15 Oktober 2026

Bulan ini kami mengetengahkan komentar pasar terkini dari Senior Portfolio Manager - Fixed Income, PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, Syuhada Arief.
Setelah lebih dari 3 tahun bergeming, akhirnya di bulan September 2026 The Fed mengambil keputusan kenaikan Fed Funds Rate (FFR). Bagaimana Anda menanggapinya?
Keputusan The Fed ini dipercaya dapat meningkatkan kredibilitas Fed dan pengakuan bahwa perekonomian Amerika Serikat (AS) masih sangat kuat dengan inflasi di atas target. Indeks PMI manufaktur maupun jasa melaju ke level tertinggi dalam 5 tahun terakhir, mencerminkan resiliensi konsumsi di tengah tingginya harga energi. Masalahnya, ekonomi yang terlalu kuat ini justru mempersulit upaya penurunan inflasi ke kisaran targetnya. Komenter Fed Chairman Kevin Warsh sangat lugas: “Inflation has been too high, for too long.”
Terkait pasar obligasi, menurut kami sebenarnya yang lebih penting bukan kenaikan kemarin, tapi revisi proyeksi tingkat suku bunga netral jangka panjang dari sebelumnya di 3.0% menjadi 3.2%. Hal ini mengkonfirmasi bahwa – setidaknya untuk saat ini – era suku bunga rendah sudah berlalu. Imbas langsungnya, sampai akhir September kemarin saja imbal hasil UST 10 tahun melonjak ke level 5.11%, tertinggi sejak tahun 2007. Kita harus menyadari bahwa saat ini kita memasuki rezim di mana suku bunga yang lebih tinggi mulai menjadi the new normal dan bukan sekadar siklus sementara.
Banyak bank sentral di berbagai kawasan menaikkan suku bunga acuan. Apakah kebijakan ini sebagai respons kenaikan inflasi, atau untuk memberikan bantalan bagi mata uangnya dari penguatan Dolar AS?
To some extend, gabungan keduanya, walaupun kadarnya berbeda-beda. Kebanyakan negara yang menaikkan suku bunga dipersatukan oleh benang merah yang sama, mengalami kenaikan inflasi akibat lonjakan harga minyak dan tekanan yang dialami diperparah oleh tren penguatan Dolar AS. Zona Euro menaikkan suku bunga 25 bps ke 2.5% karena inflasi tahunan komponen energi sudah mencapai 14.3%. Jepang menaikkan suku bunga di tengah pelemahan Yen dan kenaikan biaya produsen. Pola serupa terjadi di Selandia Baru, Korea Selatan, Afrika Selatan. Khusus negara-negara Teluk, suku bunga naik serentak setelah kenaikan FFR karena mekanisme currency peg atau nilai tukar tetap terhadap Dolar AS. Sinkronisasi kenaikan suku bunga membuat investor obligasi harus semakin lincah mencari ‘tempat berlindung’ dari tekanan kenaikan imbal hasil global. Di sinilah pentingnya seleksi pasar dan pengelolaan aktif portofolio.
Bagaimana dengan Bank Indonesia (BI) yang mengambil arah berbeda sendiri dengan mempertahankan BI Rate. Apakah ini langkah yang tepat? Atau justru di bulan-bulan mendatang BI harus agresif melakukan sinkronisasi global menaikkan suku bunga kembali?
Belum tentu harus. Langkah BI tidak menaikkan BI Rate di beberapa bulan terakhir sebenarnya adalah buah dari langkah preemptif yang telah dilakukan. Di paruh pertama di paruh pertama tahun ini BI sudah menaikkan suku bunga acuan 100 bps yang merupakan kenaikan terbesar di Asia, mendahului gelombang kenaikan suku bunga global di paruh kedua. Karena sudah bergerak lebih dulu, BI kini punya ruang untuk menahan suku bunga dan mengupayakan bauran kebijakan lainnya untuk menjaga stabilitas Rupiah maupun pengendalian inflasi.
