Skip to main content
Back

Pendapatan rutin pensiunan di Indonesia diperkirakan sebesar 20% dari pendapatannya saat ini atau bahkan lebih rendah

  • Manulife Investment Management meluncurkan Retirement Income Forecaster (Proyeksi Pendapatan Pensiun) untuk membantu masyarakat mengetahui dan memenuhi kesenjangan pendapatan pensiun mereka
  • Tantangan makro ekonomi dalam jangka pendek dan jangka panjang semakin menekankan pentingnya menciptakan arus pendapatan pensiun yang berkelanjutan

JAKARTA – Saat ini banyak masyarakat Indonesia yang melakukan berbagai cara untuk mempersiapkan masa pensiunnya secara finansial, antara lain dengan ikut serta dalam program Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) serta membuat rekening tabungan dan investasi secara khusus dengan tujuan menciptakan arus pendapatan yang berkelanjutan di masa pensiun.  Riset yang dilakukan oleh Manulife Investment Management (MIM) mengungkapkan bahwa, secara umum, pendapatan pensiun para pekerja di Indonesia diperkirakan akan sebesar 20% dari pendapatan mereka saat ini atau bahkan lebih rendah. 

Temuan ini disusun berdasarkan hasil riset Diverse Asia yang baru diluncurkan bersamaan dengan fitur Retirement Income Forecaster atau Proyeksi Pendapatan Pensiun.  Fitur ini dapat membantu masyarakat dalam memproyeksi pendapatan pensiun bulanannya di masa depan berdasarkan usia saat ini, gaji, dan aset yang dapat diinvestasikan saat ini, termasuk kontribusi BPJS mereka. Retirement Income Forecaster memungkinkan penggunanya untuk melihat bagaimana proyeksi pendapatan pensiun mereka dapat berubah pada tahap kehidupan yang berbeda.  Hal ini dapat membantu mereka dalam mengidentifikasi kesenjangan finansial dan tindakan yang diperlukan untuk mengamankan gaya hidup di masa pensiun agar sesuai dengan impian mereka.

Emilie Paquet, Head of Strategic Initiatives and Innovation, Multi-Asset Solutions, Manulife Investment Management, mengatakan, “Retirement Income Forecaster adalah alat yang mengintegrasikan asumsi kami terhadap pasar modal dengan data portofolio investasi terkemuka.  Berdasarkan pemodelan matematis kami yang canggih dan beragam simulasi yang ketat, Retirement Income Forecaster menghitung pendapatan pensiun bulanan yang diproyeksikan dapat dicapai oleh seorang individu dengan tingkat keakuratan yang tinggi.  Kami yakin alat ini dapat membantu penggunanya untuk menyadari seberapa besar potensi dana yang bisa mereka simpan untuk masa pensiunnya berdasarkan status mereka saat ini. Setelah itu, mereka dapat mengambil langkah-langkah yang tepat untuk merencanakan masa depan keuangannya dengan lebih baik.”

Dengan menggunakan Retirement Income Forecaster, Manulife Investment Management melihat lima skenario umum para pekerja di Indonesia, yang menunjukkan bahwa pendapatan pensiun mereka diproyeksikan bisa jauh lebih kecil daripada yang mereka peroleh saat ini:

  • Skenario 1:  Seorang individu berusia 32 tahun yang telah memiliki karir yang stabil dengan penghasilan saat ini sebesar Rp 20 juta per bulan dan memiliki aset investasi sebesar Rp 10 juta.  Berdasarkan hal tersebut, proyeksi pendapatan bulanannya di masa pensiun adalah Rp 3,52 juta atau 18% dari gaji saat ini.
  • Skenario 2:  Seorang pekerja berusia 42 tahun di level manajemen tingkat menengah dengan penghasilan Rp 40 juta setiap bulan dan memiliki aset investasi sebesar Rp 100 juta.  Penghasilan bulanannya di masa pensiun diperkirakan sebesar Rp 4,41 juta, atau 11% dari penghasilan saat ini.
  • Skenario 3: Seorang pemilik usaha kecil berusia 47 tahun memiliki gaji bulanan sebesar Rp 60 juta dan aset investasi sebesar Rp 1 miliar. Penghasilan bulanan pasca pensiun yang dapat diterima orang tersebut adalah Rp 9,47 juta, atau 16% dari penghasilan saat ini.
  • Skenario 4:  Seorang individu berusia 52 tahun dengan penghasilan tinggi yang menikmati hal-hal terbaik dalam hidup dengan penghasilan Rp 100 juta per bulan dan memiliki aset investasi sebesar Rp 1 miliar. Penghasilan bulanannya di masa pensiun diproyeksi sebesar Rp 8,70 juta, atau 9% dari gaji saat ini.
  • Skenario 5: Seorang individu berusia 57 tahun yang akan pensiun, saat ini penghasilannya Rp 40 juta per bulan dan memiliki aset investasi sebesar Rp 500 juta, diproyeksikan akan memperoleh pendapatan pasca pensiun sebesar Rp 8,54 juta per bulan, atau 21% dari gaji saat ini.

