28 Januari 2026

Bulan ini kami mengetengahkan komentar pasar terkini dari Portfolio Manager, Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, Laras Febriany.
Tensi geopolitik menjadi perhatian di awal tahun ini dengan aksi AS di Venezuela, konflik terkait Greenland, dan aksi demonstrasi di Iran. Bagaimana pandangan Anda terhadap dampak kondisi ini pada ekonomi global?
Kami melihat lanskap geopolitik dunia sedang mengalami masa perubahan seiring dengan arah kebijakan AS yang mengedepankan kepentingan nasional, ‘America First’, dan meningkatnya peranan kekuatan baru di dunia seperti China dan Rusia yang memungkinkan friksi geopolitik antar negara semakin rentan terjadi. Implikasinya, kondisi ini dapat menyebabkan volatilitas jangka pendek di pasar dan menjadi tantangan bagi pertumbuhan ekonomi global dalam jangka menengah-panjang, terutama dengan menguatnya kebijakan bersifat proteksionisme yang mengikis kebebasan perdagangan global.
Menariknya, dari perspektif jangka pendek kondisi geopolitik ini justru mendorong terjadinya sinkronisasi kebijakan, di mana banyak negara bersamaan mengimplementasikan pelonggaran kebijakan moneter dan fiskal yang ekspansif tahun ini untuk mendukung pertumbuhan ekonomi domestik dan investasi di sektor strategis seperti teknologi dan pertahanan. Kebijakan akomodatif ini diperkirakan menjadi faktor positif yang menopang pertumbuhan ekonomi dunia tahun ini.
Bagaimana implikasi ketidakpastian geopolitik terhadap pasar finansial?
Kondisi ketegangan geopolitik berisiko untuk meningkatkan volatilitas di pasar sewaktu-waktu tanpa terprediksi. Kami melihat risiko geopolitik sebagai ‘new normal’ bagi investor dan harus menjadi faktor pertimbangan dalam proses investasi. Kami melihat tendensi investor global untuk memperkuat diversifikasi sebagai langkah manajemen risiko memitigasi risiko konflik global. Diversifikasi dilakukan dari sisi mata uang, kelas aset, secara kawasan, maupun ke aset non-finansial seperti emas. Positifnya, kondisi ini membuka potensi aliran dana asing ke pasar negara berkembang yang ekonominya berorientasi domestik dan dengan risiko geopolitik lebih rendah yang tidak terlalu terdampak apabila terdapat gejolak global.
The Fed telah menurunkan suku bunga tiga kali di 2025. Bagaimana arah kebijakan suku bunga The Fed untuk 2026?
The Fed diperkirakan akan lebih data-dependent tahun ini karena Fed Chair Powell berkomentar bahwa tingkat suku bunga sudah berada di zona netral. Median proyeksi The Fed di Desember mengindikasikan hanya satu kali penurunan suku bunga tahun ini. Namun kami juga mempertimbangkan masa jabatan Jerome Powell sebagai Fed Chair akan berakhir di Mei 2026. Kandidat pengganti Powell diperkirakan adalah sosok dengan pandangan dovish, selaras dengan Presiden Trump yang menginginkan suku bunga dapat turun lebih agresif. Oleh karena itu kami melihat masih ada potensi Fed Funds Rate dapat turun lebih dari satu kali tahun ini.
Bagaimana pandangan Anda terhadap potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2026?
Setelah melalui kondisi pertumbuhan ekonomi yang lemah di periode 2024-2025, kami memandang pertumbuhan ekonomi Indonesia berpotensi membaik di 2026. Tingkat suku bunga yang sudah lebih akomodatif diperkirakan dapat semakin memberikan dampak positif pada pertumbuhan ekonomi tahun ini. Selain itu belanja negara diharapkan dapat menjadi motor bagi ekonomi tahun ini seiring dengan ekspektasi realisasi belanja dapat terjadi lebih cepat. Anggaran belanja negara tumbuh 9% dalam APBN 2026, pertumbuhan tertinggi dalam tiga tahun, sehingga diperkirakan dapat menjadi faktor positif bagi ekonomi.
Defisit APBN melebar ke 2.92% dari PDB di 2025, meleset dari target pemerintah 2.78%. Dengan target belanja negara yang ekspansif dan risiko pelebaran defisit fiskal, apakah kondisi ini mempengaruhi minat terhadap SBN?
