Skip to main content
Back

Monthly Market Review Januari 2024

12 Februari 2024

Hanya untuk investor profesional PT Manulife Aset Manajemen Indonesia.
Bukan untuk umum.

 

ULASAN MAKROEKONOMI
 

Indikator makro Indonesia bulan Januari 2024 tetap stabil.  Inflasi umum tercatat sebesar 2.6% YoY dari bulan Desember 2023 2.8% YoY (revisi naik dari data sebelumnya yang diumumkan sebesar 2.6%). Inflasi inti tercatat 1.7%, sedikit turun dari bulan Desember 1.8%. BPS mengadopsi cara perhitungan baru mulai Januari 2024. Perubahan baru termasuk peningkatan bobot untuk makanan dan minuman dan tembakau, sekarang menjadi 28% dari sebelumnya 25%. Tidak ada perubahan pada perhitungan inflasi inti.  Penurunan inflasi umum di bulan Januari terjadi akibat inflasi pangan yang turun dari 6.2% YoY di Desember ke 5.8% YoY, terutama dipicu oleh penurunan harga cabai, telur, dan daging. Inflasi transportasi juga turun ke 1.1% di Januari dari 1.3% di Desember 2023, mencerminkan penurunan harga BBM dan tiket pesawat. Inflasi inti yang rendah menunjukkan pertumbuhan upah tetap lemah, konsisten dengan kenaikan UMR yang sangat minim. 

 

Pertumbuhan PDB kuartal terakhir 2023 tercatat 5.04%, naik dari 4.94% di kuartal tiga, dan membuat pertumbuhan PDB 2023 keseluruhan tercatat sebesar 5.05%, turun dari 5.31% di tahun 2022. Konsumsi rumah tangga turun dari 5.1% ke 4.5%, dipicu penurunan segmen menengah atas, namun terbantu oleh kenaikan di segmen menengah bawah, ditopang peningkatan belanja pemilu dan bantuan sosial. Sementara itu, belanja institusi non profit meningkat dari 6.2% di kuartal ketiga ke 18.3%, terkait pemilu. Industri manufaktur mencatat pertumbuhan 4.64% YoY, berkontribusi 0.95% pada PDB, terutama didorong oleh industri logam dasar dan peralatan kelistrikan yang tumbuh 14.2% dan 13.7% secara tahunan.  Tiga provinsi yang tumbuh paling tinggi adalah Maluku Utara (20.5% YoY), Sulawesi Tengah (11.9%), dan Kalimantan Timur (6.2%), sejalan dengan pertumbuhan hilirisasi industri dan pembangunan IKN. 

 

PASAR SAHAM
 

Sejumlah data yang muncul memperkuat narasi bahwa The Fed belum akan segera menurunkan suku bunga.  Sementara  dari pasar saham Amerika Serikat, pertumbuhan laba perusahaan teknologi mendorong kinerja indeks S&P dan Nasdaq.  MSCI World +1.14% di bulan Januari, sementara kekhawatiran mengenai ekonomi China menekan kinerja MSCI Asia ex Jepang (-4.82%). MSCI Emerging Market turun -4.68%.  IHSG terkoreksi -0.89%. Namun terjadi arus masuk dana asing sebesar USD534.2 Juta. Sektor konsumer siklikal menguat +4.37% dan finansial menguat +3.81%, menjadi yang terunggul.  Sementara sektor teknologi (-6.93%) dan kesehatan (-4.33%) menjadi pemberat utama. 

 

Fundamental Indonesia yang kuat (seperti posisi fiskal, nilai tukar dan inflasi yang terjaga, pertumbuhan PDB yang stabil, serta rasio utang yang sehat), dan suku bunga acuan The Fed yang sudah mendekati puncak, serta pemulihan China yang tidak sesuai harapan diperkirakan dapat menopang selera investor asing untuk memilih Indonesia. Pasar saham Indonesia diperdagangkan pada valuasi yang atraktif, lebih rendah dari rata-rata 10 tahun terakhir. Kami terus percaya bahwa perekonomian Indonesia akan tetap positif dan juga tetap optimis akan daya tarik investasi jangka panjang di Indonesia.

