5 September 2026
Eveline Haumahu, Chief Marketing Officer PT Manulife Aset Manajemen Indonesia

Setiap orang tua tentu ingin memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya. Keinginan tersebut tidak berhenti ketika anak beranjak dewasa. Banyak orang tua tetap memikirkan bagaimana mereka dapat membantu anak membangun kehidupannya, termasuk dengan menyiapkan warisan.
Namun, di tengah keinginan untuk meninggalkan sebanyak mungkin harta, ada satu hal yang sering terlupakan: kemampuan untuk menjalani masa pensiun secara mandiri, layak, dan bermartabat.
Asia Care Survey 2026 – survei tahunan yang digelar Manulife dengan melibatkan 9,000 responden Asia termasuk Indonesia – menemukan bahwa responden Indonesia, secara rata-rata, berencana menggunakan 60% aset mereka untuk mempersiapkan masa pensiun yang mandiri dan bermartabat. Persiapan ini termasuk memelihara kesehatan, mengembangkan kemampuan diri dan sebagai modal yang dikembangkan menjadi bekal pensiun yang memadai. Sementara 40% sisanya, itulah yang akan diwariskan kepada keluarga.
Temuan ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia semakin menyadari pentingnya mencari keseimbangan antara menjaga kesejahteraan diri sendiri dan memberikan dukungan kepada generasi berikutnya. Bukan berkurangnya rasa sayang, temuan ini justru menunjukkan niat orang tua yang ingin memberi kebebasan bagi generasi penerus dari beban kewajiban menanggung orang tua saat pensiun.
Perubahan cara pandang ini menjadi semakin relevan di tengah tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini. Persaingan kerja semakin ketat, jalur karier semakin dinamis, dan biaya hidup terus meningkat. Banyak anak muda membutuhkan waktu lebih panjang untuk mencapai kestabilan finansial dibandingkan generasi sebelumnya.
“Warisan terbaik bukan selalu aset terbesar. Warisan terbaik adalah ketika anak menerima sesuatu dari orang tuanya, sekaligus tetap memiliki kebebasan untuk membangun kehidupannya sendiri tanpa harus menjadikan dirinya sebagai dana pensiun keluarga,” ujar Eveline Haumahu, Chief Marketing Officer PT Manulife Aset Manajemen Indonesia.
Dalam konteks tersebut, temuan Asia Care Survey 2026 menunjukkan cara pandang yang sehat dan seimbang. Alokasi 60% aset untuk membiayai masa pensiun sendiri dan 40% untuk diwariskan tidak berarti mengurangi kasih sayang kepada anak. Sebaliknya, pendekatan ini menunjukkan kesadaran bahwa mempersiapkan diri sendiri juga merupakan bentuk tanggung jawab kepada keluarga. Setiap keluarga tentu memiliki kondisi dan prioritas yang berbeda. Namun satu prinsip tetap berlaku: sebelum menghitung berapa banyak yang ingin diwariskan, penting untuk memastikan bahwa kebutuhan pensiun telah dipersiapkan dengan baik.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), usia harapan hidup masyarakat Indonesia telah mencapai sekitar 74 tahun. Dengan usia pensiun yang umumnya berada di kisaran 55 tahun, pensiunan Indonesia berpotensi menjalani hampir 20 tahun kehidupan tanpa penghasilan aktif. Kondisi ini menunjukkan bahwa pensiun bukanlah fase yang singkat, melainkan periode panjang yang membutuhkan perencanaan finansial yang matang.
“Niat membebaskan anak-anak kita dari kewajiban menanggung hidup kita di masa pensiun, sudah lah baik. Akan tetapi, untuk menjadi pensiunan yang mandiri, diperlukan perencanaan finansial yang kuat. Biaya hidup selama 20 tahun tidaklah murah, sehingga harus dipupuk sedini mungkin,” ujar Eveline.
Kabar baiknya, saat ini beragam alternatif bisa jadi kendaraan memupuk masa pensiun yang sejahtera. Produk-produk dana pensiun termasuk DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan), Reksa Dana dan instrumen pasar modal lainnya, dapat diakses dengan mudah oleh siapa pun di mana pun berada. Dukungan teknologi dan edukasi, serta minimum investasi yang sangat rendah, membuat siapa pun dapat segera mulai merintis bekal hari tuanya.
Pada akhirnya, rumah, investasi, dan berbagai aset lainnya memang dapat menjadi warisan yang berharga. Namun legacy yang benar-benar utuh adalah ketika orang tua mampu menjalani masa pensiun dengan mandiri dan bermartabat, sekaligus memberikan kesempatan kepada anak-anaknya untuk menjalani masa depan mereka dengan lebih bebas.
Tentang PT Manulife Aset Manajemen Indonesia
PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) yang telah hadir di Indonesia sejak tahun 1996, merupakan bagian dari Manulife Wealth and Asset Management, perusahaan manajemen investasi global yang merupakan bagian dari Manulife Financial Corporation. MAMI menyediakan solusi investasi yang menyeluruh untuk para investor melalui jasa manajemen investasi, reksa dana, dan penasihat investasi. Dengan total dana kelolaan mencapai Rp125 triliun (per Juni 2026), mengukuhkan posisi MAMI sebagai salah satu perusahaan manajer investasi terbesar di Indonesia. Beragam penghargaan dan pengakuan dari pihak eksternal dianugerahkan kepada MAMI sebagai perusahaan manajer investasi terbaik. Di antaranya adalah penghargaan Best Fund House/Best Asset Management Company (untuk yang ke-10 kali), Best Bond Manager (untuk yang ke-3 kali) dari Asia Asset Management, serta penghargaan Top Investment House in Asian Local Currency Bonds dari The Asset Benchmark Research (untuk yang ke-11 kali) serta Fund House of the Year award (Untuk yang ke-6 kali) dari AsianInvestor. PT Manulife Aset Manajemen Indonesia berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Seluruh informasi terkini mengenai MAMI serta produk-produk dan layanannya dapat diakses di manulifeim.co.id.
Pasar Asia: Saatnya lirik potensi pertumbuhan dari negara tetangga
Baca selengkapnyaIWH: The Fed hawkish seiring data inflasi yang persisten
Investment Weekly Highlights
IWH: Kenaikan yield US Treasury membayangi pasar
Investment Weekly Highlights