Skip to main content
Back

Menyanggah mitos mengenai investasi untuk menghadapi volatilitas pasar

28 Maret, 2023

 

2022 adalah tahun yang luar biasa volatile untuk pasar finansial. Dengan jatuhnya ekuitas, obligasi, dan valuta asing secara bersamaan, kinerja portofolio para investor pun turut terkena imbasnya. Hal ini menimbulkan banyak pertanyaan mengenai pasar dan perencanaan investasi. Mari kita sanggah beberapa mitos mengenai investasi serta mendiskusikan cara-cara untuk menghadapi volatilitas pasar.

 

Mitos 1: Mengapa sebagian besar investasi saya merugi?

2022 adalah tahun yang tidak biasa bagi pasar finansial. Dengan bergulirnya pandemi, inflasi di AS, Inggris, dan Jepang mencapai titik tertinggi yang belum pernah terjadi sejak 40 tahun yang lalu, sementara di kawasan Eropa harga-harga naik mencapai level tertinggi dalam 23 tahun,1  mendorong bank-bank sentral di Eropa, AS, dan Inggris untuk menaikkan suku bunga dengan agresif. Hal ini tidak hanya mengganggu efek saling dukung konvensional dari obligasi dan saham di dalam pasar investasi – dengan berinvestasi pada kedua jenis aset, keuntungan dari salah satunya dapat menambal sebagian kerugian pada aset yang lainnya – tapi juga ekuitas, obligasi, dan valuta asing (terhadap USD) mencatatkan Imbal hasil negatif untuk pertama kali dalam setengah abad terakhir.2

Indeks ekuitas dan obligasi utama di seluruh dunia mengalami kerugian dua digit pada tahun 2022 (lihat ilustrasi di bawah) – di satu titik, indeks mengalami penurunan hingga 20% dari posisi puncak tahunannya1 – dan baik obligasi maupun saham sama-sama masuk ke dalam wilayah bear market. Pada saat yang bersamaan, mata uang pasar negara maju maupun berkembang terdepresiasi terhadap USD, menjadikan USD dan barang-barang komoditas utama sebagai satu-satunya yang mampu menghasilkan keuntungan.

Di dalam portofolio investasi terdiversifikasi, contohnya, di dalamnya biasanya terdapat ekuitas, saham, dan investasi multi-aset. Kecuali portofolio tersebut hanya sedikit atau bahkan sama sekali tidak terpapar pada aset-aset tersebut, maka sangat besar kemungkinan portofolio tersebut akan mengalami kerugian. Agar imbal hasil keseluruhan portofolio positif, sebagian besar aset di dalam portofolio tersebut akan harus memberikan imbal hasil yang positif atau dapat menghasilkan pendapatan, seperti USD, komoditas, dan deposito berjangka.

Imbal hasil kelas aset utama di 20223

  • IDB: BI mempertahankan suku bunga di 6%

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
  • IDB: Menjelang rilis pendapatan Nvidia

    Investment Daily Bread

    Baca selengkapnya
  • Seeking Alpha Februari 2024: Dampak penurunan Fed Funds Rate terhadap pasar saham Indonesia

    Seeking Alpha

    Baca selengkapnya
Lihat semua

Sanggahan: Berpikirlah (selama beberapa menit) sebelum Anda bertindak

Ketika pasar menjadi volatile, sebagian investor akan buru-buru mendivestasikan asetnya untuk mendapatkan profit atau mengurangi kerugian. Namun, sebelum mengambil keputusan investasi apa pun, penting untuk melakukan pertimbangan secara mendalam dan tidak mengikuti begitu saja sentimen pasar. Mengapa begitu?

Ketika para investor mulai melakukan investasi, masing-masing memiliki gaya (kontribusi sekaligus di muka (lump sum) atau kontribusi bulanan tetap), tujuan investasi, durasi, kelas aset yang dimiliki, serta besaran investasi yang berbeda-beda. Kapan dan dalam kondisi yang bagaimana aset-aset tersebut harus dijual, dan apakah harus dijual sebagian atau seluruhnya? Sulit untuk menentukan satu jawaban yang dapat menjawab semua pertanyaan ini secara sekaligus.

