19 Oktober 2026
Pasar saham Amerika Serikat bergerak melemah sepanjang pekan, di tengah aksi jual pada saham terkait AI dan tekanan inflasi yang lebih tinggi dari ekspektasi. Indeks S&P 500 turun -1.95% dan Nasdaq 100 turun -5.49%, sementara indeks Dow Jones +0.67%, mencerminkan rotasi investor dari saham growth berkapitalisasi besar menuju saham value dan sektor yang lebih defensif. Tekanan pada sektor teknologi terutama dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap keberlanjutan investasi AI. Investor mulai lebih mencermati kebutuhan pendanaan, valuasi, serta potensi imbal hasil dari belanja infrastruktur AI yang besar. Di sisi lain, meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah semakin mendorong kekhawatiran inflasi dan potensi kenaikan suku bunga global. Harga minyak Brent naik ke level USD109 per barel, level tertinggi sejak Mei 2026, dibayangi serangan Ukraina terhadap fasilitas minyak Rusia dan serangan Iran terhadap kapal tanker minyak di kawasan Teluk Persia. Inflasi AS kembali menjadi perhatian, di mana inflasi CPI September meningkat menjadi 3.7% YoY, melampaui ekspektasi 3.6%, sementara inflasi produsen mencapai 6.3%. Penjualan ritel tumbuh 0.8%, tetapi kenaikan tersebut sebagian besar didorong oleh peningkatan penjualan BBM imbas kenaikan harga minyak. Sementara itu, klaim pengangguran awal tetap rendah di 199 ribu, mengindikasikan pasar tenaga kerja yang masih relatif solid. Sementara itu yield UST 10Y turun dari 5.24% ke 5.07%.
Pasar saham kawasan Asia melemah pekan lalu dengan indeks MSCI Asia Pacific turun -3.87%, terutama dipengaruhi oleh pelemahan dalam di sektor teknologi. Iklim inflasi dan ekspektasi pengetatan suku bunga agresif menekan growth stocks dan saham AI yang dipandang membutuhkan pembiayaan dalam siklus investasi infrastruktur AI. Pasar Korea Selatan menjadi salah satu yang melemah terdalam (indeks Kospi -14.46%) pekan lalu di tengah melemahnya selera pasar terhadap saham teknologi. Pasar Taiwan juga melemah dengan indeks Taiex -4.47%. Pasar China turut melemah walau relatif lebih resilien. Indeks CSI 300 turun -3.40% dan indeks Hang Seng Hong Kong turun tipis -0.10% dipengaruhi tekanan pada saham semikonduktor dan AI membebani sentimen. Dari sisi ekonomi, ekspor China tumbuh kuat sebesar 36.3% YoY di September, sementara surplus perdagangan mencapai rekor USD133.5 miliar.
Di domestik, pasar saham melemah setelah MSCI membuka konsultasi potensi penurunan status Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market karena faktor investabilitas dan penegakan regulasi. Klasifikasi standalone berarti pasar saham Indonesia akan keluar sepenuhnya dari indeks global MSCI, sehingga membuka risiko keluarnya dana asing lebih lanjut dari pasar Indonesia, terutama dari investor yang menggunakan MSCI sebagai acuan. Risiko dana asing yang keluar dari 'investor pasif' diperkirakan di kisaran USD5 miliar hingga USD6 miliar apabila Indonesia resmi menjadi Standalone Market, belum memperhitungkan porsi 'investor aktif'. MSCI membuka periode konsultasi hingga April 2027, dan tenggat keputusan final di akhir Juni 2027. OJK menyatakan akan memperkuat penegakan hukum di sektor pasar modal, dan mengumumkan sanksi denda kepada pihak yang terkait pelanggaran transaksi DSSA, BREN, dan CUAN, dengan total kumulatif IDR2.1 triliun. IHSG melemah -11.57% di Jumat lalu, yang merupakan pelemahan harian terdalam sejak 1998. Secara mingguan IHSG turun -14.91% dengan investor asing mencatat penjualan bersih IDR3.18 triliun di pasar saham. Indeks obligasi BINDO turun -0.58% dengan yield SBN 10Y naik dari 7.21% ke 7.36%. Nilai tukar Rupiah melemah-0.72% terhadap USD ke level 18012 di tengah tekanan jual asing. Pekan ini pasar menantikan rapat Bank Indonesia di 21 Oktober, dengan ekspektasi konsensus BI Rate bertahan di 5.75%, walau tekanan kenaikan suku bunga semakin menguat di tengah pelemahan Rupiah.
Investment Note: MSCI mempertimbangkan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia
Baca selengkapnyaSeeking Alpha Oktober 2026: Menyikapi kenaikan pesat imbal hasil US Treasury
Seeking Alpha
Monthly Market Review September 2026
Baca selengkapnya