Dari sisi inflasi, angka terakhir di 3.2% masih dalam ambang batas target BI 3.5%. Inflasi yang masih cukup terkendali ini tertopang oleh subsidi BBM yang dipertahankan pemerintah. Bagi pasar obligasi domestik, angka inflasi ini menjadi acuan potensi kebijakan BI Rate lebih lanjut. Saat ini kami perkirakan kenaikan BI Rate agresif ke depannya sudah sangat terbatas, tapi sebaliknya, ruang penurunan pun belum akan terlihat dalam waktu dekat, mengingat adanya risiko inflasi pangan terkait El Niño sampai dua kuartal ke depan.
Berbicara mengenai subsidi BBM, bagaimana dengan kondisi fiskal terkini?
Relatif dibandingkan dengan kawasan, kondisi fiskal Indonesia sebenarnya cukup aman. Rasio debt to GDP sebesar 41% jauh lebih rendah dibandingkan Korea, Filipina, Thailand dan India yang semuanya lebih besar dari 50%. Proyeksi defisit fiskal 2026 juga tetap ditargetkan tidak melebihi 3%. Namun memang kualitas fiskalnya yang masih potensial untuk terus dibenahi. Salah satu contoh saja, lembaga pemeringkat Fitch sempat menyorot rasio penerimaan negara terhadap PDB di kisaran 13% yang jauh di bawah median negara peringkat BBB di 25.5%. Demikian juga dengan rasio beban bunga terhadap penerimaan negara yang juga menjadi salah satu yang tertinggi dibandingkan peers dengan peringkat setara. Angka-angka ini mengindikasikan bahwa walaupun utang Indonesia relatif kecil, namun ruang fiskal untuk merespons potensi guncangan masih belum maksimal.
Di tengah tekanan ini, bagaimana Anda melihat posisi pasar obligasi Indonesia?
Di sinilah cerita Indonesia menjadi menarik. Sepanjang tahun berjalan sampai akhir September, imbal hasil SBN 10 tahun memang melonjak tinggi naik 107 bps yang merupakan salah satu kenaikan terbesar di kawasan. Tapi di 30 hari terakhirnya kenaikannya hanya 14bps, salah satu yang terendah di kawasan. Artinya laju kenaikannya sudah jauh mereda dan dapat diartikan bahwa mayoritas kekhawatiran dan risiko domestik yang ada sudah masuk diperhitungkan ke dalam imbal hasil ‘yang diminta’ oleh investor, dan kita harapkan ke depannya pasar dapat mulai stabil.
Dari angka absolutnya, imbal hasil SBN 10 tahun di kisaran 7.2% sangat kompetitif jika dibandingkan terutama dibandingkan dengan negara-negara yang menawarkan imbal hasil lebih rendah dibandingkan UST yang dianggap sebagai patokan risk free rate. Dari sisi spread atau selisih imbal hasil terhadap UST, spread saat ini di kisaran 200 bps justru masih lebih rendah dibandingkan dengan historikal 1 tahun terakhir di kisaran 230 bps. Artinya obligasi Indonesia saat ini mulai menawarkan keseimbangan yang menarik antara tingkat imbal hasil yang tinggi dan persepsi risiko yang tidak lagi terus memburuk.
Lalu, apa risiko yang harus diperhatikan oleh investor obligasi saat ini?
Setidaknya ada dua faktor, yaitu ketahanan eksternal terutama kaitannya dengan tekanan nilai tukar, dan yang kedua adalah arah imbal hasil obligasi pemerintah AS atau UST.
Surplus perdagangan yang menipis akibat kenaikan impor minyak membuat ketahanan eksternal semakin bergantung pada arus dana asing. Di lain pihak, arus dana asing juga saling berkaitan dengan nilai tukar Rupiah yang juga sangat dipengaruhi oleh kebijakan global, terutama AS dan The Fed. Nilai tukar & arus dana, tentu berdampak pada pasar obligasi.