Bila Anda telah memutuskan untuk melakukan penjualan, cobalah tanyakan tiga pertanyaan ini pada diri Anda terlebih dahulu:
 

1. Apakah saya melakukan penjualan karena faktor personal atau karena ada perubahan di dalam sentimen pasar jangka pendek?
 

  • Karena aset adalah milik pribadi, investor memiliki hak sepenuhnya untuk melakukan penjualan. Namun perlu diingat bahwa keputusan investasi harus sesuai dengan tujuan pengelolaan kekayaan atau kebutuhan finansial, dan bukan karena terpengaruh oleh sentimen pasar. Bila investor terpengaruh oleh sentimen pasar dan memutuskan untuk menjual saat terjadi downturn, kerugian akan langsung terealisasi, dan mereka kemungkinan juga tidak akan memperoleh keuntungan saat terjadi rebound nanti.
  • Volatilitas jangka pendek tidak mencerminkan outlook potensial dalam investasi dan seharusnya tidak memengaruhi tujuan jangka panjang.

 

2. Apakah outlook investasi untuk kelas aset yang saya rencanakan untuk dijual telah berubah?
 

Fluktuasi jangka pendek pada harga aset mungkin saja terjadi karena perubahan sentimen pasar dan tidak serta merta berhubungan dengan outlook investasi pada jangka yang lebih panjang. Namun bila outlook tersebut memburuk, investor dapat mempertimbangkan untuk melakukan penyesuaian pada alokasi aset dalam portofolio mereka, bahkan meski saat itu tampak tidak ada gejolak apa pun di pasar. Di sisi yang lain, bila outlook-nya tampak tidak berubah, atau bahkan saat kelas aset tengah diuntungkan oleh katalis positif (misalnya karena peluang yang muncul dari peluncuran kebijakan yang suportif bagi sektor tertentu), investor dapat mempertimbangkan untuk memikirkan ulang keputusannya untuk melakukan penjualan.

 

3. Setelah menjual aset, apakah portofolio yang telah disesuaikan tersebut menyimpang dari tujuan investasi saya yang semula? Apakah imbal hasil yang diharapkan masih dapat diraih?
 

Ini adalah pertanyaan selanjutnya yang harus segera dipertimbangkan setelah menjual aset. Investor awalnya memutuskan untuk menjual aset saat terjadi downturn dengan perkiraan bahwa pasar akan terus mengalami kemunduran. Setelah melakukan penjualan, dana cash akan mengisi proporsi yang lebih besar di dalam portofolio, yang artinya alokasi aset akan menjadi bersifat lebih defensif. Bila keadaan ini terjadi jauh sebelum akhir dari masa investasi yang telah dijadwalkan, dan investor merasa bahwa alokasi yang bersifat defensif kemungkinan besar tidak akan dapat memenuhi tujuan investasi dan imbal hasil yang diharapkan, mereka harus mempertimbangkan alternatif-alternatif lain yang lebih feasible. Termasuk di antaranya dengan menjual aset yang underperform atau yang memiliki outlook investasi yang buruk dan beralih pada kelas aset lain yang sesuai dengan tujuan investasi pribadinya.

 


Mitos 2: Akankah portofolio saya mencerminkan penurunan yang terjadi di pasar?


Banyak artikel yang membahas mengenai kinerja pasar investasi di 2022 yang menjabarkan penurunan yang terjadi di antara berbagai kelas aset serta kerugian rata-rata yang dialami oleh para investor. Namun, imbal hasil pasar yang ditampilkan dalam artikel-artikel tersebut mengacu pada laba dan rugi yang dialami masing-masing kelas aset di 2022, bukan imbal hasil yang diperoleh masing-masing investor. Karena itu, data tersebut tidak merefleksikan horizon sesungguhnya dari para investor, aset yang mereka miliki, biaya investasi, alokasi aset, maupun faktor-faktor lain yang memperhitungkan keseluruhan imbal hasil dari portofolio mereka.4  

Oleh sebab itu, kerugian yang dilaporkan dalam artikel-artikel tersebut tidak merefleksikan kerugian finansial secara personal. Dan para investor semestinya tidak membuat keputusan prematur berdasarkan data semacam itu.

