Skip to main content
Back

 

Mengapa Diverse Asia?

Masa pensiun sering dilihat dalam perspektif negara maju saja, di mana lengkap terdapat sistem jaminan sosial, perawatan kesehatan, serta program dana pensiun yang kuat. Sementara untuk di Asia, kita dapat memetik pelajaran menarik mengenai seperti apa program pensiun di masa depan, karena pasar keuangan di kawasan Asia pada saat ini menawarkan beragam dan tingkat perlindungan pensiun, dan dengan profil demografis yang bervariasi, akan muncul inovasi-inovasi kebijakan dalam mempersiapkan masa depan. Tujuan utama dari serial Diverse Asia ini adalah untuk menunjukkan bagaimana pasar seperti Hong Kong, Indonesia, Malaysia, dan Taiwan membangun jalan masing-masing dalam menghadapi tantangan dan menawarkan peluang baru bagi masyarakat mereka. Kami ingin menunjukkan bagaimana keanekaragaman di Asia, serta keberagaman masyarakatnya, menyediakan sebuah model potensial yang dapat dipelajari oleh kawasan lain.
 

Di seri pertama dari artikel ini, Manulife Investment Management mengeksplorasi kesiapan pensiun beberapa populasi di kawasan Asia Pasifik sambil melihat isu dan tanggapan dari Hong Kong, Indonesia, Malaysia, dan Taiwan. Isi dari artikel ini dibangun berdasarkan riset yang dilakukan oleh The Sau Po Center on Ageing di University of Hong Kong.1
 

Baca laporan kami

 

Melihat Diverse Asia melalui pendekatan kualitatif dan kuantitatif

Tujuan kami adalah untuk menyelami bagaimana kesiapan pensiun di Asia secara kontekstual serta mengeksplorasinya secara kualitatif maupun kuantitatif.

Untuk seri ini, kami memfokuskan riset kami di Hong Kong, Indonesia, Malaysia, dan Taiwan, karena mereka dapat memberikan gambaran keberagaman Asia dengan perbedaan yang mereka miliki di dalam tahapan demografisnya. Mereka memiliki populasi berusia muda (young population), populasi yang menua (ageing population), maupun yang berusia lanjut (aged population) dan pemerintah maupun industri mereka mulai memperkenalkan solusi menghadapi tantangan demografis maupun kesehatan.

Menghadapi tantangan demografis dengan menciptakan permodelan baru 

Asia sebagai rumah bagi pasar yang beragam dengan populasi berusia muda, menua, dan berusia tua, kami menemukan bahwa tidak ada pendekatan satu solusi untuk mengatasi seluruh masalah pensiun di Asia. Kami menganalisis faktor-faktor sosial ekonomi seperti usia, gender, dan struktur keluarga sebagai kunci pembahasan mengenai pensiun. Solusi yang dapat digunakan pada masyarakat Hong Kong mungkin saja tidak dapat digunakan untuk masyarakat Malaysia. Namun keberagaman adalah kekuatan, dan di saat perlu untuk mengatasi masalah kesiapan masa pensiun, negara-negara di Asia dapat saling belajar satu dengan yang lain.

Kami meyakini cara terbaik memenuhi kebutuhan pensiun kelompok masyarakat yang beragam adalah dengan memberikan berbagai sudut pandang, memicu pemikiran baru, serta membekali masyarakat dengan perangkat literasi dan digital agar mereka mampu membuat keputusan tepat serta menjadi mapan secara finansial secara jangka panjang. Seri kali ini kami buat dengan harapan mendorong semakin banyaknya diskusi langsung dan terbuka mengenai masalah ini, karena kita tidak bisa terus acuh atas faktor-faktor tersebut.

Di Manulife Investment Management, keberadaan kami di pasar Asia meninggalkan jejak investasi unik. Kami berkesempatan melayani beragam masyarakat sehingga kami mampu menyampaikan cerita mereka untuk memperlihatkan sisi Asia yang tidak dapat disampaikan oleh mereka yang tidak berada langsung di sana. Maka dengan senang hati kami menyampaikan temuan kami dan menceritakan kisah unik dari masing-masing pasar tersebut. Kami meyakini bahwa insight yang telah kami kumpulkan dapat digunakan bagi kepentingan negara-negara lain di Asia.
 

Sebuah era di mana Asia dapat mengatur lanskap pensiunnya sendiri

Populasi dunia yang menua (ageing population) saat ini menimbulkan kekhawatiran. Pergeseran demografis muncul akibat menurunnya tingkat kesuburan, rumah tangga yang makin menyusut, makin mahalnya biaya kesehatan, serta fragmentasi struktur keluarga tradisional. 

