade and Development.

  • IDB: BI mempertahankan suku bunga di 6%

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
  • IDB: Menjelang rilis pendapatan Nvidia

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
  • Seeking Alpha Februari 2024: Dampak penurunan Fed Funds Rate terhadap pasar saham Indonesia

    Seeking Alpha

    Baca selengkapnya
Lihat semua
Confirm