Sanggahan: berinvestasi secara reguler

Di masa yang sulit, bila investor ingin meredam volatilitas atau mengurangi biaya investasi mereka, sembari mengambil keuntungan dari potensi pertumbuhan jangka panjang, strategi penyamarataan biaya yang dilakukan secara otomatis (automatically executed dollar cost averaging strategy) mungkin dapat menjadi pilihan yang feasible.

Apa maksudnya? Hal ini dilakukan dengan berinvestasi dengan nilai yang sama – tanpa memedulikan fluktuasi di pasar. Hasilnya, investor akan membeli lebih banyak unit di saat harga rendah, dan lebih sedikit unit saat harga tinggi.

Apa kelebihannya? Sering kali sulit untuk menentukan waktu yang tepat untuk berinvestasi. Tiga kelebihan utama dari dollar cost averaging adalah sebagai berikut:
 

1. Investor akan berinvestasi dengan angka yang fiks berdasarkan urutan yang telah ditentukan sebelumnya, tanpa memedulikan kondisi pasar. Investasi yang dilakukan dengan strategi ini biasanya akan lebih kecil dari investasi yang bersifat lump sum. Kami meyakini bahwa strategi ini akan menguntungkan bagi mereka yang mengkhawatirkan volatilitas yang terjadi di pasar sehingga kehilangan peluang investasi, mereka yang tidak terlalu ingin mengambil risiko, tidak memiliki waktu untuk mengikuti perkembangan harga aset yang relevan, atau yang memiliki dana yang terbatas. Disiplin dalam berinvestasi sering kali memberikan kebebasan dan ketenangan yang lebih untuk Anda!

2. Saat terjadi pergerakan di pasar yang tidak terantisipasi (terjadi kenaikan maupun penurunan yang signifikan), investor yang kurang berpengalaman sering kali akan mengambil keputusan yang tidak rasional, seperti misalnya membeli di harga tinggi karena takut ketinggalan saat terjadi market rally, atau menjual di harga rendah karena takut mengalami kerugian lebih banyak saat pasar mengalami penurunan. Dollar cost averaging dapat membantu mengurangi efek negatif dari “active trading” yang tidak rasional terhadap imbal hasil investasi.

3. Saat pasar mengalami volatilitas, investor akan dapat mengumpulkan lebih banyak unit di harga yang lebih murah. Dengan strategi ini, biaya investasi rata-rata yang dikeluarkan akan lebih kecil daripada investasi dengan pendekatan lump sum di dalam keseluruhan periode investasi, yang pada gilirannya dapat membantu mendiversifikasi risiko. Bila harga aset menjadi stabil atau bahkan mengalami tren kenaikan di tengah kondisi yang tidak pasti, investor dapat memperoleh imbal hasil positif di akhir periode tersebut, dan bahkan mungkin dapat melampaui kinerja investasi lump sum.

 

 


Mitos 3: Market telah rebound, lalu mengapa portofolio saya masih underperform?

 

Sebuah portofolio investasi biasanya terdiri dari beragam aset serta mengalami berbagai perubahan nilai mengikuti kinerja aset individual serta strategi yang digunakan.

Meskipun baik obligasi dan saham mencatatkan kerugian di 2022, kerugian yang dialami ekuitas di kawasan yang berbeda (misalnya di pasar negara berkembang, Eropa, Jepang, atau AS) atau saham dengan grade yang berbeda (obligasi pemerintah yang highly rated, obligasi korporasi yang investment-grade) sangat bervariasi satu sama lainnya. Bila aset yang dimiliki di 2022 mencatatkan kerugian yang lebih/paling besar, maka persentase penurunan year-on-year nya akan lebih besar bila dibandingkan dengan 2021.

Di awal 2023, beberapa pasar ekuitas dan saham mengalami rebound, meski dengan kecepatan yang berbeda-beda. Bila aset dengan keuntungan yang lebih kecil (atau bahkan yang mencatatkan kerugian) memiliki proporsi yang besar di dalam portofolio, keseluruhan imbal hasil akan lebih kecil dari pasar. 

