Skip to main content
Back

Global Macro Outlook Q4 2022: Pendakian yang berat ke depannya

7 Oktober, 2022

Macroeconomic Strategy Team

Periode perlambatan pertumbuhan

Para investor yang mengharapkan kembalinya kondisi perdagangan yang “Goldilocks” mungkin akan harus kecewa di beberapa bulan ke depan. Menurut kami, gambaran pertumbuhan global – yang akan tercermin pada kondisi perdagangan – tampaknya akan terus memburuk selama sisa tahun 2022 dan akan tetap lemah pada paruh pertama 2023.

Saat ini kebanyakan komentar-komentar pasar tampaknya terlalu terfokus pada apakah ekonomi global atau kawasan tertentu akan terperosok ke dalam jurang resesi. Namun menurut kami narasi-narasi seperti itu tidaklah banyak membantu. Yang lebih penting saat ini adalah untuk mengetahui sesegera apa kita akan memasuki periode pertumbuhan yang sangat lambat, serta berapa lama kondisi tersebut akan berlangsung. Kami perkirakan hal tersebut mungkin akan berlangsung antara empat hingga enam kuartal. Sebagai konteks; kami memperkirakan AS, Kanada, dan Eropa akan memasuki resesi tahun depan: dinamika stagflasi – yang diperparah oleh invasi Rusia ke Ukraina – akan tetap memegang peranan dan menjadi tantangan bagi aset-aset berisiko.

Dinamika stagflasi dapat berlanjut hingga akhir 2022, YoY (%)

Sumber: Bloomberg, Macrobond, Manulife Investment Management, per 15 September 2022. YoY mengacu pada year over year. Area berwarna abu-abu mewakili kondisi resesi.

Kondisi-kondisi makro yang dapat memengaruhi kondisi pasar dalam beberapa bulan ke depan

1 Perlambatan pertumbuhan di China

Beban ekonomi yang ditimbulkan oleh kebijakan zero-COVID yang dinamis di negara tersebut meningkat seiring dengan ketakutan akan adanya lockdown berskala besar lagi. Pertumbuhan global yang melambat juga dapat berarti menurunnya minat global terhadap ekspor China.

2 Tekanan inflasi mereda, namun angka inflasi akan tetap tinggi

Tekanan inflasi akan mulai mereda secara bertahap selama beberapa bulan ke depan, tapi kemungkinan akan tetap berada pada level yang tinggi selama sisa tahun 2022 sampai memasuki tahun depan.

3 Pengetatan oleh bank sentral sebagai hambatan bagi pertumbuhan

Pengetatan oleh bank-bank sentral global baik di pasar negara maju maupun berkembang akan berkontribusi pada memburuknya kondisi likuiditas global serta menjadi penghambat bagi pertumbuhan.

Gambaran besar beberapa kawasan utama

Overview pasar global

Kombinasi berbagai hambatan berupa inflasi yang tinggi, pengetatan likuiditas, serta krisis pangan dan energi, memberikan dampak negatif yang lebih besar terhadap pasar negara berkembang (EM) daripada pasar negara maju.

Dalam kondisi pertumbuhan ekonomi global yang memburuk, inflasi yang tinggi, serta sentimen negatif dari para investor, pasar global selama satu kuartal terakhir telah berusaha untuk price in terhadap kenaikan suku bunga bank sentral yang semakin hawkish, yang menimbulkan lonjakan volatilitas yang tajam pada semua kelas aset.

Pasar pendapatan tetap global mengalami sell-off yang tajam selama kuartal tersebut, dengan yield Treasury AS tenor dua tahun melonjak ke level tertinggi sejak 2007 sebesar 3,92% (Sumber: Bloomberg per 26 September 2022). Ekuitas global mengalami perdagangan terburuknya sejak Juni 2020, sementara dollar AS (USD) menguat ke level tertingginya dalam beberapa dekade terakhir karena para investor memilih untuk memegang dollar sebagai safe haven di tengah kondisi yang tidak pasti.

Kinerja pasar negara berkembang (EM) lebih buruk daripada pasar negara maju (DM), memperlihatkan fakta bahwa kombinasi headwinds yang berupa inflasi yang tinggi, pengetatan likuiditas, serta krisis pangan dan energi yang terus berlanjut memberikan dampak negatif yang lebih besar terhadap perekonomian emerging market daripada developed market.

