Selama bertahun-tahun, Asia Care Survey dari Manulife meneliti kondisi kesehatan dan kesejahteraan keuangan masyarakat di berbagai negara Asia, serta mengungkap kebutuhan, nilai, dan harapan mereka yang terus berkembang. Edisi terbaru tahun 2026, yang melibatkan lebih dari 9.000 responden dewasa di sembilan negara Asia, menyoroti satu fakta tentang umur panjang yang jarang dibahas.
Seiring dengan meningkatnya harapan hidup, masa ketika seseorang membutuhkan bantuan orang lain di usia lanjut juga semakin panjang. Di Asia, lansia diperkirakan akan membutuhkan perawatan atau dukungan finansial hingga sekitar 13–14 tahun. Periode ketergantungan yang lebih lama ini mulai mengubah cara orang memandang masa depan.
Menurut Asia Care Survey 2026, banyak orang kini mulai meninggalkan pandangan tradisional tentang warisan. Mereka lebih mengutamakan apa yang disebut sebagai “kebebasan tanpa membebani”, yaitu keinginan untuk tetap mandiri tanpa menjadi beban bagi keluarga mereka.
Ringkasan temuan utama Asia Care Survey 2026:
Lebih dari 80% orang dewasa di Asia menilai bahwa menjaga kemandirian mereka secara fisik dan finansial lebih penting dibandingkan meninggalkan aset berwujud.
“Di seluruh Asia, masyarakat sedang mengubah cara mereka memaknai warisan untuk generasi berikutnya,” ujar Steve Finch, CEO Manulife Asia. “Kemandirian telah menjadi bentuk warisan baru yang lebih baik, karena ketika seseorang mampu menjaga kesehatan dan keuangan mereka sendiri, mereka tetap mempertahankan martabatnya sekaligus memberi kebebasan bagi keluarga untuk menjalani hidup mereka masing-masing.”
Pergeseran pola pikir dari mengandalkan anak sebagai jaring pengaman di hari tua ke mempersiapkan kemandirian sendiri semakin membentuk cara orang menabung, berinvestasi, dan melindungi gaya hidup mereka. Alih-alih membangun kekayaan semata untuk diwariskan, semakin banyak orang yang memprioritaskan portofolio yang tangguh dan mampu menghasilkan pendapatan dirancang untuk menghadapi umur yang lebih panjang, ketidakpastian, dan biaya hidup yang terus meningkat.
Orang dewasa di Indonesia cenderung memprioritaskan kemandirian finansial, dengan berencana mengalokasikan 60% aset untuk membiayai kemandirian mereka dan sisanya 40% untuk anak. Secara umum masyarakat di Asia berencana mengalokasikan lebih dari dua pertiga (68%) aset keuangan mereka untuk membiayai kemandirian sendiri, dan hanya sepertiga (32%) yang dialokasikan untuk anak.
Pola pikir ini sangat terlihat di pasar seperti Taiwan, di mana orang dewasa berencana mengalokasikan 78% aset keuangan mereka untuk kemandirian diri sendiri dan hanya 22% untuk anak. Jepang juga menunjukkan angka tinggi, dengan 76% aset dialokasikan untuk membiayai diri sendiri, situasi ini menegaskan kuatnya tren kemandirian di beberapa wilayah Asia.
Seperti apa kemandirian dalam praktiknya? Responden survei berencana membiayai masa pensiun dan kebutuhan perawatan mereka sendiri melalui tabungan (79%), investasi (51%), dan asuransi (44%). Hanya 19% yang berencana bergantung pada dukungan finansial dari anak.
Seiring berkurangnya ketergantungan pada anak, peluang untuk membangun kemandirian finansial semakin jelas - namun pemanfaatan investasi masih tertinggal. Hanya 32% yang berinvestasi di saham dan 23% di reksa dana, sementara 52% masyarakat justru meningkatkan tabungan seperti uang tunai dan deposito berjangka.
Preferensi terhadap tabungan tunai masih mendominasi, bahkan di pasar yang bergerak lebih cepat. Sebagai contoh, 66% masyarakat di Filipina dan 62% di Indonesia menyatakan telah meningkatkan tabungan mereka. Sebaliknya, Jepang kembali menonjol karena minimnya aksi, dengan 28% responden mengatakan belum mengambil langkah khusus untuk memastikan kesejahteraan dan keamanan finansial di masa depan.
Di antara mereka yang meningkatkan tabungan dan investasi, terlihat tekad yang semakin besar untuk mengoptimalkan portofolio melalui solusi berbasis pendapatan (40%) dan diversifikasi (38%).
Meski terdapat pergeseran yang jelas dari ketergantungan pada keluarga, hal ini juga menyoroti kesenjangan penting. Mayoritas masyarakat masih lebih mengandalkan tabungan dibandingkan investasi untuk menjaga kesejahteraan finansial mereka. Padahal, meskipun menabung itu penting, hal tersebut saja belum tentu cukup untuk menghadapi risiko hidup yang lebih panjang.
“Terlihat jelas adanya kesenjangan antara apa yang diinginkan orang dan tindakan yang mereka lakukan. Banyak yang ingin mandiri secara finansial, namun belum memanfaatkan investasi secara optimal untuk mencapainya. Terlalu sering, perencanaan keuangan dipandang sebagai pilihan antara memenuhi kebutuhan sendiri atau meninggalkan warisan, padahal cara pikir seperti ini justru bisa membatasi,” ujar Fabio Fontainha, CEO Wealth and Asset Management Asia, Manulife.
Semakin banyak orang mulai sadar bahwa cara mengelola keuangan dan investasi perlu berubah, bukan lagi sekadar menabung, tapi beralih ke portofolio yang lebih beragam, fleksibel, dan bisa menghasilkan pendapatan yang bisa beradaptasi menghadapi inflasi, kondisi pasar yang tidak pasti, dan kejadian tak terduga. Selain itu, investasi juga perlu dimanfaatkan lebih maksimal sebagai cara utama untuk mencapai kemandirian finansial jangka panjang, terutama dengan mulai sejak dini dan memberi waktu agar hasil investasi bisa berkembang (compounding). Dengan pendekatan yang disiplin, fokus jangka panjang, dan terdiversifikasi, kita bisa lebih siap menghadapi perubahan dan ketidakpastian. Jadi, bukan hanya bereaksi saat masalah muncul, tapi sudah punya rencana sejak awal.
Tentang Asia Care Survey 2026
Asia Care Survey 2026 dilakukan selama bulan Februari hingga Maret 2026 dan mengungkap pandangan lebih dari 9.000 responden berusia 18 tahun ke atas (termasuk 60+) di sembilan pasar Asia: Indonesia, Mainland China, Hong Kong, wilayah Taiwan, Jepang, Singapura, Vietnam, Filipina, dan Malaysia.
Sanggahan: Jika terdapat ketidakkonsistenan atau ambiguitas antara versi bahasa Indonesia dan data Asia versi bahasa Inggris, maka yang diutamakan adalah versi bahasa Inggris.