Skip to main content
Back

Peluang Pasar Obligasi Indonesia di Tengah Pengetatan Moneter Global

13 Juli, 2022

 

 

Bulan ini kami mengetengahkan komentar pasar terkini dari Senior Portofolio Manager - Fixed Income, Syuhada Arief.

Sempat dianggap terlambat melakukan penyesuaian dengan kondisi yang ada, kini arah kebijakan dan kenaikan Fed Funds Rate semakin selaras dengan ekspektasi pasar, yaitu naik ke kisaran 3.4% di akhir tahun 2022. Apakah ini berarti kenaikan imbal hasil US Treasury jangka menengah juga sudah mendekati puncaknya?

Benar, saat ini ekspektasi Fed Funds Rate sampai akhir tahun – seperti yang dikomunikasikan oleh pejabat bank sentral sendiri – sudah sesuai dengan ekspektasi pasar di kisaran 3.4%. Sebelumnya, ketidaksesuaian yang ada selalu menciptakan pertanyaan dan keraguan atas kredibilitas bank sentral dalam mengkaji kondisi ekonomi terkini. Ekspektasi yang selaras ini – walaupun lebih agresif – diharapkan dapat mengurangi faktor ketidakpastian, kejutan, dan volatilitas pergerakan imbal hasil US Treasury ke depannya.


Potensi resesi ekonomi Amerika Serikat semakin mengemuka menjadi pembicaraan pasar. Apa pandangan Anda?

Saat ini kita menyaksikan proses pengetatan moneter Amerika Serikat yang paling agresif dalam beberapa dekade. Kondisi ini membuat prospek pertumbuhan ekonominya akan mengalami banyak tantangan, bahkan mungkin pula resesi. Namun data terkini yang ada setidaknya menunjukkan perekonomian saat ini masih relatif kuat. Beberapa leading indicator juga belum menunjukkan sinyal resesi. Probabilitas resesi dari Fed NY masih di bawah level 30% yang merupakan ‘red flag’ atau sinya kemungkinan potensi resesi. Begitu pula dengan data Conference Board Leading Economic Index yang sampai saat ini masih dalam zona pertumbuhan.


Bagaimana dengan inflasi Amerika Serikat ke depan? Adakah tanda-tanda penurunan?

Inflasi akan menjadi faktor penting yang menentukan jalur pengetatan kebijakan moneter The Fed ke depannya. Sejauh ini kami memperkirakan inflasi akan mereda di 2023 dan sebelum mencapai kondisi tersebut pasar akan terus diwarnai oleh kekhawatiran terkait inflasi yang persisten dan perlambatan ekonomi. Tampaknya akan sulit bagi bank sentral untuk menjadi lebih akomodatif sampai ada sinyal tren penurunan harga komoditas. Mudah-mudahan kebijakan yang diluncurkan oleh pemerintah dan bank sentral dapat menghindarkan ekonomi dari resesi yang berkepanjangan.


Kembali ke wacana resesi Amerika Serikat, apakah kekhawatiran resesi tersebut yang menjadi penyebab aliran dana asing terus keluar dari pasar obligasi Indonesia?

Meningkatnya kekhawatiran resesi Amerika Serikat dan juga perlambatan ekonomi global menjadi faktor dominan yang menyebabkan berlanjutnya aksi jual investor asing. Hal ini terjadi tidak hanya pada Indonesia, namun juga pada pasar negara berkembang lainnya. Bahkan US Treasury, obligasi pemerintah Amerika Serikat sebagai safe haven asset juga tidak luput dari aksi jual investor. Namun, ekspektasi tingkat suku bunga The Fed di akhir tahun yang sudah selaras dengan ekspektasi pasar, dan kepemilikan asing yang sudah relatif rendah diharapkan dapat mengurangi volatilitas, serta aksi jual investor asing di pasar obligasi Indonesia terutama ketika sentimen global sudah membaik.


Bagaimana outlook pasar obligasi Indonesia?