Ya betul, perkembangan posisi fiskal negara akan menjadi faktor yang terus menjadi perhatian bagi investor di pasar obligasi. Kami menilai selama pemerintah tetap berkomitmen untuk menjaga defisit fiskal di bawah 3% sesuai undang-undang, maka sentimen di pasar akan tetap terjaga. Permintaan di pasar domestik diperkirakan masih akan tetap kuat untuk menyerap kebutuhan penerbitan SBN didukung oleh peranan investor domestik di pasar SBN yang besar (kepemilikan investor domestik mencapai 86% dari total SBN) dan kebutuhan investor untuk mencari yield lebih menarik seiring tingkat suku bunga deposito perbankan yang telah turun signifikan.
Untuk mengurangi tekanan suplai di pasar domestik, pemerintah juga dapat meningkatkan penerbitan global bond. Pemerintah sudah menerbitkan kangaroo bond (obligasi pemerintah dalam Dolar Australia) dan dimsum bond (obligasi pemerintah dalam Chinese Renminbi) untuk pertama kalinya di 2025 yang direspons positif oleh pasar. Diversifikasi pembiayaan melalui optimalisasi penerbitan global bond dapat menjadi strategi pemerintah untuk menjaga tekanan suplai SBN di pasar domestik.
BI Rate sudah turun agresif sebanyak lima kali di 2025. Apakah masih ada potensi penurunan BI Rate lebih lanjut di 2026?
Di 2026 Bank Indonesia diperkirakan dalam fase akhir siklus penurunan suku bunga. Setelah penurunan agresif di 2025, potensi penurunan suku bunga lebih lanjut diperkirakan semakin terbatas seiring dengan fokus kebijakan BI yang beralih dari pro-pertumbuhan menjadi lebih berimbang antara pertumbuhan dan menjaga stabilitas Rupiah. BI akan semakin fokus untuk memperkuat transmisi penurunan BI Rate terhadap suku bunga kredit pinjaman untuk mendorong sektor riil. Walau demikian, kami memperkirakan BI masih dapat menurunkan suku bunga 1-2 kali tahun ini ke level 4.25% - 4.50% seiring dengan inflasi domestik yang masih terjaga dan ekspektasi The Fed beranjak lebih dovish.
Setelah kinerja pasar obligasi yang kuat di 2025, bagaimana pandangan Anda potensi pasar obligasi tahun ini? Bagaimana strategi pengelolaan portofolio Reksa Dana Obligasi MAMI?
Pandangan kami iklim makroekonomi masih akan tetap suportif bagi pasar obligasi. Suku bunga di level rendah dan berpotensi untuk kembali turun, serta inflasi domestik yang terjaga harusnya menjadi kondisi yang konstruktif bagi pasar obligasi. Secara historis, indeks obligasi BINDO dapat mencatat kinerja positif pada tahun akhir siklus penurunan suku bunga seperti yang terjadi di tahun 2012, 2017, dan 2021. Namun kita juga harus menjaga ekspektasi di tengah masih adanya risiko geopolitik dan perkembangan postur fiskal Indonesia.
Strategi pengelolaan reksa dana obligasi MAMI dilakukan secara aktif berdasarkan analisa fundamental, memperhatikan outlook makroekonomi dan dinamika pasar obligasi domestik dan global. Diversifikasi menjadi kunci penting untuk menjaga tingkat risiko investasi. Reksa dana obligasi yang memiliki karakteristik defensif dapat menjadi pilihan investor dalam menghadapi volatilitas jangka pendek di tengah ketidakpastian baik dari sisi global maupun domestik. MAMI mengelola portofolio secara aktif dan fokus kepada manajemen durasi serta pemilihan efek yang diharapkan dapat menjadi penopang kinerja portofolio di tahun ini. Selain itu kami juga terus mencermati likuiditas dan volatilitas untuk memastikan pengelolaan investasi memberikan hasil optimal dengan risiko yang terkendali.
Reksa dana obligasi juga memiliki keunggulan dari segi fleksibilitas untuk melakukan pencairan atau pembelian kapan saja dengan harga unit yang jelas. Lini reksa dana obligasi MAMI juga memiliki fitur pembagian hasil investasi (PHI) seperti dividen yang dapat dimanfaatkan investor untuk mendapat pendapatan reguler atau untuk reinvestasi ke kelas aset lain tanpa melakukan pencairan reksa dana.
Market Outlook Q1 2026
Baca selengkapnyaIWH: Meredanya ketegangan Greenland
Investment Weekly Highlights
IWH: AS semakin menekankan ambisinya terhadap Greenland
Investment Weekly Highlights