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada 2030, satu dari enam orang di dunia akan berusia 60 tahun atau lebih. Namun di luar fakta tersebut, populasi yang berbeda mengalami penuaan dengan kecepatan yang berbeda pula, hal ini terlihat paling jelas di Asia. Menurut the Asian Development Bank, pada 2030, satu dari empat orang di Asia akan berusia di atas 60 tahun, meski begitu, beberapa market di Asia Tenggara seperti Laos dan Kamboja memiliki populasi paling muda di dunia, dengan orang yang berusia di atas 65 tahun hanya 5,5% dan 4,4% dari keseluruhan populasinya. Hal ini menegaskan kenyataan bahwa Asia adalah kawasan yang sangat beragam, dengan market yang berada pada tahap pembangunan ekonomi dan demografi yang berbeda satu dengan yang lain.

Kita ambil Hong Kong sebagai contoh: Hong Kong memiliki populasi usia lanjut yang besar, dengan 19,1% dari keseluruhan populasinya berusia di atas 65 tahun, serta 24,5% orang dewasa di Hong Kong berusia antara 50 hingga 64 tahun. Ini artinya usia rata-rata populasi Hong Kong adalah 44,9 tahun, nomor dua tertinggi di AsiaMarket seperti Jepang saat ini dianggap berada pada tahap super-aged, di mana 28,7% populasinya berusia di atas 65 tahun. Sementara di sisi lain dari spektrum ini adalah Indonesia, dengan populasi yang jauh lebih muda, hanya 6,3% populasinya berusia di atas 65 tahun. Namun Indonesia menghadapi tantangan demografisnya sendiri dengan penurunan support ratio yang dramatis – angka penduduk berusia 15 hingga 64 tahun per satu orang berusia 65+, yang diperkirakan akan menurun dari angka 13,8 di tahun 2000 menjadi 4,1 di 2050 – semenjak pemerintah Indonesia mengambil inisiatif untuk mengendalikan overpopulasi di era 1970an.       

Pendek kata, seperti di banyak market di Eropa, Asia juga harus menghadapi tantangan dua arah di mana semakin banyak orang berusia lanjut memasuki masa pensiun sementara semakin sedikit orang yang berusia lebih muda yang dapat merawat mereka. Namun, meski ada tantangan semacam ini, ada pula perkembangan positif yang dapat kita lihat di beberapa market.

Perkembangan positif ini datang dalam bentuk adanya inisiatif kebijakan dari pemerintah, maupun mulai banyaknya individual yang mau mengatur sendiri rencana pensiunnya dengan mempertimbangkan opsi-opsi investasi yang tersedia. Solusinya berupa adanya dukungan dari negara dalam berbagai bentuk, banyaknya pilihan investasi di pasar yang terfokus untuk program pensiun, serta struktur keluarga. Beragamnya konsep ageing ini menjadi lahan yang subur untuk dilakukannya eksplorasi dan pengujian atas solusi-solusi yang tersedia, terutama karena Asia tidak terlalu terikat pada legacy pension system dibanding kawasan negara maju. Lebih jauh lagi, luasnya konteks demografi, ekonomi, dan sosial di Asia memberikan dinamika kepada lanskap pensiun di kawasan ini. Hasilnya, lanskap pensiun di Asia tetap lebih potensial dan positif bila dibandingkan dengan Eropa dan Amerika Serikat. 

Mendefinisikan konsep ageing pada market yang berbeda di Asia

 

Untuk memahami kompleksnya tantangan demografis di Asia serta respons terhadap tantangan-tantangan tersebut, penting bagi kita untuk mempunyai definisi yang jelas mengenai ageing di kawasan yang berbeda-beda. Definisi kami adalah sebagai berikut, berdasarkan referensi dari PBB dan Organisasi untuk Kerja sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) :
 

Young (muda) – kawasan di mana kurang dari 7% populasinya berusia 65+

Ageing (penuaan) – kawasan di mana lebih dari 7% sampai kurang dari 14% populasinya berusia 65+

Aged (lanjut usia) – kawasan di mana lebih dari 14% sampai kurang dari 20% populasinya berusia 65+

Super-aged – kawasan di mana lebih dari 20% populasinya berusia 65+
 

Menurut definisi di atas, hanya ada sedikit populasi di Asia yang berada dalam kategori usia muda, termasuk di dalamnya Indonesia, Filipina, dan Kamboja; Tiongkok Daratan dan Malaysia berada pada kategori penuaan; sedangkan Hong Kong, Korea Selatan, dan Taiwan berada dalam kategori lanjut usia.