Meski kebanyakan investor telah memperkirakan bahwa Federal Reserve AS akan melakukan pivot menjadi lebih dovish di tahun depan, namun mereka tidaklah terlalu yakin akan adanya perubahan signifikan dalam kebijakan moneter AS.

Amerika Serikat

“Kapan kondisi akan menjadi lebih baik? Kami yakini pada pertengahan 2023. Kita akan sampai pada titik di mana para pembuat kebijakan akan kembali memprioritaskan dukungan untuk mengatasi melambatnya perekonomian.”

Sejauh ini inflasi masih menjadi sumber kekhawatiran terbesar di Amerika Serikat. Dengan tidak adanya pelonggaran yang berarti terhadap tekanan harga, The Fed, yang terpaksa untuk terus melakukan pengetatan hingga downtrun, tampaknya tidak akan punya pilihan lain selain terus menaikkan federal funds rate di atas level yang telah diperkirakan oleh pasar saat ini.

Dampak dari kebijakan yang diambil The Fed kini mulai terlihat – industri perumahan di AS memburuk karena affordability yang menurun, serta survei-survei bisnis juga menunjukkan kenyataan yang lebih suram. Dengan asumsi akan adanya penundaan transmisi kebijakan moneter kepada perekonomian riil seperti yang sudah biasa terjadi, berkurangnya akses atas pembiayaan murah kemungkinan akan menular pada bidang investasi konsumsi dan bisnis lainnya dalam bulan-bulan mendatang.

Kapan kondisi akan menjadi lebih baik? Kami yakini pada pertengahan 2023. Kita akan sampai pada titik di mana para pembuat kebijakan akan kembali memprioritaskan dukungan untuk mengatasi melambatnya perekonomian. Evolusi ini akan memberikan ruang bagi The Fed untuk menghentikan siklus pengetatannya di awal tahun depan, serta kemungkinan dilakukannya pelonggaran kebijakan di paruh kedua tahun tersebut.

Eropa

Krisis energi di Eropa berevolusi dari sekedar guncangan harga inflasi menjadi kondisi di mana kemungkinan dilakukannya pembatasan pasokan energi dapat mengarah pada penutupan perekonomian (economic shutdown).

Outlook perekonomian Eropa tampak semakin suram. Krisis energi yang berlangsung di benua tersebut berevolusi dengan cepat dari sekedar guncangan harga inflasi menjadi kondisi di mana kemungkinan dilakukannya pembatasan pasokan energi dapat mengarah pada penutupan perekonomian (economic shutdown) – sebuah kondisi yang sama yang terjadi pada Maret dan April 2020. Menurut pandangan kami, risiko atas pertumbuhan di kawasan tersebut tetap downside. Upaya-upaya fiskal untuk memitigasi beban ekonomi yang ditimbulkan oleh krisis energi merupakan risiko upside terhadap inflasi inti, mengingat semua dukungan yang diberikan difokuskan pada yang paling rentan. Pengetatan kebijakan yang dilakukan oleh European Central Bank (ECB) mendatangkan headwind tambahan serta membawa risiko limpahan yang cukup besar berupa spread obligasi negara yang lebih lebar. Sementara perkembangan politik yang baru terjadi memperlihatkan adanya pergeseran di sejumlah negara. Saat ini, perkembangan tersebut hanya memberikan risiko yang minimal terhadap integritas mata uang euro (EUR), namun kami pikir hal tersebut dapat menjadi tantangan bagi kerangka kerja fiskal yang telah ada maupun terhadap kebijakan-kebijakan sosial yang lebih luas, terutama yang menyangkut keimigrasian.

Asia Pasifik

Kami melihat adanya penurunan inflasi tahunan di 6 dari 11 negara di kawasan tersebut pada bulan Agustus, naik dari yang sebelumnya hanya 1 di bulan Juni. Bila tren ini berlanjut, hal ini akan mendukung gagasan mengenai siklus pengetatan yang lebih dangkal dan pendek.

