Skip to main content
Back

Monthly Market Review Maret 2023

11 April 2023

Hanya untuk investor profesional PT Manulife Aset Manajemen Indonesia. Bukan untuk umum.

 

ULASAN MAKROEKONOMI​

 

Indikator makro Indonesia terus menunjukkan pemulihan. Inflasi tetap terjaga, dengan kenaikan +0.18% MoM dan +4.97% YoY. Pemicu utama kenaikan adalah transportasi (+13.7%) dan makanan (+6.6%). Inflasi bulanan diperkirakan masih naik bulan depan seiring libur Lebaran yang lebih lama. Walaupun demikian, untuk keseluruhan 2023 inflasi umum diperkirakan berada di kisaran 4%. Inflasi inti tercatat sebesar 2.94% YoY, untuk ke enam bulan berturut-turut lebih rendah dibandingkan estimasi konsensus. Daya beli masyarakat diperkirakan akan tertopang oleh belanja terkait pemilu, seiring besarnya anggaran pemilu dibandingkan sebelum-sebelumnya. 

pesanan ekspor baru tumbuh lebih rendah, aktivitas pabrik naik dengan laju tertinggi sejak September 2022 ditopang oleh tingginya permintaan domestik. Manufacturing PMI Indonesia tercatat di angka 51.9 bulan Maret, setelah turun sedikit di bulan Februari. Angka ini lebih baik dibandingkan dengan negara kawasan yang menunjukkan kontraksi, seperti contohnya Jepang (49.2), Malaysia (48.8), dan Vietnam (47.7). Surplus perdagangan bulan Februari melebihi ekspektasi, tercatat sebesar USD5.5 miliar (proyeksi konsensus hanya USD3.3 miliar). Pemicu utama adalah penurunan impor dan surplus perdagangan produk non energi sebesar USD6.7 miliar. Ekspor tumbuh 4.5% YoY, terkecil sejak Oktober 2020. Penurunan terutama dipicu oleh bahan bakar mineral (terutama batu bara), logam mulia, dan bijih logam, sepertinya terdampak oleh penurunan harga komoditas. Di lain pihak, ekspor produk timah naik 107% MoM, dipicu permintaan tinggi dari China dan India. Impor Februari turun -13.7% MoM, -4.3% YoY. Penurunan dipicu impor mesin, peralatan mekanik, dan minyak mentah. Neraca perdagangan mengungguli kawasan Asia seperti Vietnam (USD2.8 miliar), dan Taiwan (USD2.4 miliar). Surplus perdagangan diperkirakan akan mengalami normalisasi seiring naiknya impor di bulan Ramadhan dan menjelang Idul Fitri.

 

 

PASAR SAHAM

 

Walaupun mencatatkan arus masuk dana asing sebesar USD272 juta, IHSG melemah -0.55%, kalah unggul dibandingkan pasar lain (MSCI World +2.83%, MSCI Asia Pacific ex Japan +2.45%, dan MSCI Emerging Market +2.73%). Hanya sektor energi yang menguat (+0.12%) sementara sektor transportasi dan logistik menjadi yang terlemah (-7.58%). Pasar menunjukkan volume transaksi rendah di tengah bulan Ramadhan. Rupiah (+1.74%) justru paling unggul di kawasan, kecuali dibandingkan dengan Thai Baht. 

Kebijakan moneter diperkirakan mulai melonggar seiring suku bunga bank sentral baik Amerika Serikat maupun Indonesia yang mendekati puncak. Pembukaan kembali ekonomi akan memberi topangan bagi pasar saham. Setelah suku bunga mencapai puncak, pasar diperkirakan akan lebih stabil dan selera risiko investor akan meningkat. Dampak dari masalah perbankan Amerika Serikat juga terlihat terbatas karena perbankan Indonesia memiliki permodalan yang cukup, likuiditas berlimpah, dan aktivitas bank investasi terbatas. Kami melihat bahwa eksposur di ekonomi Indonesia akan tetap positif dan optimis melihat potensi jangka panjang investasi di Indonesia.

