Banyak orang memandang asuransi sebagai sesuatu yang fleksibel: Bisa dihentikan sementara dan dilanjutkan kembali saat diperlukan. Namun kenyataannya, membiarkan polis lapse (tidak aktif) dapat menimbulkan konsekuensi finansial jangka panjang yang sering kali tidak disadari.
Pertama, risiko hidup terus meningkat. Risiko hidup itu tidak bersifat statis, melainkan terus meningkat seiring waktu. Semakin bertambah usia, semakin tinggi pula kemungkinan seseorang membutuhkan perawatan medis. Di berbagai negara, data menunjukkan bahwa kelompok usia di atas 50 tahun menyumbang lebih dari separuh total biaya kesehatan - meskipun proporsinya dalam populasi jauh lebih kecil. Hal inilah yang membuat premi asuransi meningkat seiring bertambahnya usia dan risiko.
Dalam konteks asuransi jiwa, risiko juga mengalami peningkatan yang serupa. Seiring bertambahnya usia, probabilitas terjadinya risiko meninggal dunia secara alami meningkat, yang menjadi dasar perhitungan premi asuransi jiwa. Artinya, semakin lama seseorang menunda atau menghentikan perlindungan, semakin besar kemungkinan untuk kembali dengan biaya yang lebih tinggi, atau bahkan menghadapi keterbatasan untuk mendapatkan perlindungan yang sama.
Di sinilah muncul masalah utama: ketika polis lapse, Anda sebenarnya melepaskan perlindungan pada saat risiko masih rendah dan biaya masih relatif terjangkau, lalu baru kembali saat risiko sudah lebih tinggi dan biaya menjadi jauh lebih mahal.
Kedua, belum tentu Anda bisa mendapatkan perlindungan yang sama. Memulai kembali perlindungan bukan berarti melanjutkan dari kondisi sebelumnya. Re-aktivasi polis yang lapse biasanya mengharuskan pembayaran premi tertunggak beserta bunga, serta pengajuan ulang data kesehatan. Jika periode lapse sudah terlalu lama, Anda mungkin harus mengajukan polis baru dengan proses underwriting ulang yang berarti premi lebih tinggi. Bahkan kemungkinan Anda akan mengalami penolakan jika kondisi kesehatan sudah berubah.
Dengan kata lain, asuransi bukanlah langganan yang bisa “pause dan resume” tanpa konsekuensi. Ini adalah komitmen jangka panjang yang sangat bergantung pada usia dan kondisi kesehatan saat masuk.
Ketiga, orang-orang terkasih kena imbasnya. Dampak lapse tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga keluarga. Di kawasan Asia Pasifik, sekitar 75% rumah tangga masih belum memiliki perlindungan finansial yang memadai jika kehilangan pencari nafkah utama. Tanpa perlindungan aktif, beban keuangan sepenuhnya berpindah ke keluarga. Hal ini sering kali berujung pada penurunan kualitas hidup, penjualan aset, atau tekanan finansial jangka panjang.
Kesimpulannya, menjaga polis tetap aktif bukan sekadar kewajiban administratif. Ini adalah langkah penting untuk menjaga keberlanjutan perlindungan, mengendalikan biaya di masa depan, dan memastikan bahwa orang-orang yang Anda cintai tetap terlindungi. Karena saat risiko datang, yang berarti hanyalah polis yang masih aktif.
PREMIready hadir untuk membantu. Merupakan kolaborasi dari PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia (AJMI) dan PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI), PREMIready hadir sebagai opsi cara baya premi Asuransi Manulife secara otomatis dengan Reksa Dana Manulife. Premi dibayarkan otomatis dan tepat waktu dari Reksa Dana Manulife Anda, sementara dana Anda tetap berpotensi berkembang hingga saatnya digunakan. Anda? Lebih tenang, lebih tertata, dan lebih konsisten melindungi diri serta keluarga, tanpa repot dan tanpa lupa.
Tentang PT Manulife Aset Manajemen Indonesia
PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) adalah manajer investasi dengan total dana kelolaan terbesar di Indonesia, yaitu Rp124 triliun (Maret 2026) dengan pangsa pasar 12% (Maret 2026) di antara >90 perusahaan manajer investasi. MAMI telah hadir dan mendampingi langkah dari lebih dari 2,6 juta investor individu dan institusi (per akhir Desember 2026) selama 30 tahun sejak 1996. MAMI adalah bagian dari Manulife Wealth and Asset Management, perusahaan manajemen investasi global yang merupakan bagian dari Manulife Financial Corporation.
IWH: Harapan perkembangan negosiasi damai AS – Iran
Investment Weekly Highlights
IWH: BI fokus menjaga Rupiah dan pemerintah bentuk BUMN sentralisasi ekspor
Investment Weekly Highlights
Seeking Alpha Mei 2026: Mencari keseimbangan pertumbuhan & stabilitas
Seeking Alpha