Meski kawasan ini tengah menghadapi tiga guncangan utama – The Fed yang bersikap agresif, kekhawatiran mengenai akan terjadinya resesi global, serta krisis pangan dan energi yang terus meningkat – Asia Pasifik dapat bertahan dengan relatif cukup baik. Ekspektasi pertumbuhan di kawasan ini tidak berubah, tetap bertahan di sekitar 4,5%, bahkan ketika prakiraan pertumbuhan global telah dipangkas dari 3,6% ke 2,7% sejak invasi Rusia ke Ukraina.1 Kawasan ini secara keseluruhan menerima keuntungan dari pembukaan kembali perekonomian dan diversifikasi rantai pasokan global. Negara-negara ASEAN – dengan pengecualian – memperoleh keuntungan tambahan dari kondisi demografisnya favorable serta tren konsumsi. Di kawasan ini, India dan Vietnam tetap menjadi negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di tahun ini serta tahun depan. Menyangkut inflasi, meskipun ekspektasi mengenai inflasi telah direvisi naik dengan agresif di tahun ini, puncaknya diperkirakan akan tetap lebih rendah daripada di siklus sebelumnya. Yang terpenting, inflasi di kawasan ini jauh lebih rendah daripada di wilayah lain manapun di seluruh dunia. Yang paling menggembirakan, kami melihat adanya penurunan inflasi tahunan di 6 dari 11 negara di kawasan tersebut pada bulan Agustus, naik dari yang sebelumnya hanya 1 di bulan Juni.1 Bila tren ini berlanjut, hal tersebut akan memberikan rasa tenang kepada para pembuat kebijakan serta akan dapat mendukung gagasan mengenai siklus pengetatan yang lebih dangkal dan pendek.

China

“Meskipun prakiraan konsensus mengenai pertumbuhan PDB di 2022 telah direvisi turun dengan cukup signifikan, kami tetap menilai bahwa ekspektasi mengenai pertumbuhan jangka menengah dan panjang untuk Tiongkok masih terlalu optimistis”.

Tantangan utama bagi pertumbuhan ekonomi Tiongkok belum berubah: disrupsi rantai pasokan yang masih berlanjut, terutama untuk komoditas sumber daya strategis; meningkatnya biaya ekonomi akibat kebijakan zero-COVID, yang akan terus membebani upaya penyeimbangan kembali perekonomian dan transisi menuju pertumbuhan yang didorong oleh konsumsi; kondisi sektor properti yang terus memburuk; serta pertumbuhan ekspor yang melambat karena melemahnya permintaan global. Meskipun prakiraan konsensus mengenai pertumbuhan PDB di 2022 telah direvisi turun dengan cukup signifikan, kami tetap menilai bahwa ekspektasi mengenai pertumbuhan jangka menengah dan panjang untuk Tiongkok masih terlalu optimistis. Kami memperkirakan bahwa prakiraan-prakiraan tersebut akan ter-downgrade lebih lanjut di tengah meningkatnya utang, tantangan demografis yang intens, serta perekonomian global yang terus menunjukkan kondisi zero-sum. Menurut kami, respon stimulus yang diberikan oleh pihak yang berwenang masih belum cukup, terutama mengingat besarnya tantangan yang harus dihadapi oleh negara ini. Yang lebih mengkhawatirkan lagi, kemerosotan yang terjadi pada pasar tenaga kerja di Tiongkok melaju semakin cepat.

Beberapa bulan ke depan penuh tantangan

Menurut kami, prediksinya cukup jelas: kita akan memasuki periode pasar yang berisiko, setidaknya untuk jangka pendek. Kondisi geopolitik yang lebih luas tidak akan banyak membantu, di mana dua event penting – Kongres Partai Komunis China di bulan Oktober serta pemilu sela Amerika Serikat di akhir 2022 – akan mendominasi perhatian pasar. Di saat seperti ini, meningkatkan ketangguhan portofolio sangatlah penting. Walaupun memang kesempatan dapat muncul di tengah ketidakpastian dan volatilitas, hanya saja penting bagi para investor untuk tidak terganggu rumor dalam jangka pendek dan lebih berfokus pada tujuan jangka panjang.

 

Unduh Dokumen

  • IDB: Fed memberi sinyal penundaan penurunan suku bunga

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
  • Investment note: Tensi geopolitik Timur Tengah terkini

    Baca selengkapnya
  • IDB: Eskalasi konflik geopolitik & data ekonomi AS yang kuat membayangi pasar finansial global

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
Lihat semua

Waspada modus penipuan mengatasnamakan MAMI. Selengkapnya

View more

Waspada modus penipuan mengatasnamakan MAMI. Selengkapnya

View more
Confirm