Sumber: “World Population Prospects 2022, Online Edition,” Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN DESA), Divisi Kependudukan, 2022.

Mengapa usia bukan hanya soal angka?

Penting untuk dicatat bahwa selain hanya mengukur faktor usia, kami juga mengadopsi sebuah konsep portofolio – yang menggabungkan berbagai statistik demografis secara holistik – untuk menentukan apakah sebuah masyarakat mengalami penuaan. Untuk memahami dampak dari penuaan terhadap pembangunan sosial dan ekonomi di dalam sebuah konteks demografis yang spesifik, sebuah konsep portofolio dapat memberikan berbagai sudut pandang yang berbeda untuk kami sehingga dapat menghasilkan cara pandang yang lebih organik.

Konsep portofolio dari statistik demografi untuk mengukur apakah sebuah masyarakat mengalami penuaan

Sumber: “World Population Prospects 2022, Online Edition,” Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN DESA), Divisi Kependudukan, 2022. Data rasio harapan hidup dan ketergantungan usia tua/support ratio berasal dari “World Population Prospects 2022, Online Edition,” Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN DESA), Divisi Kependudukan, 2022; data harapan hidup yang disesuaikan dengan kesehatan untuk wilayah selain Hong Kong dan Taiwan berasal dari “Healthy life expectancy (HALE) Data by Market,”  Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), 2020; data harapan hidup sehat untuk Hong Kong diadaptasi dari “Are We Living Longer and Healthier?” Journal of Aging and Health, 2020; dan data untuk Taiwan diadaptasi dari “Mortality, morbidity, and risk factors in Taiwan, 1990–2017: Findings from the Global Burden of Disease Study 2017,” Journal of the Formosan Medical Association, 2021.

 

 

Lebih jauh lagi, bagi banyak market di Asia, transisi dari masyarakat dalam tahap penuaan menuju masyarakat dalam kategori lanjut usia berlangsung semakin cepat. Berdasarkan Asia Health and Wellbeing Inisiative (Inisiatif Kesehatan dan Kesejahteraan Asia), Asia Tenggara dan Asia Timur saja diperkirakan akan memiliki 572,5 juta orang berusia 65+ pada 2050, yang mana, dua kali jumlahnya saat ini. Kami meyakini bahwa tantangan unik yang dihadapi Asia adalah kecepatan dari transisi tersebut, yang berlangsung 3x hingga 4x lebih cepat dari di market-market yang lain.

Kita juga dapat meninjau trajektori dari penuaan populasi di setiap market di Asia pada masa yang akan datang, yang diindikasikan oleh berapa tahun yang dibutuhkan oleh masyarakat tersebut untuk bergeser dari kategori menua ke lanjut usia. Berdasarkan informasi yang ada saat ini, kami memperkirakan Asia akan berada pada kategori lanjut usia kurang dari 20 tahun lagi (pada 2040) dan kategori super-aged kurang dari 40 tahun lagi (pada 2060).

Menurut pandangan kami, dunia yang berkelanjutan di dalam konteks ageing karenanya akan bergantung pada Asia yang berkelanjutan. Pada 2050, populasi orang lanjut usia di Asia akan menyumbang 63% dari keseluruhan angka populasi lansia di dunia serta akan memiliki fitur-fitur ageing-nya sendiri seperti telah didiskusikan (kecepatan penuaan yang terdiversifikasi, tingkatan demografis heterogen); karenanya Asia harus mengembangkan strategi pensiunnya sendiri baik dari sudut pandang pasar oleh pemerintah maupun swasta (industri). Dengan kata lain, tidak ada model yang dapat ditiru: Asia harus mengembangkan modelnya sendiri.

Total populasi Asia yang berusia 65+ di 2050

Sumber: “World Population Prospects 2022, Online Edition,” Departmen Urusan Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN DESA), Divisi Kependudukan, 2022.

Kecepatan penuaan

Sumber: “World Population Prospects 2022, Online Edition,” Departemen Urusan Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-Bangsa (UN DESA), Divisi Kependudukan, 2022.

