Skip to main content
Back

Artikel edukasi: Saya punya Rp10 miliar bekal pensiun, tapi bingung bagaimana kelolanya

15 Maret, 2024

Dalam sebuah kesempatan, seorang perempuan menceritakan kerisauannya tentang persiapan pensiun. 

"Saya Anna, 50 tahun. Saya dan suami akan pensiun 7 tahun lagi, dengan bekal Rp10 miliar yang telah saya hemat sejak muda. Saya ingin pensiun mandiri, dan tidak membebani anak-anak saya. Saya juga tidak suka risiko, dan ingin memastikan bekal pensiun saya cukup sepanjang hidup saya".
 

Hebat! Tak semua orang mampu memandang jauh ke masa depan seperti Anda. Satu step telah sukses Anda lewati, saatnya memahat rencana untuk langkah berikutnya: Bagaimana menggunakannya, agar tak habis sebelum waktunya. Waktunya? Yup. Bekal pensiun semestinya bertahan melebihi usia hidup kita. Bayangkan jika kita hidup 30 tahun selama pensiun, tetapi kehabisan uang di tahun ke 20. Bagaimana kita meneruskan hidup 10 tahun selanjutnya?
 

Pengobatan modern dan kesadaran manusia akan hidup sehat telah terbukti memperpanjang ekspektasi hidup manusia. Menurut BPS, ekspektasi usia orang Indonesia secara rata-rata mencapai 73,6 tahun. Tapi kita sendiri banyak mengenal orang yang usianya jauh di atas ekspektasi usia rata-rata itu.
 

  • Tantangan: Memastikan bekal pensiun tak akan habis selamanya
  • Konsepnya: Diversifikasi. Membagi seluruh bekal yang dimiliki ke dalam beberapa wadah untuk beberapa tujuan yang berbeda: Proteksi, biaya hidup secukupnya, dan simpanan yang masih bisa ditumbuhkan.

 

Pos #1: Proteksi


Percuma berhasil menumpuk harta jika lupa pelindungnya. Perampok paling ulung adalah penyakit. Di tahap ini dalam hidup, yang Anda perlukan adalah perlindungan asuransi kesehatan, yang mencakup berbagai biaya medis yang cukup. Jangan malas mencari informasi mengenai harga beragam perawatan medis di rumah sakit, di level yang Anda mau.
 

Proteksi kedua adalah dana darurat, untuk menghadapi situasi yang tak dapat dihindarkan dan tak dapat ditunda penyelesaiannya.

 

Pos #2: Biaya hidup bulanan di masa pensiun


Banyak orang berasumsi biaya hidup kita akan menyusut semasa pensiun nanti. Padahal tidak. Pos-pos yang saat ini ada (misalnya uang sekolah anak dan biaya transport) akan tergantikan dengan pos-pos yang baru akan timbul nanti (kebutuhan nutrisi sehat, biaya listrik dan perawatan rumah yang naik karena kita lebih banyak menghabiskan waktu di rumah). Sedangkan biaya hiburan, jelas tak bisa dihilangkan, bahkan mungkin perlu ditambah. Maka asumsikanlah angka yang sama akan harus kita bayar untuk hidup kita di masa pensiun nanti.


Setelah itu, ada inflasi, yang jelas akan memompa tagihan hidup di masa pensiun nanti. Anna, yang katakan saja hari ini hidup dengan biaya Rp20 juta per bulan, akan harus membayar hampir Rp26 juta tagihan hidupnya setiap bulan di masa pensiunnya 7 tahun lagi.


Mari asumsikan Anna akan menggunakan instrumen bebas risiko untuk menghasilkan income stream-nya: Deposito berbunga 5% per tahun. Untuk menghasilkan bunga 5% seharga Rp312 juta (12 x Rp26 juta), maka pokok deposito yang perlu dialokasikan Anna adalah Rp6,1 miliar.

 

Pos #3: Uang yang ditumbuhkan


Proteksi dan biaya hidup bulanan sudah diamankan, maka sekarang waktunya memaksa porsi sisanya terus bekerja untuk kita. Apa gunanya? Untuk mengalahkan inflasi, dan jikalau mungkin, meningkatkan taraf hidup kita lebih lagi.


Porsi yang tidak diandalkan untuk keperluan mutlak ini sebenarnya bisa saja dipacu di alternatif investasi yang agresif, dengan potensi return yang tinggi. Tetapi sesuai dengan profil risiko spesifik Anna yang konservatif, baiklah kita aplikasikan strategi diversifikasi antara alternatif yang agresif dengan yang lebih stabil. Paduan dari saham, obligasi dan deposito bisa jadi racikan yang sesuai. Dan supaya tak repot, dan dapat santai menikmati hidup, reksa dana obligasi bisa dicoba.

 

Bonus: Kurangi beban finansial

 

Salah satu faktor pemberat pensiunan adalah beban tanggungan yang semestinya bisa disingkirkan. Salah satunya adalah rumah yang terlalu besar, sehingga membutuhkan biaya listrik dan perawatan yang tidak kecil. Ketika memasuki usia di mana hari-hari banyak kita habiskan di rumah, maka biaya listrik menjadi salah satu pos pengeluaran yang besar: Untuk penerangan, pendingin ruangan, dan mendayai sarana hiburan dalam rumah. Selain itu, rumah yang dibeli puluhan tahun silam pun telah menua dan butuh lebih banyak perbaikan.

 

Beban yang lain adalah anak-anak yang masih mondok di rumah orang tua, dan tidak berkontribusi terhadap pembiayaan hidup keluarga. Beda dengan budaya barat yang memaksa anak-anak keluar dari rumah di usia 20-an, orang tua Indonesia lebih toleran, bersedia digelayuti anaknya yang bahkan lalu memboyong keluarga-keluarga kecilnya masuk ke dalam rumah Oma dan Opa. Bagi pensiunan, beban tambahan seperti ini tidak ideal.

 

 


 

 

Tentang PT Manulife Aset Manajemen Indonesia


PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (“MAMI”) adalah manajer investasi dengan total dana kelolaan terbesar di Indonesia, yaitu Rp101,6 triliun (Desember 2023) dengan pangsa pasar 12,4% (September 2023) di antara >90 perusahaan manajer investasi. MAMI telah hadir dan mendampingi langkah dari lebih dari 2 juta investor individu dan institusi (per akhir Desember 2023) selama 27 tahun sejak 1996. MAMI adalah bagian dari Manulife Investment Management dan Manulife Financial Corporation yang berkantor pusat di Toronto, Kanada.

  • IDB: Fed memberi sinyal penundaan penurunan suku bunga

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
  • Investment note: Tensi geopolitik Timur Tengah terkini

    Baca selengkapnya
  • IDB: Eskalasi konflik geopolitik & data ekonomi AS yang kuat membayangi pasar finansial global

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
Lihat semua

Waspada modus penipuan mengatasnamakan MAMI. Selengkapnya

View more

Waspada modus penipuan mengatasnamakan MAMI. Selengkapnya

View more
Confirm