Yang kedua adalah arah imbal hasil UST. Kenaikan imbal hasil UST ke level saat ini kami nilai telah mencerminkan sebagian besar risiko kenaikan suku bunga global, bahkan berpotensi mengalami overshoot. Namun terlepas dari pandangan tersebut, kami tetap terus mencermati perkembangan inflasi AS, kebijakan fiskal, demand pasar terhadap UST, serta perubahan ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan The Fed. Jika tekanan pada UST bertahan lebih lama, dampaknya dapat merambat ke pasar obligasi domestik melalui kenaikan premi risiko, volatilitas arus dana asing, dan tekanan terhadap Rupiah. Karena itu, pengelolaan durasi dan pemilihan tenor tetap dilakukan secara selektif dan terukur.
Jika berandai-andai, kondisi apa yang Anda harapkan terjadi, sebelum Anda lebih yakin untuk mulai mengimplementasikan strategi yang lebih agresif dalam pengelolaan portofolio?
Kami akan lebih percaya diri untuk lebih agresif menambah risiko apabila perbaikan fundamental mulai diikuti pemulihan kepercayaan pasar. Indikatornya antara lain stabilitas Rupiah yang lebih konsisten, tekanan suku bunga yang mereda, arus dana asing yang lebih berkelanjutan, dan kebijakan yang semakin dapat diprediksi. Jika faktor-faktor tersebut bergerak searah, peluang re-rating akan lebih kuat dan tidak hanya bertumpu pada valuasi murah. Sebelum konfirmasi tersebut terlihat, portofolio tetap dikelola secara selektif. Kami menjaga keseimbangan antara saham defensif dan saham yang dapat menangkap pemulihan ekonomi, dengan fokus pada emiten yang memiliki arus kas sehat, neraca kuat, daya tawar terhadap biaya, dan visibilitas laba yang baik.
Menyambung penyampaian Anda terkait pengelolaan, bagaimana strategi pengelolaan portofolio reksa dana obligasi MAMI saat ini, baik untuk reksa dana berdurasi pendek maupun menengah panjang?
Iklim suku bunga tinggi mengerek naik imbal hasil pasar obligasi, baik melalui pendapatan kupon yang lebih tinggi maupun potensi kenaikan harga apabila siklus pengetatan moneter pada akhirnya berbalik arah. Meski demikian, ketidakpastian arah inflasi ke depan – mempertimbangkan faktor geopolitik dan El Niño serta tren suku bunga global terutama AS – membuat pengelolaan durasi perlu dilakukan secara terukur, bukan sekadar menambah eksposur dengan agresif tanpa perhitungan.
Untuk reksa dana berdurasi pendek, kami berfokus pada optimalisasi pendapatan dengan menjaga sensitivitas portofolio terhadap perubahan suku bunga tetap terkendali. Sementara itu, pada reksa dana berdurasi menengah-panjang, kami cenderung memprioritaskan tenor pendek hingga menengah, termasuk area sekitar tujuh tahun, yang saat ini menawarkan keseimbangan risiko dan potensi imbal hasil yang relatif lebih baik.
Jika dalam jangka pendek sampai akhir tahun ini The Fed masih terus hawkish yang diikuti dengan imbal hasil UST yang juga terus merayap naik, kami akan mengevaluasinya sebagai peluang untuk menambah eksposur secara bertahap dan selektif. Tentu saja besarnya penambahan tetap akan disesuaikan dengan perkembangan inflasi, likuiditas pasar, nilai tukar, serta daya tarik relatif antar segmen kurva imbal hasil. Dengan pendekatan ini, portofolio diarahkan tidak hanya untuk menangkap tingkat imbal hasil yang lebih tinggi, tetapi juga menjaga ketahanan terhadap perubahan kondisi pasar.
Monthly Market Review September 2026
Baca selengkapnyaIWH: FTSE putuskan pasar saham Indonesia tetap di Emerging Market
Investment Weekly Highlights
IWH: Ekspektasi kenaikan Fed Funds Rate lebih gradual
Investment Weekly Highlights