Secara umum kelas aset obligasi akan menghadapi lebih banyak tantangan di tengah periode kenaikan suku bunga dan inflasi, sesuai dengan prinsip bahwa suku bunga dan harga obligasi berbanding terbalik. Namun fundamental makro ekonomi Indonesia yang lebih baik dan lebih siap dalam menghadapi pengetatan kebijakan moneter global diharapkan dapat memberikan dukungan bagi pergerakan pasar obligasi domestik. Beberapa faktor positif yang mendukung di antaranya adalah:

  • Kebijakan pemerintah untuk menjaga beberapa harga barang membuat inflasi tahun 2022 – walaupun meningkat – tetap terkendali.
  • Basis investor yang lebih terdiversifikasi – naiknya partisipasi investor domestik dan penurunan kepemilikan investor asing (saat ini persentase kepemilikan asing dibawah 16%) – berkontribusi pada stabilitas pergerakan pasar obligasi domestik.
  • Kemenkeu menyatakan bahwa terjadi surplus anggaran pada bulan Mei sebesar IDR 132.2 triliun atau setara dengan 0.74% dari PDB.
  • Kemenkeu menurunkan target pembiayaan melalui lelang sebesar IDR147 triliun, di mana ini berarti dalam setiap lelang target penerbitan turun dari IDR20 triliun menjadi IDR5 triliun.

 

Apa risiko yang perlu dicermati?

Dari sisi eksternal, perkembangan konflik geopolitik dan lonjakan kasus Covid China menjadi risiko utama yang yang perlu dicermati karena memiliki dampak yang siginifikan pada tekanan inflasi. Hal ini dapat mempengaruhi laju perubahan kebijakan moneter, dan pembelian aset. Sementara dari sisi internal perkembangan harga minyak dunia, dan komoditas utama ekspor memberikan dampak yang besar terhadap beban subsidi energi, dan nilai tukar Rupiah. Di samping itu laju pertumbuhan kredit menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati mengingat selama ini bank menjadi pembeli mayoritas SBN. Kebijakan BI untuk menaikkan GWM secara bertahap juga harus dicermati efeknya dalam mengurangi likuiditasi di pasar.


Apa strategi investasi yang diterapkan guna mendorong kinerja portofolio?

Pengelolaan portofolio didasari pada pendekatan top-down – analisa makro ekonomi global, dan domestik – serta kekuatan analisa bottom-up – pemilihan Efek berdasarkan fundamental yang solid – untuk pembentukan portofolio yang optimal. Dalam hal ini selain didukung tim investasi yang berpengalaman di pasar domestik, kami juga didukung jaringan global Manulife Investment Management yang memiliki tim investasi on-the-ground yang dapat memberikan keunggulan informasi dan analisa yang terkini dan tajam.

Dengan volatilitas pasar yang tinggi, berbeda dengan strategi pada sebelumnya, kami tidak memfokuskan strategi pada overweight atau underweight duration vs durasi tolok ukur, namun kami lebih fokus kepada relative valuation methodology. Pada strategi ini kami fokus pada pemilihan seri obligasi atau alokasi sektor tenor pada kurva imbal hasil yang memberikan spread paling optimal relative dibandingkan spread imbal hasil pada seluruh sektor tenor yang lain. Di samping itu kami juga terus mencermati likuiditas, dan volatilitas untuk memastikan pengelolaan investasi memberikan hasil optimal dengan risiko yang terukur.

 

 

Unduh Dokumen

  • IDB: Deflasi AS memperkuat harapan pemangkasan suku bunga

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
  • IDB: Sektor teknologi menjadi pendorong pasar saham global

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
  • IDB: Pandangan Ketua The Fed Powell yang seimbang terhadap ekonomi

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
Lihat semua

Waspada modus penipuan mengatasnamakan MAMI. Selengkapnya

View more

Pastikan untuk membeli Reksa Dana Manulife melalui MAMI atau mitra distribusi kami. 

View more

Waspada modus penipuan mengatasnamakan MAMI. Selengkapnya

View more

Pastikan untuk membeli Reksa Dana Manulife melalui MAMI atau mitra distribusi kami. 

View more