Saat menyusun portofolio, beberapa investor mungkin belum memiliki pandangan yang kokoh mengenai investasi mereka sendiri. Biasanya mereka hanya mengikuti saran dari keluarga atau teman, atau bahkan menyontek bentuk portofolio mereka begitu saja. Sebagai hasilnya, mereka mungkin akan memiliki strategi tunggal atau yang terlalu terkonsentrasi, terfokus hanya pada satu atau dua kelas aset. Sialnya, bila prakiraan pasar mereka meleset dan mereka memilih aset dengan kinerja terburuk sebagai holding utama mereka, persentase penurunan nilainya akan sangat signifikan karena mereka tidak memiliki eksposur pada aset-aset dengan kinerja yang lebih baik yang dapat mencegah kerugian.
 

Sanggahan: diversifikasi


Setiap orang memiliki toleransi risiko serta tujuan dan horizon investasi yang berbeda-beda. Agar dapat mengelola risiko dengan lebih baik, diversifikasi dapat menjadi cara yang efektif.

Apa artinya? Diversifikasi berarti menggabungkan kelas-kelas aset yang berbeda ke dalam satu portofolio berdasarkan tujuan investasi dan toleransi terhadap risiko masing-masing investor. Setiap kelas aset memiliki karakteristik risiko dan imbalannya masing-masing; mereka memiliki kinerja yang berbeda-beda tergantung pada posisi di dalam siklus ekonomi. Berinvestasi pada aset tunggal mungkin tidak akan cukup untuk memenuhi tujuan investasi seorang investor, dan membawa risiko terjadinya over-konsentrasi. 

Apa keuntungannya? Dengan diversifikasi, setiap aset hanya akan membentuk sebagian (dan bukan keseluruhan) dari portofolio investasi. Perbedaan masing-masing kelas aset akan menjadi tidak terlalu berpengaruh, sementara keseluruhan volatilitas portofolio akan berkurang agar dapat mengelola risiko dengan lebih baik.

Apa dampaknya? Diversifikasi tidak dapat menjamin imbal hasil positif untuk jangka waktu tertentu. Namun, bahkan meski terdapat aset dengan kinerja terburuk di dalam portofolio, keseluruhan imbal hasil investasinya tetap akan melebihi kelas aset tersebut.5

 


 

1 Bloomberg, Februari 2023

2 Hong Kong Monetary Authority (Otoritas Moneter Hong Kong), 30 Januari 2023

3 Sumber data: Bloomberg, Manulife Investment Management, data per 31 Desember 2022. Ekuitas dan imbal hasil obligasi adalah total imbal hasil dalam USD dari indeks-indeks berikut ini: Ekuitas Eropa diwakili oleh MSCI Europe Index; Ekuitas Jepang diwakili oleh MSCI Japan Index; Ekuitas Asia Pasifik ex-Jepang diwakili oleh Indeks MSCI Asia Pacific ex-Japan Index; Ekuitas dunia diwakili oleh MSCI World Index; Ekuitas AS diwakili oleh Indeks S&P 500; Ekuitas pasar negara berkembang diwakili oleh MSCI Emerging Markets Index; Ekuitas Tiongkok Raya diwakili oleh MSCI Golden Dragon Index; Obligasi Asia diwakili oleh 50% JPMorgan Asia Credit Index + 50% Markit iBoxx Asian Local Bond Index; Obligasi high yield global diwakili oleh Bloomberg Global High Yield Corporate Bond Index; Obligasi AS diwakili oleh Bloomberg Barclays US Aggregate Index; Obligasi global diwakili oleh Bloomberg Barclays Global Aggregate Index; Obligasi pasar negara berkembang diwakili oleh JPMorgan EMBI Global Core Index; Obligasi pemerintah dunia diwakili oleh FTSE world government bond index. Indeks USD mengukur kinerja rata-rata tertimbang dolar AS terhadap enam mata uang asing lainnya termasuk euro, yen Jepang, pound Inggris, dolar Kanada, krona Swedia, dan franc Swiss. Komoditas curah diwakili oleh Refinitiv/CoreCommodity CRB index. Kinerja masa lalu bukan merupakan indikasi kinerja masa depan.

4 Karena investor masih memegang aset mereka, imbal hasil keseluruhan yang disebutkan di atas mengacu pada laba atau rugi pembukuan pada tanggal pisah batas tertentu, namun bukan laba/rugi aktual (yang direalisasikan).

5 Dengan asumsi bahwa portofolio tersebut terdiri dari dua atau lebih kelas aset, dan hanya ada satu di antaranya yang memiliki kinerja paling buruk.

Confirm