 

PASAR OBLIGASI
 

Pasar obligasi membuka tahun dengan positif, indeks BINDO mencatatkan kenaikan +0.52% di Januari, walaupun ada kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun dari 6.45% ke 6.57%. Kenaikan imbal hasil ini sejalan dengan UST 10 tahun yang imbal hasilnya juga naik dari 3.88% ke 3.91%.  Data-data makroekonomi yang lebih baik dari perkiraan seperti non farm payroll, ISM Manufacturing PMI, dan juga Michigan Consumer Sentiment, berkontribusi pada volatilitas yang terjadi di bulan Januari di mana imbal hasil UST 10 tahun bahkan sempat melonjak sampai 4.18%. Namun pada akhirnya imbal hasil turun ke 3.91% setelah The Fed memberi sinyal bahwa kenaikan lebih lanjut Fed Funds Rate sepertinya tidak akan terjadi, di tengah tren inflasi yang menurun.

 

Sementara dari pasar domestik, BI mempertahankan suku bunga acuan di level 6.00%. Keputusan ini ditopang oleh inflasi Januari yang jinak. Sepanjang bulan, permintaan pada lelang obligasi pemerintah tercatat marak dan konsisten, dengan kenaikan permintaan di lelang terakhir Januari sebesar IDR73.24 triliun (naik 84% dibandingkan lelang pertama di awal bulan Januari sebesar IDR39.8 triliun).  Perbaikan permintaan ini menopang kebangkitan pasar obligasi setelah terjadinya koreksi di awal bulan.

 

Investor asing membukukan penjualan bersih senilai IDR0.17 triliun, membuat kepemilikan asing turun ke 14.76% dari bulan sebelumnya 14.93%. Bank Indonesia menambah kepemilikan IDR8.54 triliun, namun persentase kepemilikan turun dari 24.19% ke 24.06%. Perbankan komersial menjadi pembeli terbesar di periode ini, menambah kepemilikan IDR31.81 triliun membuat persentase kepemilikan melonjak ke 22.06%. Investor individu dan lain-lain tetap menjadi  mencatat beli bersih, dengan kepemilikan naik ke 17.53% dari sebelumnya 17.51%. Walaupun asuransi dan dana pensiun juga mencatat beli bersih, kepemilikannya tidak bergerak di 18.47%. Reksa dana mencatatkan kenaikan sebesar IDR0.18 triliun, namun persentase kepemilikan turun ke 3.12%. 

 

Di bulan Januari kurva imbal hasil bergerak bearish, dengan imbal hasil obligasi tenor pendek 2 tahun turun, sementara tenor lainnya meningkat, membuat bagian kurva jangka pendek terlihat curam sementara bagian kurva lain mendatar.  Imbal hasil tenor 2 tahun turun 19bps. Sebaliknya imbal hasil tenor 5 tahun naik 8bps, 10 tahun naik 12bps, dan 15 tahun naik 13bps. Imbal hasil tenor panjang juga naik, dengan tenor 20 tahun dan 30 tahun masing-masing naik 7 dan 2bps.

 

 

 

Unduh Dokumen



  • IDB: Pemerintah berkomitmen menjaga disiplin fiskal

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
  • IWH: Outlook defisit fiskal AS melebar

    Investment Weekly Highlights

    Baca selengkapnya
  • IDB: Pelemahan sektor teknologi menekan kinerja pasar saham global

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
Lihat semua

Waspada modus penipuan mengatasnamakan MAMI. Selengkapnya

View more

Pastikan untuk membeli Reksa Dana Manulife melalui MAMI atau mitra distribusi kami. 

View more

Waspada modus penipuan mengatasnamakan MAMI. Selengkapnya

View more

Pastikan untuk membeli Reksa Dana Manulife melalui MAMI atau mitra distribusi kami. 

View more