Data tersebut memperlihatkan besarnya tantangan demografis yang harus dihadapi masing-masing market di Asia, namun selain ada risiko, ada pula peluang di sana. Yang terpenting, tidak ada satu solusi saja untuk semua masalah yang dapat digunakan oleh pemerintah. Kondisi Asia yang sangat beragam mengharuskan setiap market untuk menghadapi masalah demografinya masing-masing dengan metodologi yang sangat spesifik. Ini berarti juga market-market Asia dengan skema keterlibatan negara yang kurang komprehensif mungkin juga dapat memberikan ruang untuk inovasi serta biaya pensiun yang lebih kecil bila dibandingkan dengan market-market Barat. Market Asia dapat pula belajar banyak dari rute-rute berbeda yang tengah dieksplorasi di kawasan tersebut, seperti yang akan kami jelaskan pada bagian berikutnya, yang berfokus pada berbagai respons – baik dari pihak pemerintah maupun individu – yang saat ini tengah berlangsung di sub-kawasan Hong Kong, Taiwan, Malaysia, dan Indonesia.


 

Sumber: Malaysia: Ministry of Health Malaysia; Hong Kong: Centre for Health Protection; Taiwan: National Health Command Centre; Indonesia: World Health Organization. Semua data diakses per 15 Agustus 2022.
Hong Kong: “Total fertility rate” oleh Census and Statistic Department, HKSAR, 2022; Taiwan: Department of Household Registration Affairs, Taiwan, 2022; Malaysia: Department of Statistics, Malaysia, 2022, data per 2020; Indonesia: “Fertility rate, total (births per woman) - Indonesia” oleh World Bank Open Data, data per 2020. Data dibulatkan menjadi dua angka desimal.

Sistem tunjangan pemerintah di Hong Kong, Taiwan, Malaysia, dan Indonesia

Dengan semakin banyaknya orang di Asia yang meninggalkan angkatan kerja serta memasuki masa pensiun, beban finansial pemerintah pun bertambah. Banyak market yang mencoba untuk membuat sebuah sistem tunjangan kesejahteraan yang didanai pemerintah yang dapat membantu mengurangi beban pemerintah dengan menerapkan pendekatan campuran yang mencakup peran pemerintah, market, dan keluarga dalam penyediaan jaminan kesejahteraan serta sistem kesejahteraan sosial yang mencakup beberapa domain, termasuk di dalamnya dana pensiun, kesehatan (pelayanan kesehatan primer dan akut), serta perumahan.

Di Hong Kong misalnya, sistem kesejahteraan sosial mereka merupakan model campuran yang bersandar pada sudut pandang yang berorientasi pada pasar di mana pelayanan kesehatan ada untuk membantu masyarakat yang membutuhkan, sementara banyak domain kesejahteraan dan jaminan sosialnya yang tetap disubsidi oleh pemerintah. Walaupun sistem kesejahteraan di pasar negara berkembang belum semaju di negara-negara Barat, namun usaha-usaha untuk mencapai pendekatan yang lebih komprehensif mengenai kesejahteraan terus dilakukan, termasuk untuk pelayanan kesehatan universal.

Sumber: Legco, 2018; MPFSA, 2022. Data pensiun sosial, tunjangan anak dan keluarga dikumpulkan dari “Statistics on social protection” oleh ILOSTAT, 2022 (https://ilo/org/topics/social-protection/) ; Data pelayanan kesehatan untuk wilayah selain Taiwan disusun dari “Universal Health Care Service Coverage Index”, WHO, 2022; Data pelayanan kesehatan untuk Taiwan diadaptasi dari “Universal Health Coverage: Taiwan International Nursing Conference 2020” oleh Ministry of Health and Welfare, 2020; Data perumahan untuk Hong Kong diadaptasi dari “Population by Census 2016” oleh Census and Statistic Department, 2016; Data perumahan untuk Taiwan diadaptasi dari “Public Housing Policy in Taiwan” oleh Chang & Yuan, 2013, The Future of Public Housing: Ongoing Trends in the East and the West, p.86; Data perumahan untuk Malaysia diadaptasi dari “KPKT statistics 2020” oleh Ministry of Housing and Local Government, 2020; Data perumahan untuk Indonesia diadaptasi dari ”Indonesia-A Roadmap for Housing Policy Reform” oleh Kementerian PPN/Bappenas, 2015, hal.116.     

Sumber: Data dihimpun dari ILO, World Social Protection Database 2022 berdasarkan SSI, ILOSTAT, sumber-sumber nasional. Warna hijau mewakili kawasan Asia.

