3 Maret 2026
Dr. Katarina Setiawan
Chief Economist & Investment Strategist
Kondisi Makroekonomi Indonesia
Pada 28 Januari 2026 Amerika Serikat meluncurkan serangan terhadap Iran yang mengakibatkan kematian pemimpin tertinggi Iran. Hal ini berakibat terganggunya pengiriman melalui Selat Hormuz, jalur penting bagi sekitar 20% aliran minyak global, yang saat ini telah menjadi zona perang.
Selain itu, Iran adalah prosdusen dan eksportir besar minyak yang mereprensentasikan sekitar 5% dari produksi global, dan sekitar 2% dari ekspor global. Oleh karena itu, kenaikan harga minyak merupakan konsekuensi utama yang jelas dari perang tersebut.
Karena Indonesia merupakan importir minyak, kenaikan harga minyak akan menekan surplus perdagangan dan nilai tukar Rupiah, serta memperlebar defisit fiskal.
Dalam jangka pendek kami memperkirakan volatilitas pasar akan meningkat, kebijakan moneter menjadi lebih hati-hati, dan menurunnya selera risiko investor (investor risk appetite). Namun, belajar dari pengalaman masa lalu, perang dan dampaknya kemungkinan hanya berlangsung singkat.
Misalnya, pada 13 Juni 2025 Israel melancarkan serangan terhadap Iran, meskipun cakupannya lebih terbatas, dengan perang berlangsung selama 12 hari. Harga minyak mentah Brent melonjak sekitar 9% pada hari pertama tetapi kemudian turun sekitar 4% setelah perang. Rupiah terdepresiasi sekitar 0,7% pada hari pertama, tetapi kemudian dalam sepuluh hari kembali ke level sebelum serangan terjadi.
Kami merekomendasikan investor untuk menghindari kepanikan saat mengambil keputusan investasi dalam periode ketidakpastian yang tinggi ini, dengan tujuan untuk membuahkan hasil investasi yang lebih baik dalam jangka panjang.
Ezra Nazula
Director & Chief Investment Officer, Fixed Income
Startegi investasi Reksa Dana Pendapatan Tetap
Pada umumnya strategi portofolio Pendapatan Tetap berada pada posisi underweight durasi dibandingkan benchmark dengan risk-off sentimen dari kondisi geopolitik ini. Kami memperkirakan kurva imbal hasil dapat mengalami steepening seiring masih adanya ekspektasi penurunan suku bunga, sehingga kami tetap memfavoritkan tenor pendek dari kurva.
Untuk portofolio yang berinvestasi pada obligasi korporasi, karena spread yang ditawarkan di pasar masih ketat, kami memilih untuk menunggu hingga terlihat premi risiko yang lebih menarik. Kami akan memantau potensi efek dari tingginya harga energi dan sentimen risiko global, dan berpotensi menambah eksposur risiko apabila koreksi pasar telah mencapai tingkat imbal hasil ekuilibrium yang baru.
Samuel Kesuma
Chief Investment Officer, Equity
Strategi investasi Reksa Dana Saham
Saat ini strategi portofolio saham cenderung defensif dengan posisi overweight di sektor consumer staples dan heath care. Selain faktor risiko geopolitik, risiko terkait evaluasi MSCI juga mendasari keputusan untuk menerapkan strategi yang defensif saat ini. Adapun posisi overweight secara selektif di beberapa emiten di sektor pertambangan dan energi berpeluang memberikan kontribusi positif, didukung penguatan harga komoditas dan nilai tukar USD.
Kami akan tetep berfokus pada perspektif fundamental jangka panjang emiten dan terus memantau peluang yang ada dari koreksi pasar saat ini.


Investment Note: MSCI mempertimbangkan perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia
Baca selengkapnyaSeeking Alpha Oktober 2026: Menyikapi kenaikan pesat imbal hasil US Treasury
Seeking Alpha
Monthly Market Review September 2026
Baca selengkapnya