 

 

​PASAR OBLIGASI

 

Di bulan Maret pasar obligasi tetap solid, dengan indeks BINDO mencatatkan kinerja positif +0.85% MoM, membuat kinerja tahun berjalan ke level +2.36%. Imbal hasil obligasi 10 tahun sempat melemah ke 7.03%, mengikuti pelemahan UST yang bergerak ke 4.06%, di tengah kuatnya data ekonomi Amerika Serikat. Namun kejatuhan beberapa bank Amerika Serikat (Silicon Valley Bank, Signature Bank), dan Credit Suisse mendorong terjadinya flight to safety, sehingga imbal hasil UST turun sempat ke level 3.38%. Arus dana masuk asing sempat terhenti di tengah ketidakpastian, namun kembali masuk setelah ekspektasi siklus puncak suku bunga The Fed sudah mendekati akhir, terutama setelah kenaikan suku bunga agresif berdampak pada sektor perbankan yang dijelaskan sebelumnya. Perbaikan sentimen ini diikuti oleh penguatan imbal hasil obligasi 10 tahun ke 6.77% menjelang akhir bulan. 

Sementara itu, investor domestik terus menunjukkan topangannya ke pasar. Walaupun permintaan investor pada lelang konvensional sempat turun ke kisaran IDR29.34 triliun, pasar tetap resilien. Asuransi dan dana pensiun terus melakukan pembelian, memberi bantalan di tengah volatilitas pasar. Obligasi ritel yang ditawarkan pemerintah (SR018T3 – tenor 3 tahun, dan SR018T5 – tenor 5 tahun), sukses diterima pasar dengan 58 ribu investor berpartisipasi sebesar total IDR21.49 triliun. Dari sisi moneter, Perry Warjiyo dipilih kembali sebagai Gubernur Bank Indonesia untuk 5 tahun ke depan.Di bulan Maret investor asing membukukan beli bersih IDR14.21 triliun, membuat kepemilikan asing meningkat ke level 14.89% dari total obligasi yang tersedia diperdagangkan, dari bulan sebelumnya 14.79%.

Di lain pihak, Bank Indonesia menurunkan kepemilikannya sebesar IDR3.43 triliun, sehingga persentase kepemilikan berubah dari 26.28% ke 25.93%. Sementara itu perbankan komersial tetap tercatat sebagai pembeli bersih, menambah IDR4.66 triliun. Walaupun demikian, persentase kepemilikannya turun menjadi 24.27% seiring asuransi dan dana pensiun yang menjadi pembeli terbesar di periode ini, dengan persentase kepemilikan naik dari 16.45% ke 16.86%. Kepemilikan reksa dana naik IDR5.22 triliun, kepemilikan meningkat ke 3.00%. Investor individu dan lain-lain konsisten mencatatkan pembelian bersih, namun persentase kepemilikannya turun dari 15.09% ke 15.04%.

Di bulan Maret kurva imbal hasil terlihat mendatar dengan kecenderungan bullish, dengan imbal hasil tenor 2 tahun memimpin penurunan sebesar 21bps. Seri tenor pendek lainnya juga turun, dengan imbal hasil tenor 5 tahun turun 20bps. Seri menengah juga sejalan, imbal hasil 10 dan 15 tahun masing-masing turun 11 dan 14bps. Sementara itu tenor panjang terlihat beragam, imbal hasil tenor 20 tahun turun 11bps dan 30 tahun tidak berubah.



 

Unduh Dokumen



  • Investment note: Tensi geopolitik Timur Tengah terkini

    Baca selengkapnya
  • IDB: Eskalasi konflik geopolitik & data ekonomi AS yang kuat membayangi pasar finansial global

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
  • IDB: Kekhawatiran suku bunga & konflik geopolitik membayangi pasar saham global

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
Lihat semua
Confirm