Peluang yang muncul di Indonesia, Malaysia, Hong Kong, dan Taiwan

Kesimpulan: Tantangan demografis yang dihadapi pasar Asia sangatlah berat dan serius. Namun dibalik situasi suram yang diperparah pandemi COVID-19, ada perkembangan positif yang dapat kita pertimbangkan. 

Lanskap pensiun di Asia tetap sangat berbeda dengan di Amerika Serikat dan Eropa. Tekanan-tekanan tentu saja ada, namun orang-orang semakin memiliki kesadaran secara finansial serta mau belajar, beradaptasi, dan mempersiapkan dirinya. Pemerintah juga menyadari adanya tantangan-tantangan tersebut serta terus mencari berbagai cara untuk mengatasinya. Beberapa negara, seperti Brunei, telah menaikkan batas usia pensiun, Indonesia telah menaikkan iuran Jaminan Sosial, sedangkan Thailand dan Vietnam telah meningkatkan dana pensiun non-kontribusi. Meskipun masih banyak yang dapat dan harus dilakukan dari sisi inisiatif kebijakan, namun kami yakin hal tersebut akan segera dilakukan.

Seperti telah dikatakan, pandemi COVID-19 serta kondisi yang menyusul setelahnya telah memaksa pemerintah di Asia untuk meningkatkan provisi layanan kesehatan di masing-masing negara, dan kita telah melihat berbagai inovasi baru yang menarik di bidang layanan kesehatan. Bila tujuan dari sebuah masyarakat adalah untuk meningkatkan kualitas hidup warganya, maka kondisi yang ada sekarang patut untuk dipandang dengan penuh rasa optimis.

Dari perspektif finansial, sebuah populasi yang menua akan terus menghadirkan peluang yang unik bagi industri-industri tertentu; terutama, meningkatnya jumlah populasi yang memasuki masa pensiun akan mendorong meningkatnya permintaan untuk layanan pengelolaan kekayaan. Semakin gencarnya pendidikan finansial bagi populasi tersebut akan semakin mendorong akselerasi permintaan tersebut, membantu terbentuknya sebuah masyarakat yang merasa berdaya secara finansial serta memegang kendali penuh atas masa depan finansial mereka. Namun masyarakat tidak dapat menyelesaikan masalah ini sendirian: kebijakan pemerintah memainkan peranan yang semakin penting di sini. Pelayanan kesehatan yang terjangkau dan mudah diakses adalah salah satu aspek yang penting; yang lainnya adalah adanya reformasi sistem pensiun serta pemberian insentif untuk mendorong keinginan menabung untuk masa pensiun. Dalam hal ini, market-market di Asia dapat saling belajar satu sama lain. Keberagaman Asia adalah salah satu kekuatan terbesar mereka, dan melalui keberagaman inilah dapat terbuka jalan untuk mengatasi tantangan-tantangan demografis.

Dalam artikel kami yang selanjutnya, kami akan melihat lebih jauh mengenai kesiapan pensiun di Asia, menyoroti faktor-faktor di belakang terjadinya perbedaan dana pensiun di antara gender, serta menelusuri bagaimana kesenjangan pendapatan tersebut dapat dijembatani.

 

Ucapan terima kasih

Kami sampaikan rasa terima kasih kami kepada Dr CH Peng dari Department of Social Work and Social Administration, University of Hong Kong yang telah menyumbangkan feedback untuk tulisan ini, dan Prof. Tengku Aizen Hamid dari Universiti Putra Malaysia, serta Prof. Tri Budi W Rahardjo dari Universitas Respati Indonesia, yang telah memberikan komentar mengenai provisi kesejahteraan dan proteksi pensiun di Malaysia dan Indonesia.

 

1 Manulife Investment Management melibatkan Sau Po Centre on Aging di University of Hong Kong (“HKU”) dalam kapasitas sebagai konsultan (biaya konsultasi termasuk) untuk melakukan layanan konsultasi untuk Diverse Asia leadership series

2 Hong Kong: Centre for Health Protection of the Department of Health, data dikumpulkan sejak dimulainya gelombang kelima (data sementara), per 15 Agustus 2022; Taiwan: Taiwan Centers for Disease Control, per 15 Agustus 2022. Malaysia:  The official Malaysia government website for data and insights on COVID-19, kematian kumulatif sejak merebaknya COVID-19 dari tahun 2020 (jumlah kasus kematian dalam 24 minggu terakhir, kelompok usia 60+), per 15 Agustus 2022; Indonesia: World Health Organization, jumlah kematian kumulatif sejak merebaknya COVID-19 mulai tahun 2020 per 15 Agustus 2022.