Dalam sebuah survei terpisah yang diadakan oleh Manulife Investment Management terungkap bahwa masyarakat Indonesia memperkirakan mereka membutuhkan rata-rata Rp 16,52 juta setiap bulannya untuk dapat mempertahankan gaya hidup yang nyaman di masa pensiun, atau sekitar 90% dari pendapatan rata-rata mereka saat ini.1

Salah satu alasan yang menyebabkan terjadinya kesenjangan yang sangat besar antara pendapatan pensiun yang ideal dengan kenyataannya adalah karena jumlah aset yang diinvestasikan orang Indonesia porsinya relatif rendah secara persentase dari pendapatannya saat ini.  Padahal ini akan menjadi sumber pendapatan utama yang mereka butuhkan di masa pensiun.  Menurut survei yang sama, 68% penduduk Indonesia memiliki aset investasi di bawah Rp 600 juta.1  

Elvin Tharm, Senior Managing Director, Head of Retirement Proposition, Strategy and Transformation, Asia Retirement, Manulife Investment Management, mengatakan, “Jelas ada kesenjangan yang besar antara perkiraan pengeluaran di masa pensiun dan jumlah pendapatan pensiun yang mereka yakini dapat dicapai sesuai dengan status keuangan mereka saat ini. Orang-orang di Indonesia, bahkan di seluruh Asia, sedang menghadapi situasi yang sulit dalam menjembatani kesenjangan ini. Dengan inflasi, biaya kesehatan, dan kenaikan harga kebutuhan sehari-hari, daya beli uang tabungan dan pendapatan mereka akan terkikis seiring berjalannya waktu.” 

Orang Indonesia masih memiliki kecenderungan untuk menyimpan uang tunai. Mereka mengalokasikan 37% asetnya dalam bentuk uang tunai dan deposito perbankan.  Sementara itu, mereka hanya mengalokasikan 29% asetnya ke investasi seperti reksa dana, saham, obligasi, ETF, dan real estat.  Selain itu, hanya 53% penduduk Indonesia yang terdaftar di BPJS atau telah mengambil dana pensiun dari pihak swasta.1

“Mereka yang berencana mengandalkan simpanan tabungannya setelah mencapai usia pensiun akan menanggung risiko tidak memiliki sejumlah dana pensiun yang cukup. Hal ini menunjukkan bahwa ada kebutuhan mendesak bagi masyarakat dalam merencanakan kesejahteraan finansial mereka dengan lebih baik melalui cara yang efektif untuk menghasilkan arus pendapatan rutin di masa pensiunnya,” ujar Elvin.

Tantangan makro: Inflasi yang meningkat, pertumbuhan yang melemah, dan kebijakan yang lebih ketat

Inflasi selalu menjadi masalah utama di masa pensiun, dan baru-baru ini negara-negara di seluruh dunia telah melihat dampak merugikan yang dapat terjadi pada kesejahteraan masyarakat.

Dalam jangka pendek, Manulife Investment Management memperkirakan inflasi pangan dan energi akan tetap tinggi, sedangkan barang dan jasa yang sensitif terhadap suku bunga dapat mengalami disinflasi. Selain itu, kekhawatiran tentang perlambatan pertumbuhan ekonomi sedang meningkat, dan tim kami memperkirakan akan terjadi resesi di negara maju dan pemulihan ekonomi yang lebih lemah dari perkiraan di beberapa negara Asia.

Dalam jangka panjang, Manulife Investment Management masih memperkirakan inflasi akan terus meningkat, meskipun secara moderat, terutama didorong oleh faktor global dan dari sisi penawaran.  Ini akan menjadi tantangan tersendiri bagi bank sentral untuk bekerja keras dan dapat mendorong mereka untuk menghadapi inflasi yang lebih tinggi dalam jangka panjang.

Katarina Setiawan, Chief Economist & Investment Strategist Manulife Aset Manajemen Indonesia, mengatakan “Kami memperkirakan inflasi akan tetap tinggi dan pasar akan tetap befluktuasi untuk jangka waktu yang relatif cukup lama. Ini bukan kondisi makro yang ideal untuk perencanaan pensiun.  Dalam kondisi seperti ini, investor harus mempertimbangkan strategi diversifikasi multi-aset yang berorientasi pada pendapatan jangka panjang saat membuat perencanaan pensiun. Hal ini memungkinkan investor untuk mencari dan mendapatkan arus pendapatan yang berkelanjutan dari aset dengan imbal hasil yang lebih tinggi, serta berpotensi mendapatkan keuntungan dari peluang apresiasi modal yang kemungkinan tersebar di berbagai wilayah geografis dan sektor yang dapat menghasilkan imbal hasil riil di atas inflasi.”

“Dengan mengantisipasi bahwa kondisi ekonomi makro dalam jangka pendek dan jangka panjang berpotensi tetap menantang, masyarakat harus berinvestasi sejak dini dan tetap berinvestasi – bahkan saat di masa pensiun – untuk menciptakan arus pendapatan berkelanjutan yang dibutuhkan di masa pensiun. Masyarakat dapat mempertimbangkan untuk berinvestasi pada produk yang menginvestasikan kembali keuntungan yang didapatkan dari modalnya dan pendapatan yang berpotensi menghasilkan pengembalian investasi dan hasil nyata, yang dapat membantu mereka mengatasi masalah umur panjang dan masalah terkait pensiun lainnya.”

Elvin Tharm, menambahkan, “Masyarakat Indonesia harus meningkatkan jumlah persentase dari pendapatannya untuk diinvestasikan. Pemerintah telah meningkatkan batasan usia pensiun sebanyak satu tahun secara bertahap setiap tiga tahun, hingga menjadi 65 tahun. Hal ini memberikan kesempatan bagi masyarkat untuk memiliki lebih banyak waktu untuk mendapatkan dan menyimpan uang.  Faktanya, mengandalkan tabungan sebagai sarana pengumpulan dana untuk masa pensiun tidak akan cukup. Masyarakat harus meningkatkan alokasi aset mereka ke dalam produk investasi, dan mempertimbangkan untuk membuat skema dana pensiun tambahan yang didedikasikan untuk menciptakan arus pendapatan yang berkelanjutan ketika mereka pensiun.

“Kami mendorong masyarakat untuk menggunakan Manulife Investment Management Retirement Income Forecaster untuk mengetahui perkiraan pendapatan pensiun bulanan mereka, mengidentifikasi kesenjangan finansial antara pendapatan pensiun bulanandengan gaya hidup ideal yang ingin mereka capai di masa pensiun, menetapkan tujuan, dan mencari solusi investasi yang paling tepat.”

 

 

1 Manulife Investment Management menugaskan NielsenIQ untuk melakukan survei online terhadap 2.000 orang dari Hong Kong, Taiwan, Malaysia, dan Indonesia (atau 500 orang dari masing-masing negara) yang berusia 20 hingga 60 tahun pada periode antara 25 Agustus dan 6 September 2022. Riset ini bertujuan untuk menilai kesiapan dan aspirasi masyarakat dalam menghadapi masa pensiun, diantaranya dalam hal simpanan tabungan dan investasi, gaya hidup dan urusan keluarga yang menjadi pertimbangan saat merencanakan pensiun.

Tentang Manulife Investment Management

Manulife Investment Management adalah perusahaan aset manajemen global dari Manulife Financial Corporation. Kami telah beroperasi selama lebih dari satu abad dalam hal pengelolaan keuangan dan melayani nasabah ritel, institusi dan pengelola dana pensiun dari seluruh dunia. Berkantor pusat di Toronto, kapabilitas kami dalam hal pengelolaan keuangan di sektor publik dan swasta diperkuat tim investasi berpengalaman yang tersebar di 19 negara dan wilayah. Kapabilitas yang kami miliki diperkuat penyediaan akses dari jaringan perusahaan manajer investasi yang tidak terafiliasi dari seluruh dunia. Kami telah mengembangkan kerangka inovatif global untuk investasi berkelanjutan, kolaborasi dengan perusahaan yang ada dalam aset portofolio kami, mempertahankan standar yang tinggi dalam pengelolaan keuangan dimana kami memiliki dan mengoperasikan aset-aset kami, dan kami mendukung kesejahteraan finansial melalui program pensiun kami. Saat ini, banyak perusahaan di seluruh dunia yang bergantung kepada program pensiun dan keahlian investasi kami dalam membantu rencana pensiun dan pengelolaan keuangan mereka untuk dapat menikmati masa pensiun dengan nyaman. Layanan di masing-masing negara bisa berbeda. Informasi lebih lanjut mengenai Manulife Investment Management bisa kunjungi situs manulifeim.com.

Confirm